Lost in Translation http://dnpusparini.com Most recent posts at Lost in Translation posterous.com Sun, 20 May 2012 05:38:00 -0700 LEMBUR YANG TAK TERELAKKAN http://dnpusparini.com/lembur-yang-tak-terelakkan http://dnpusparini.com/lembur-yang-tak-terelakkan

Lama tak sempat menengok blog ini karena beberapa kesibukan yang tidak bisa ditunda. Kangen juga ngeblog lagi. Saya baru sembuh dari flu yang syukurnya tidak parah seperti dua tahun lalu. Kali ini saya hanya flu satu hari satu malam, tapi itu cukup mengganggu aktivitas saya. Walaupun demikian saya tetap bersyukur dan merasa Tuhan begitu berbaik hati memberikan saya flu tepat setelah semua deadline terpenuhi. 

Sebenarnya hari Minggu itu deadline saya hanya satu dan saya yakin bisa menyelesaikannya sebelum tengah malam karena tinggal memeriksa lagi sekali.  Sedangkan yang lainnya tidak terlalu mendesak. Tetapi siapa sangka malamnya, kira-kira pukul setengah delapan, klien lama saya, seorang pengacara,  datang dan (seperti biasa), minta tolong dengan amat sangat untuk mengedit sebuah pledoi pembelaan yang  akan digunakan keesokan paginya. Sidangnya sendiri akan dimulai pukul delapan pagi. Lalu kapan saya harus bekerja? Sementara terjemahan saya yang deadline-nya tengah malam ini belum selesai saya edit.

Saya berusaha menolak dengan halus, tapi… dengan wajah memohon penuh permintaan tolong, mana bisa saya menolak?  Akhirnya, karena tidak ada pilihan lain saya pun menerimanya dengan diiringi ucapan terima kasih yang bertubi-tubi.  Pembayaran langsung dilunasi  saat itu juga.

Saya harus menyelesaikan terjemahan ini dulu. Menjelang tengah malam  saya menyelesaikan terjemahan tersebut  dan langsung mengirimkannya via email. Setelah itu saya mulai mengerjakan pledoi ini.  Sudah ada sinyal dari tubuh saya, minta diistirahatkan.  Mata berat, kepala sedikit pusing. Mestinya harus segera dibawa tidur, tetapi itu tidak mungkin. Saya sudah janji.  Dengan mengumpulkan segenap konsentrasi dan dengan mengabaikan isyarat dari tubuh, pelan-pelan saya mengedit pledoi tersebut, tidak boleh ada kesalahan, karena tidak akan ada waktu lagi untuk memperbaikinya.  Sidang dimulai jam depalan pagi.  Begitu pesan si Bapak Pengacara tadi dengan nada minta maaf, sebelum berpamitan.  Hampir pukul tiga subuh, pekerjaan selesai.  Lega.

Pukul tiga saya baru bisa tidur, esok paginya badan  mulai terasa tidak enak, tapi masih saya abaikan. Saya  menjalani rutinitas rumah tangga seperti biasa.  Akhirnya, kira-kira pukul dua belas siang sepulang dari menjemput anak les, pertahanan tubuh ini ambruk juga.  Sepanjang siang sampai malam saya meringkuk di tempat tidur, anak saya yang sangat khawatir kalau saya sakit, sibuk melayani apa pun yang saya minta. Saya dibuatkan bubur dan teh hangat dengan perasan jeruk lemon, bergelas-gelas.  Bubur dan teh itu sangat membantu karena tenggorokan saya sakit. Gawat, gejala pancingan. Saya tidak minum obat, karena saya tahu sakit ini  hanya akibat dari kecapekan. Saya memang hampir tidak pernah  minum obat. Dalam setahun belum tentu saya minum obat sekali. Kalau pun mesti minum obat, saya pilih yang herbal. Kali ini saya yakin dengan istirahat penuh tanpa obat pun saya akan sembuh. Saya minum VCO (Virgin Coconut Oil) dan vitamin C, di samping diminum saya juga menggunakan VCO untuk membaluri seluruh tubuh karena kasiatnya yang mampu menurunkan suhu tubuh dari luar.  

Untuk gejala pancingan saya menggunakan resep turun temurun dari Ibu saya yaitu segenggam daun katu setelah dicuci bersih remas-remas dalam segelas air minum + ati bawang, kemudian disaring dan langsung diminum. Baru  minum dua kali gejala pancingan saya menghilang.

Syukurlah, hari ketiga saya sudah bisa beraktivitas normal lagi. Senin sakit, Rabu sudah pulih hampir 100%. Suhu tubuh normal, pusing kepala lenyap dan tenaga saya pulih seperti sedia kala. Tuhan sungguh baik, sekalipun saya harus sakit, tapi Tuhan mengizinkan saya untuk menyelesaikan semua “hutang-hutang” saya terlebih dahulu sebelum jatuh sakit. :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 09 Mar 2012 22:28:00 -0800 Sungguh Menyenangkan http://dnpusparini.com/109715411 http://dnpusparini.com/109715411

Pekerjaan menerjemahkan memang menyenangkan, salah satunya karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Seperti saya yang belakangan ini harus lebih sering mengantar anak les bimbingan belajar untuk persiapan UAS dan UAN yang tinggal menghitung hari. Mulai les pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00. Kalau saya hanya mengantar kemudian balik pulang, maka saya hanya buang-buang waktu di jalan, sebab begitu sampai rumah, beberapa menit kemudian harus balik jemput lagi.  Belum lagi jalanan yang macet. Jadi, saya putuskan untuk membawa laptop dan menunggunya di tempat les.

