Beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937 (yang jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2015). saya ngebut menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan harapan sehari sebelum hari Pengrupukan  saya bisa santai. Maksudnya,  kalau deadline ini bisa terpenuhi lebih awal, hari-hari berikutnya saya  bisa fokus hanya mempersiapkan segala ritual untuk hari Pengrupukan dan Nyepi.   Sedangkan deadline berikutnya masih cukup jauh.

Tapiiii, apa yang terjadi? Rabu malam saya mulai merasa tak enak badan. Saya merasa kepala agak “lempuyengan.” Oh, tidak! Saya tahu persis gejala penyakit apa ini, sakit yang amat saya takuti. Uyun! Tensi drop! Penyebabnya apa lagi kalau bukan kurang tidur dan kurang istirahat?

Tanpa menunda waktu lagi, saya ‘save’ pekerjaan saya tanpa mematikan PC dan langsung lari ke tempat tidur. Saya berharap penyakit ini tak berlanjut. Setelah tiduran memang terasa lebih enak tapi saya tetap was-was. Malam itu saya masih sempat nonton Jodha Akbar sebelum tidur. *Teuteup*

Esok paginya, kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Saya benar-benar tidak bisa bangun karena ‘uyun’ parah. Mungkin ini yang disebut Vertigo! Orang Bali menyebutnya ‘uyun.’ Setiap membuka mata, dinding-dinding kamar seperti berputar seolah-olah akan roboh menimpa saya. Perut mual mau muntah. Sadarlah saya bahwa saya tak terhindarkan lagi dari bedrest! Nasiibb… nasib! Lagi-lagi saya hanya bisa menyesali diri karena tidak mengindahkan isyarat dari tubuh.  Kali ini saya benar-benar menyesal. Sungguh. Selama tiga hari di tempat tidur, saya membujuk tubuh saya agar normal kembali. Plus janji-janji  tak akan semena-mena lagi. Tahun lalu saya juga sempat tepar seperti ini. Sekarang, kenapa saya melakukan kesalahan yang sama? 🙁

Tapi ada yang patut saya syukuri yaitu suhu tubuh saya tidak panas, artinya, tidak terjadi infeksi, artinya lagi… saya tak harus ke dokter untuk mendapatkan antibiotik.  Saya cukup mengenal tubuh saya. Yang saya butuhkan hanyalah istirahat total. Saya berusaha untuk makan walaupun tak kepengin sama sekali. Saya tahu, kalau saya tak makan, kondisi akan makin buruk.

Saya harus makan sambil berbaring dengan mata terpejam. Saya berusaha makan sebanyak-banyaknya. Jenis makanan/minuman yang bisa masuk hanya bubur dengan lauk telor asin + belut goreng, biskuit Regal dan teh lemon hangat. Hanya itu. Saya sempat muntah dua kali. Tapi setelah itu saya makan lagi. Lagi dan lagi. Pokoknya, saya ingin sembuh secepatnya. Saya tidak minum obat. Saya hanya minum Sangobion satu kapsul sehari untuk membantu menaikkan tekanan darah.

Akhirnya, tepat di Hari Raya Nyepi, saya baru bisa bangun. Sesuatu banget kan? Menyambut Tahun Baru Saka dengan… tepar selama 3 hari! Pelan tapi pasti kesehatan saya makin membaik dan sekarang sudah pulih seperti sedia kala.

Terima kasih, Tuhan.  Saya berjanji untuk tak semena-mena lagi pada tubuh ciptaan-Mu ini.