Select Page

Suatu sore, saya didatangi oleh seorang ibu, yang juga seorang guru dan juga mantan murid privat saya. Ibu ini pernah les privat kilat komputer menjelang penyusunan tesis saat masih kuliah pascasarjana, ambil master pendidikan.
Adapun kedatangannya sore itu adalah minta bantuan untuk mengedit sebuah makalah/karya tulis. Katanya sudah beberapa kali karyanya dikembalikan oleh pembimbingnya dan disuruh mengoreksi tata bahasa dan penggunaan tanda bacanya. Menurutnya, dia sudah maksimal mengeditnya tetapi masih saja dikembalikan, dan karena hampir putus asa dia minta bantuan saya.

Kenapa dia mencari saya? Bukan karena saya ahli bahasa, tetapi karena dulu dia ingat, saat penyusunan tesis saya banyak membantunya, dan dia merasa karena bantuan sayalah maka dia berhasil lulus dengan cepat (jadi sedikit GR) šŸ™‚
Sebenarnya waktu itu tidak banyak yang saya lakukan, saya hanya membantunya dalam penyusunan kalimat, memilihkan kata-kata yang pas dan komunikatif, sehingga secara keseluruhan tesisnya enak dibaca dan mudah dimengerti. Mungkin apa yang saya lakukan waktu itu cukup membantunya, sehingga dosen pembimbingnya tidak banyak menyuruhnya melakukan perbaikan-perbaikan. Dan nampaknya ibu ini emang agak lemah dalam dalam tata bahasa, penggunaan tanda baca, dan sebagainya, karena waktu penyusunan tesis itu banyak sekali kalimat-kalimat yang menurut saya (maaf), tidak seharusnya kemampuan berbahasa seseorang yang sedang menyusun tesis seperti itu. Kalau kemampuan dalam berkomunikasi lisan, saya tidak meragukannya. Saya bisa merasakannya setiap kaliĀ  bercakap-cakap dengannya. Caranya berbicara dengan bahasa tubuh yang enak dipandang, tentu sangat mempengaruhi dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Tetapi kemampuannya dalam tulis menulis memang agak lemah.

 

Saya menduga, masalahnya kali ini pun pasti sama. Benar saja, setelah saya membaca makalahnya, amat sangat banyak ada kesalahan-kesalahan dalam penulisan, misalnya, penulisan awalan “di” dan “me”. Kapan harus dipisahkan, kapan harus ada jarak spasi dengan kata dasarnya. Termasuk penempatan tanda koma ( , ) dan tanda titik ( . ) pun banyak yang salah, juga cara penulisan gelar atau titel sarjana.
Padahal waktu les privat dulu, saya sudah pernah menekankan beberapa hal umum dan aturan-aturan standar dalam penulisan bahasa Indonesia. Tetapi nampaknya dia lupa, atau memang kurang memperhatikan.
Saya menunjukkanĀ  kesalahan-kesalahan fatal dalam penulisan makalah itu, yang mungkin bagi dia nampak sepele tetapi sebenarnya sangat vital. Saat saya tunjukkan kesalahan-kesalahan itu, dia tertawa dan menyadari betul kelemahannya. Karena itulah katanya dia minta tolong saya untuk mengoreksinya.

 

Saya sendiri bukan orang yang jago bahasa, tetapi mungkin hobi membaca dari kecil yang menyebabkan saya secara tidak langsung sedikit paham dengan tata cara penulisan dalam bahasa Indonesia. Apalagi setelah bergabung di milis Bahtera, saya banyak mendapat pelajaran tentang bahasa disana.

Saya juga pernah membantu seorang kerabat, yang waktu itu sedang menyusun disertasi di bidang Kajian Budaya. Setelah penyusunan disertasi selesai, dan setelah melalui sekian kali bimbingan, maka disertasi itu akan dikirim ke Fakultas Sastra untuk diteliti oleh sebuah tim disana, bukan untuk meneliti isinya tetapi untuk melihat tata cara penulisannya, tata bahasanya dan sebagainya. Waktu itu saya baru mengerti bahwa sebuah disertasiĀ  memang melalui proses seperti itu.
Waktu itu saya sempat bilang bahwa saya bukanlah orang yang ahli di bidang itu, tetapi dia tetap minta saya melakukannya dengan alasan jangan sampai dia malu kalau terlalu banyak ditemukan kesalahan penulisan dalam disertasinya. Kalaupun ditemukan ada kesalahan, paling tidak masih dalam batas ambang “manusiawi”, katanya šŸ™‚
Disertasi setebal lebih dari 600 halaman itu pun saya baca, memang ada beberapa hal yang menurut saya salah tulis. Dan, saya merasa beruntung bisa membaca disertasi itu karena ada banyak pengetahuan yang saya dapatkan, dari tidak tahu menjadi, minimal wawasan saya bertambah luas.