Waktu dua jam tentu sangat lumayan dan bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Biasanya saya membawa naskah yang sudah diterjemahkan dan siap disunting. Saya menunggu di ruangan admin yang juga dilintasi oleh anak-anak yang keluar masuk ruangan. Bising? Tentu, plus celoteh anak-anak yang ngobrol dengan teman-temannya. Sesekali ditingkahi suara cekikikan mereka.  Situasi yang ramai dan agak bising itu sungguh tidak menjadi masalah bagi saya. 

Pada umumnya orang biasanya bekerja lebih konsentrasi dengan suasana yang hening dan tenang, dan tidak bisa bekerja bila disekitarnya ada kebisingan. Tetapi saya tidak, anehnya, saya bisa begitu konsentrasi di antara keributan itu. Saya sama sekali tidak terganggu, dan malah merasa suara-suara itu seperti musik saja.  Saya sudah seperti ini sejak masa kuliah dulu. Kalau ada jam bebas dan tidak ada dosen, suasana kelas pasti berisik. Saya malah dengan tenang mengerjakan tugas-tugas atau PR yang mestinya dikerjakan di rumah, dengan penuh konsentrasi. Aneh? Barangkali saya memang makhluk langka. :D

Nah, ‘keanehan’ itu  bisa saya manfaatkan sekarang. :-)

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 03 Mar 2012 04:17:00 -0800 INSPIRATIF? SYUKURLAH... http://dnpusparini.com/inspiratif-syukurlah http://dnpusparini.com/inspiratif-syukurlah

Sejak tayangnya blog saya ini, saya menerima beberapa email dari ibu-ibu yang mengatakan betapa senangnya mereka membaca blog ini, yang katanya inspiratif banget. Aduh, saya jadi sedikit tersanjung. Karena biasanya sayalah yang terinspirasi oleh beberapa blog yang saya kunjungi. Tapi saya bersyukur kalau ternyata blog ini sangat inspiratif dan bermanfaat bagi mereka. Pada umumnya para ibu tersebut menanyakan bagaimana caranya kuliah di UT (karena ada beberapa postingan saya yang bercerita tentang UT). Mereka ingin kuliah lagi tapi tidak bisa mengikuti kuliah reguler karena kesibukannya mengurus rumah, suami dan anak-anaknya. Klasik, tipikal ibu rumah tangga murni :-)

Saya pun dengan senang hati menjelaskan kepada mereka, bagaimana sistem perkuliahan di UT dan bagaimana cara pendaftarannya. Untuk jelasnya, saya juga memberikan alamat situs resmi UT di www.ut.ac.id. Wah, kalau saja UT memakai sistem multi level marketing, barangkali saya sudah mendapatkan banyak bonus, hehehe. 

Pertanyaan lain yang sering saya terima adalah tentang penerjemahan, yang sesuai dengan tema blog ini,  seperti email terakhir yang baru saja saya terima dari seorang ibu, yang sekaligus diikuti dengan permintaan pertemanan di Facebook. Rupanya ibu ini menemukan blog saya secara tidak sengaja dan merasa sangat tertarik dengan isinya. Ibu ini juga ingin mendalami dunia penerjemahan. Saya sebenarnya termasuk ‘anak kemarin sore’ dalam dunia penerjemahan dibandingkan dengan para senior, walaupun secara umur saya tidak bisa dibilang ‘anak kemarin sore.’ :D

Saya dengan senang hati juga membagi apa yang saya ketahui dan yang saya alami selama ini. Saya jadi ingat, dulu di awal-awal memasuki dunia penerjemahan dengan pengalaman yang sangat minim, bahkan bisa dibilang nol, saya banyak ‘mengganggu’ para senior dengan berbagai pertanyaan. Sekarang giliran saya, dan dengan senang hati pula ‘diganggu’ seperti itu. :-)

Bukankah hidup ini bagai sebuah lingkaran yang selalu berputar? 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 01 Mar 2012 07:52:00 -0800 KLIEN BARU http://dnpusparini.com/klien-baru http://dnpusparini.com/klien-baru

Menerjemahkan modul-modul kuliah memberikan keuntungan dan kenikmatan tersendiri. Terkadang saya merasa seperti ikut kuliah ketika menerjemahkan modul-modul tersebut. Seperti kali ini saya punya klien baru mahasiswa pascasarjana Magister Manajemen. Tampaknya mahasiswa ini akan menjadi klien tetap saya sampai dia tamat. Semoga J

Si mahasiswa ini, salah satu teman suami juga, seorang bapak yang pengusaha dengan kesibukannya yang tinggi dalam mengurus perusahaannya. Hal itu menyebabkan dia kekurangan waktu dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Selain menerjemahkan, saya seringkali mendapat tugas tambahan yaitu membuat resume.

“Bu Agung, saya minta tolong Ibu untuk menerjemahkan artikel ini, terus sekalian saya minta tolong juga dibuat ringkasannya.” Itu adalah kalimat yang paling sering diucapkannya setiap hendak menerjemahkan.

Setelah beberapa kali mendapat ‘tugas’ seperti itu, suatu ketika saya menjawabnya dengan canda.

“Wah, Pak… bisa-bisa saya yang tamat kuliah duluan nih.”

Dia tertawa, “Boleh… boleh, gimana kalau Bu Agung ikut  kuliah juga di jurusan saya?”

Saya ikut tertawa, “Oh, tidak… tidak, terima kasih.”

Bagaimana saya tidak tertawa, kuliah saya di UT saja tidak tamat-tamat, mau nambah kuliah lagi?? :D

Latar belakang pendidikan saya sebelumnya adalah Ekonomi Manajemen. Tahun 2007 saya mengambil kuliah lagi di UT jurusan Bahasa Inggris Bidang Minat Penerjemahan. Semester berikutnya  adik saya mengikuti jejak saya ikut kuliah di sana. Semester berikutnya lagi, adik bungsu saya juga ikut kuliah di sana. Mereka berdua memang sama-sama menyukai Bahasa Inggris dan tertarik dengan dunia penerjemahan, sekalipun sehari-harinya mereka bergelut di bidang IT.  Salah satu adik saya sudah tamat, cukup ‘memalukan’ ya, saya yang kuliah duluan tapi disalip oleh adik yang kuliah belakangan, padahal pada waktu yang bersamaan dia juga mengambil kuliah pascasarjana di Unud jurusan Teknik Elektro. Nah, sekarang saya disuruh kuliah lagi di Magister Manajemen? Oh, tidak…. :D

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 25 Feb 2012 22:41:00 -0800 Semua Karena Internet http://dnpusparini.com/semua-karena-internet http://dnpusparini.com/semua-karena-internet

Saat ini hampir tak terbayang kalau kita tidak bisa atau tidak mengenal internet. Bahkan siswa SD pun sudah diberikan tugas oleh guru-gurunya untuk mencari tugas atau data-data di internet. Apalagi siswa di jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP dan SMA. Dunia kuliah apalagi. Bisa dipastikan mahasiswa/mahasiswi yang tidak mau belajar internet akan tergilas dan ketinggalan informasi. Sekarang adalah era informasi, bukan era globalisasi saja. Siapa yang mendapatkan informasi lebih awal, dia akan memenangkan kesempatan.

Internet bukan monopoli anak muda saja. Setiap orang yang jeli bisa memanfaatkan internet sesuai dengan kebutuhannya. Seperti saya yang telah memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas. Sebagai ibu rumah tangga yang lebih mengutamakan keluarga, dengan kesibukan antar jemput anak sekolah atau les, saya berusaha mencari peluang dan mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah dengan memanfaatkan hobi. Saya gemar membaca dan menulis, menyukai Bahasa Inggris dan sejak dulu memang sangat ingin menjadi penerjemah, terutama penerjemah novel. Sebagai orang yang suka membaca novel, tentu kegiatan menerjemah mempunyai keuntungan ganda bagi saya. Di satu sisi hobi membaca novel tersalurkan ketika proses menerjemah, di sisi lain saya tetap mendapatkan penghasilan dari hasil menerjemah ini. Enak, bukan? J

Lalu bagaimanakah caranya mendapatkan order kalau hanya berdiam diri saja di rumah? Jawabannya adalah: internet. Saya bergabung di komunitas penerjemah, rajin menyimak informasi dan pembahasan dunia penerjemahan di milis yang saya ikuti, yang memang membahas seluk-beluk penerjemahan sekaligus menangkap peluang-peluang yang dilempar oleh rekan-rekan penerjemah di sana. Saya mengikuti diskusi berbagai topik tentang penerjemahan di milis ini yang sangat membantu dalam menambah ilmu penerjemahan saya.  Saya juga memanfaatkan jejaring sosial terutama Facebook untuk membangun jaringan dengan sesama penerjemah. Setelah menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga, biasanya saya langsung berlayar di lautan internet yang maha luas itu. Selalu ada informasi berguna yang saya dapatkan setelah berselancar di internet. Saya juga memperhatikan status teman-teman di Facebook, dan sesekali berkomentar ketika ada yang menarik perhatian.

Saya berkenalan dengan beberapa penerjemah senior dan penyunting dari beberapa penerbit di Facebook. Berinteraksi lewat fitur chatting dengan mereka, diawali dengan ngobrol-ngobrol ringan. Bisa dikatakan semua klien online saya berawal dari Facebook. Novel pertama yang saya terjemahkan, informasinya saya dapatkan dari teman Facebook yang menyampaikan bahwa sebuah penerbit sedang mencari penerjemah lepas. Teman itu pun memberi tahu saya apa saja syarat-syaratnya, lengkap dengan alamat email yang harus dituju. Setelah dites, saya dinyatakan lolos kriteria mereka. Begitu pun dengan novel kedua, saya berkenalan dengan seorang penyunting di Facebook juga, yang bekerja di sebuah penerbit dan  akan menerbitkan sebuah novel klasik. Saya mengajukan lamaran ke sana dan mengirim Curriculum Vitae lewat email, setelah dites saya dinyatakan lulus. Demikian juga dengan klien lainnya dari sebuah agensi. Semua  karena internet.

Saya berusaha tetap ‘beredar’ di internet entah lewat jejaring sosial atau pun milis-milis supaya eksistensi kita terjaga. Dengan kita tetap eksis,  para klien akan sadar dengan keberadaan kita dan tidak melupakan kita.  Tentu kita harus tetap menjaga dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas pekerjaan kita. Siapa bilang internet hanya untuk chatting tak berguna? Ngalor-ngidul tanpa manfaat? Atau memberi komentar-komentar tak penting di status teman-teman kita?

Manfaat internet begitu luas, ayoo… manfaatkan untuk eksistensi kita di dunia kita masing-masing. Internet itu bagai perpustakaan semesta yang bisa diakses oleh siapa saja, yang penting kita harus pandai-pandai memanfaatkannya untuk kebaikan kita dan sesama.


 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 04 Feb 2012 21:55:00 -0800 BAHASA RUSIA? SIAPA TAKUT? http://dnpusparini.com/98166393 http://dnpusparini.com/98166393

Bahasa Rusia? Siapa takut? (Sebenarnya sih takut banget) :D. 

Dalam menerjemahkan adakalanya saya menerima bahan dalam format .doc, atau format .pdf dan tidak jarang dalam format .jpg. Saya akan senang sekali kalau bahan itu sudah dalam fotmat .doc. Tetapi itu tidak sering terjadi, yang sering adalah saya menerima bahan dalam bentuk .jpg. Kalau begini halnya saya harus mengkonversi file .jpg tersebut ke format  .doc, dan untuk itu saya biasa menggunakan ABBYY FIneReader. Selama ini tidak pernah ada masalah alias proses konversi lancar-lancar saja.

Tetapi kali ini, si ABBY tampakya lagi ngambek. Begitu membuka ABBYY bahasa pengantarnya tiba-tiba berubah jadi Bahasa Rusia. Saya bingung kenapa setting-nya  jadi berubah sendiri. Seingat saya, terakhir kali digunakan masih dalam Bahasa Inggris. Saya mencoba menghubungi adik saya yang selama ini selalu bisa memecahkan semua permasalahan yang saya alami, terutama yang berhubungan dengan komputer dan teman-temannya.
Setelah menyampaikan permasalahannya, saya pun dikasih tahu cara untuk mengembalikan semua interface ke Bahasa Inggris. Setelah mengikuti semua instruksinya, muncullah kalimat sebagai berikut:

The interface language will be changed after you restart ABBYY FineReader.

Mestinya setelah di-restart, ABBYY FineReader harusnya kembali ke setting Bahasa Inggris. Tapi nyatanya setelah di-restart, setting sama sekali tidak berubah. Saya ulangi lagi langkah-langkah tadi, tetap saja tidak ada perubahan. Saya mulai agak panik, karena file konversi ini saya perlukan segera. Saya hubungi adik saya lagi, dia bilang, seharusnya dengan munculnya kalimat itu dan setelah klik OK, setting interface akan berubah. Dia mencoba mengubah setting ABBYY di komputernya sendiri dan  berhasil. Karena di  laptop saya tetap tidak berhasil mengubah setting-nya, akhirnya dia menyarankan saya untuk datang ke rumahnya dengan membawa serta laptopnya. Dia perlu memeriksa langsung laptop saya kenapa perintah itu tidak berhasil dijalankan.

Masalah berikutnya, saya tidak  bisa pergi hari itu. Saya menarik napas menenangkan diri dan mulai “berbicara” dengan laptop saya, meminta pengertiannya.

“Tolonglah, saya perlu mengkonversi file sekarang. Apa masalahmu?”

Saya mencoba berpikir tenang. Membuka ABBYY dengan Bahasa Rusia-nya dan menatapnya lekat-lekat. Menelusuri menunya satu per satu. Bukankah saya sudah sering menggunakan ABBYY ini? Bukankah yang berubah hanya bahasa pengantarnya saja? Bukankah susunan menunya tetap sama? Apa pun bahasanya, mestinya hasil akhir akan sama saja, bukan?

Saya mulai semangat dan mengandalkan feeling, kira-kira di mana letak menu yang saya butuhkan. Saya menggeser-geser mouse dan berhenti di satu sub menu serta mengekliknya seperti yang dibisikkan oleh feeling saya. Bingo!  Saya berhasil! Ada dialog box tempat saya memilih file-file .jpg yang akan dikonversi. Saya ikuti semua prosedurnya seolah-olah saya bisa membaca semua perintahnya. Akhirnya sampailah pada langkah terakhir. File sudah tersimpan dalam format doc. Saya menarik napas lega, dan berterima kasih kepada laptop yang tampaknya mau mengerti. Tapi… di atas segalanya saya merasa Tuhan telah membimbing saya sehingga berhasil “mengerti” Bahasa Rusia tersebut. ;-)

Ah, Tuhan selalu dan selalu mengerti kapan saya benar-benar kepepet :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 15 Jan 2012 00:45:00 -0800 I am a human. Not a number. Not a digit http://dnpusparini.com/i-am-a-human-not-a-number-not-a-digit http://dnpusparini.com/i-am-a-human-not-a-number-not-a-digit

Menentukan rate terjemahan untuk seorang teman ternyata bukanlah perkara mudah. Butuh “kekuatan” besar, bahkan sebagian orang (baca: penerjemah) tidak sanggup melakukannya. :D

Suatu hari seorang teman bertanya apakah punya teman yang biasa menerjemahkan untuk pasangan Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia.  Dia ingin tahu berapa rate untuk pasangan bahasa tersebut. Saya ingat seorang teman penerjemah yang mempunyai agensi dan juga menerima pasangan bahasa itu selain Inggris-Indonesia  dan Indonesia-Inggris.  Terjadilah percakapan sebagai  berikut.

Saya : "Mas, berapa rate untuk terjemahan dari Bhs Jawa ke Bahasa Indonesia?"

AA : "Bahasa Jawa apa, Mbak? Apakah aksaranya atau Jawa tulisan biasa, atau… Jawa apa?"

Saya : "Latin, Mas."

AA : "Bahasa Jawa Madya,  Ngoko atau apa?"

Saya : "Madya."

AA : "Jumlah katanya berapa, Mbak?"

Saya : "Jumlah katanya belum tahu, Mas. Dia baru nanya rate aja dulu, katanya supaya ada bayangan harga."

AA : "Saya sama temen sendiri susah sih bilangnya. Hahahaha.  Gini aja deh, Mbak.  Saya  cuma butuh jumlah kata + budget-nya berapa.  That’s all.  Saya susah bikin rate buat temen."

Saya : "Jangan gitu dong, Mas. Ini bukan buat saya pribadi, tapi orang lain. Nanti kalau untuk saya sendiri, gratis juga boleh" :P

AA :  "Jiaaah!"

Saya : "Standar rate aja, Mas."

AA : "Waduh, sudah dibilangi Mbak Yu ini." (Tetap bersikeras tidak mau menyebut angka)

Saya : "Lha, saya mesti bilang apa ama si temen itu?"

AA : "Hehehe. Bilang aja gitu. Asli saya ini orangnya ngga enakan masalah rate, Mbak. Kecuali sama bule, saya paling kenceng."

Saya : "Ini bukan untuk  saya, tapi teman saya." (Saya berusaha membujuk dan menekankan sekali lagi)

Mas : "Lha, teman Mbak Desak kan seorang teman juga."

Saya : Walah, Dimas ini, tampaknya saya tidak berhasil membujuk dikau untuk menyebut sebuah angka." (Saya menyerah dan misi pun gagal).

AA : "Betul.  I am a human. Not a number. Not a digit."  (LOL!)

Saya : "Hihihi. Sutralah kalau begitu. Saya akan sampaikan jawaban Mas tadi."

 

Siapakah AA ini? Tiada lain tiada bukan Mas Ahnan Alex yang dikenal luas sebagai seorang penerjemah yang rendah hati.

Terbukti bahwa sangat tidak mudah menentukan rate untuk teman, bukan? :D 

Saya mengerti dan sangat memahami “kesulitan” yang dirasakan AA dalam menentukan rate untuk temannya, karena saya sendiri sering mengalami.  Di luar novel, klien saya kebanyakan teman sendiri atau teman dekat suami yang sudah biasa berkunjung ke rumah untuk sekedar  ngobrol-ngobrol.  Saya selalu merasa tidak enak hati setiap menyebutkan harga yang sebenarnya. Barangkali kasihan melihat wajah saya yang tampak gundah-gulana, sampai-sampai salah seorang di antara mereka berkata: "Bu Agung, jangan sungkan-sungkan, buatkan saya nota berapa mestinya saya bayar." (Karena suami saya bernama Agung, teman-teman suami biasa memanggil saya 'Bu Agung.')

Tetapi tetap saja sungkan saya tidak hilang, buntut-buntutnya, saya selalu memberikan harga spesial padahal mereka tidak pernah menawar.  Bukannya tidak butuh uang, siapa sih yang tidak butuh uang? Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, bukan? ;-) Masalahnya, bagaimana caranya menghilangkan perasaan “tidak enak hati” ini?  Susah juga kalau perasaan ikut “bermain” dalam bisnis. Anak saya pernah bilang: “Kalau gini halnya, ibu ngga akan pernah kaya.” :D

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Wed, 21 Dec 2011 02:54:00 -0800 Satu Malam Tanpa Internet http://dnpusparini.com/satu-malam-tanpa-internet http://dnpusparini.com/satu-malam-tanpa-internet

Sore itu saya sedang menerjemahkan artikel tentang saham dan transparansi laporan keuangan yang merupakan tugas kuliah, milik teman yang kuliah pascasarjana di jurusan Magister Manajemen. Karena materinya yang lumayan berat (menurut saya), saya perlu riset dan banyak browsing untuk mencari referensi terutama istilah-istilah dalam jual-beli saham dan beberapa istilah keuangan. Saat itu hujan lebat dan sesekali terdengar suara petir yang sayup-sayup. Saya sempat was-was dan berniat mematikan modem. Tapi saat itu saya kebetulan menemukan tautan yang dibutuhkan sehingga modem tidak jadi saya matikan. Ketika sedang asyik membaca isi tautan tersebut, tiba-tiba terdengar suara gelegar petir yang maha dahsyat dan hampir bersamaan dengan itu terdengar suara seperti ledakan berasal dari modem.

Saya kaget dan seketika terloncat dari tempat duduk dan refleks mencabut stop kontak listrik. Saya pakai Speedy dengan modem ADSL,  dan saya tahu modem itu sudah mati ketika terdengar suara ledakan tadi. Saya hanya berharap komputer yang sedang saya pakai tidak ikut terbakar. Sekian lama saya tidak berani menyalakan komputer menunggu hujan dan petir mereda. Saya lama tercenung memikirkan pekerjaan saya yang harus segera selesai karena keesokan harinya teman saya itu harus mempresentasikan tugasnya.

Setelah hujan reda saya menelpon langganan tempat saya biasa belanja alat-alat komputer, menanyakan apakah bisa membawakan modem sore itu. Saya sudah memperkirakan jawabannya tapi tetap saja saya mencoba. Benar saja, sore itu (sudah menjelang malam) dia tidak bisa datang dan berjanji akan datang esok pagi dengan membawa modem yang saya minta.  Yah, apa boleh buat, saya pun  mulai melanjutkan kerja minus internet.

Terbiasa dengan internet, terbiasa juga menggunakan kamus-kamus online, cukup tergantung dengan Kateglo dan milis Bahtera, malam itu saya terpaksa hanya mengandalkan kamus offline. Pekerjaan tidak bisa ditunda karena harus selesai esok pagi. Saya sudah berjanji dan tidak mungkin saya ingkari. Tapi saya masih bersyukur, saya sempat membaca isi tautan tadi dan masih ingat dengan poin-poinnya. Dengan bantuan kamus-kamus yang ada, akhirnya menjelang subuh selesai juga pekerjaan saya.

Sempat terpikir, dulu sebelum ada internet para penerjemah senior bisa menghasilkan terjemahan yang luar biasa. Kenapa saya begitu tergantung dengan internet? Apakah karena terlanjur 'manja'? Ah, saya kan hanya memanfaatkan teknologi yang ada? Teknologi akan mubazir kalau tidak dimanfaatkan, bukan? ;-) *Membela diri*

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 24 Nov 2011 01:06:00 -0800 Novel Klasik http://dnpusparini.com/novel-klasik http://dnpusparini.com/novel-klasik

Saya baru saja selesai menerjemahkan sebuah novel klasik yang sudah pernah diangkat ke layar lebar oleh Walt Disney. Novel yang sangat menarik dengan tokoh utama yang berkarakter unik. Novel ini bergenre anak-anak, tepatnya novel untuk segala umur (menurut saya). Sebelum mulai menerjemahkan, saya membaca sekilas dan awalnya saya merasa tidak terlalu berat. Tetapi setelah mulai menerjemahkan sekian halaman, mulai bermunculan kalimat-kalimat bersayap yang menjebak. Sepertinya idiom tapi literal, seperti literal tapi kok seperti punya makna lain. Tricky, tapi menyenangkan, karena saya selalu senang menerjemahkan  :-)

Saya memerlukan waktu cukup lama saat mengedit dan memperhalus terjemahan ini. Kadang-kadang saya terpaku cukup lama dalam sebuah kalimat karena tidak puas dengan terjemahannya. Akhirnya, saya menghubungi Mbak Rini Nurul Badariah lewat YM, yang berbaik hati meluangkan waktunya di sela-sela kesibukannya yang luar biasa untuk diskusi dan membagi pengalamannya dalam menerjemahkan buku-buku klasik. Dari Mbak Rini juga saya mendapat pelajaran bahwa buku klasik pada umumnya memang ada banyak kalimat yang menjebak dan harus ekstra hati-hati.  Bagaimana cara menyiasatinya supaya kita betul-betul bisa menangkap maknanya dan sesuai konteks. Pelajaran yang sangat berharga dan Mbak Rini juga memberikan referensi buku apa yang harus dibaca untuk menambah bekal dalam menerjemahkan buku-buku klasik. (Hatur nuhun pisan, Mbak Rini). 

Seperti juga novel terdahulu, saat menerjemahkan novel ini pun saya banyak browsing untuk lebih mengenal dan mendalami karakter masing-masing tokohnya. Tentu tidak susah untuk menemukan data-datanya, ada banyak tulisan tentang novel ini terutama tentang filmnya, karena film ini menembus box office #1 dan mendatangkan pendapatan tertinggi pada saat itu. Tidak mengherankan tentu saja, sebab ceritanya memang sangat menarik dan ada banyak pelajaran hidup di sana.

Saya ingat ketika sedang dalam proses menerjemahkan, ada beberapa adegan yang betul-betul mengharukan dan saya tidak bisa menahan air mata. Ah, barangkali saya terlalu hanyut oleh ceritanya :-) 

Novel klasik yang saya terjemahkan ini adalah novel berseri yang semuanya ada delapan buku, tapi pihak penerbit baru deal empat buku. Rencananya (kalau tidak ada halangan) saya diberi kepercayaan untuk menerjemahkan semua seri novel ini. Mudah-mudahan segera terbit dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 28 Oct 2011 00:19:00 -0700 Status Keren! http://dnpusparini.com/wahai-pemuda-pemudi-indonesia-selamat-hari-su http://dnpusparini.com/wahai-pemuda-pemudi-indonesia-selamat-hari-su

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2011 di jejaring sosial Facebook ada banyak status tentang Hari Sumpah Pemuda. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah status dari Gramedia Pustaka Utama yaitu: "Bisa berbahasa asing itu keren, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan baik & benar itu lebih keren! Selamat Hari Sumpah Pemuda".

Harus diakui bahwa banyak di antara kita yang masih kurang bagus dalam pemakaian Bahasa Indonesia, bahkan seorang dosen (maaf) tidak luput dari kekurangan ini. Seperti yang saya alami beberapa hari yang lalu, ketika mengedit tulisan seorang teman, yang juga seorang dosen. Teman saya ini, seorang ibu yang hampir sebaya dengan saya, minta tolong agar saya menyunting tulisannya. Dulu, saya juga pernah membantu menyunting tesisnya dan beberapa makalahnya sebelum dipresentasikan. Dan anehnya, kesalahan yang sama terjadi lagi. 

Seperti biasa,  sebelum memulai menyunting secara mendetail terlebih dahulu saya membaca secara global dari awal sampai akhir. Rasanya mau menangis ketika melihat tulisannya. Betapa tidak, amat banyak kesalahan-kesalahan mendasar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Si ibu ini sepertinya tidak bisa membedakan penggunaan "di" sebagai awalan atau sebagai penunjuk tempat. Hampir semuanya salah. Penggunaan tanda titik dan koma yang disambung saja dengan kata berikutnya. Penulisan titel kesarjanaan juga salah semua, begitu juga penggunaan huruf kapital. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya tulisan ini.

Saya sempat bingung mesti mulai dari mana, mood saya sempat hilang. Ada rasa kecewa karena tulisan ini dibuat oleh seorang dosen, bukan oleh siswa SD atau SMP. Harus diakui anak saya yang duduk di bangku SMA, jauh lebih tertib bahasanya dari pada si ibu ini. Sambil menatap layar komputer dengan nanar, tangan kiri menyangga dagu dan tangan kanan memainkan mouse untuk menggulung layar naik turun. Sungguh acak kadut. Berkali-kali saya menarik napas panjang. Akhirnya, komputer saya tinggal sebentar, membuat kopi,  untuk menyegarkan otak. 

Saya bukan ahli bahasa, sama sekali bukan dan juga tidak jago bahasa. Tapi... kesalahan-kesalahan yang terjadi ini bukan kesalahan kecil, tapi sangat mendasar.  Saya ingat, sebelumnya sempat ngobrol dengan Mas Ivan Lanin di YM dengan topik ini.  Ternyata Mas Ivan sendiri juga mengalami hal yang sama ketika dimintai tolong mengoreksi draft tesis tiga temannya, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang senada seperti yang saya alami. 

Terbersit pertanyaan, kira-kira apa sebabnya kesalahan-kesalahan "besar" ini bisa terjadi pada orang-orang yang bukan "orang kebanyakan?" Apakah karena mereka kurang peduli dengan Bahasa Indonesia atau menganggap kurang penting, yang terpenting adalah materi atau isi dari tulisan itu? 

Ketika saya menanyakan hal ini,  Mas Ivan menjawab: "Entahlah, Mbak. Saya tidak ingin menghakimi. Saya hanya ingin mengubah keadaan" :-)

Iya iya iya, tentu saja, saya juga tidak ingin menghakimi, karena saya bukan "hakim bahasa", hehehe.  Saya hanyalah orang yang suka dengan bahasa, dan tidak tertutup kemungkinan saya melakukan banyak kesalahan juga :D

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 17 Oct 2011 07:26:00 -0700 All The Pretty Girls: Suspense, Thriller, Romance http://dnpusparini.com/75992066 http://dnpusparini.com/75992066

Cover_pretty_girls

All The Pretty Girls, sebuah novel suspense, thriller dengan sedikit bumbu roman yang manis. Begitu banyak adegan yang menegangkan dan mencekam. Bagaimana para penegak hukum berpacu dengan waktu untuk menghentikan pembunuhan berantai dan berusaha keras mencegah adanya korban-korban berikutnya.  Tokoh penjahat di novel ini dijuluki Si Pencekik dari Selatan karena semua korban dibunuh dengan mencekiknya, dan semua korbannya adalah wanita-wanita cantik dengan ciri-ciri tertentu.

Unsur roman juga terselip di novel ini karena dua tokoh utamanya yaitu Taylor Jackson, seorang Letnan Divisi Pembunuhan dari Kepolisian Kota Nashville, mempunyai hubungan cinta dengan Dr. John Baldwin, seorang profiler FBI. Dalam novel ini dikisahkan kedua orang tersebut sebenarnya sudah menjalin cinta sebelum mereka menangani kasus pembunuhan ini. Tetapi Taylor terpaksa menyembunyikan hubungan kasih mereka di depan rekan-rekannya karena ia takut dinilai yang tidak-tidak oleh teman-temannya. Masalahnya, pada saat penanganan kasus tersebut, pihak Kepolisian Kota Nashville sempat merasa tidak senang dengan ikut campurnya petugas FBI di wilayah mereka. Mereka merasa, untuk apa FBI ikut campur menangani kasus ini, bukankah ini hanya kasus pembunuhan biasa lalu kenapa FBI mesti turun tangan? Merasa merasa sedikit “dilecehkan” dan merasa dianggap kurang mampu. Mereka belum tahu bahwa ini adalah kasus luar biasa yang mengharuskan FBI ikut campur.

Penggemar suspense dan thriller akan terpuaskan oleh novel ini. Alur cerita yang cukup cepat, banyak hal tak terduga, rincian yang sangat detail, sungguh membuat para pembaca akan terpacu dan penasaran.  Selama proses penerjemahan, saya beberapa kali mencoba menduga-duga siapa sebenarnya Si Pencekik ini dan apa motivasinya. Dan beberapa kali pula dugaan saya meleset, padahal sebelumnya, sebagai orang yang gemar membaca novel, dalam beberapa novel  saya berhasil menebak alurnya dan tokoh penjahatnya. Tapi kali ini saya gagal, karena penasaran, akhirnya saya menyelesaikan dulu membacanya sampai akhir setelah itu barulah lanjut menerjemahkan lagi.  Cukup mengagetkan, si tokoh penjahat adalah pria muda yang rupawan dengan senyum menawan. Sehingga ia begitu mudah menjerat para calon korbannya dengan senyum innocent dan wajah malaikatnya.

Tentang rincian yang begitu mendetail dalam novel ini tidaklah mengherankan. Sang penulis, JT.Ellison benar-benar mempersiapkan novelnya dengan sempurna. Melakukan riset yang tidak tanggung-tanggung, terjun langsung ke Kepolisian Kota Nashville dan mendapat bantuan sepenuhnya dari sana. Begitu juga dari FBI, sehingga membuat novel ini begitu hidup. Tidak heran kalau akhirnya JT.Ellison mendapatkan banyak penghargaan dan pujian dari para penulis terkenal lainnya.

All The Pretty Girls adalah buku pertama dari tujuh buku dengan tokoh utama Taylor Jackson. Buku lainnya yaitu: 14, Judas Kiss, The Cold Room, The Immortals, So Close The Hand of Death dan Where All The Dead Lie.

Penasaran dengan kisah lengkapnya? Dapatkan bukunya di toko-toko Gramedia terdekat. Dijamin tidak menyesal *promosi* :-)

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Wed, 31 Aug 2011 22:20:00 -0700 Proyek "Minta Tolong" http://dnpusparini.com/proyek-minta-tolong http://dnpusparini.com/proyek-minta-tolong

Seminggu yang lalu ada kerabat minta tolong saya untuk menyunting tesisnya. Sudah beberapa kali saya menyunting tesis dan sebenarnya saya menyukai pekerjaan ini. Karena selama menyunting, secara tidak langsung saya menyerap isi dari tesis tersebut dan selalu ada pengetahuan yang bisa saya ambil. Tetapi yang jadi masalah adalah: waktu. Kenapa ya, si pemilik tesis selalu memberikan tenggat waktu yang sangat mepet? Dan kenapa pula saya tidak bisa menolaknya, padahal di waktu yang bersamaan saya sedang mengerjakan terjemahan yang harus segera diselesaikan sesuai janji saya. Sebenarnya, saya sangat ingin menolak atau  minimal minta tenggat waktu yang lebih panjang, tetapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Si pemilik tesis yang baru saja selesai ujian tesis dan sudah dinyatakan lulus, namun ada beberapa perbaikan terutama sekali dalam tata penulisannya. Saat itu dia datang hari Senin, dan hari Rabu berikutnya adalah pendaftaran terakhir untuk wisuda. Sedangkan persyaratan untuk wisuda adalah harus menyertakan tesis yang sudah diperbaiki.

Saya bilang, kenapa mendadak? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sehingga saya punya waktu yang cukup? Dia bilang, dia sudah berusaha memperbaiki sendiri, tetapi ternyata kurang memuaskan sang dosen pembimbing. Akhirnya, karena kepepet dia mencari saya. Dia pernah mendengar dari beberapa temannya bahwa tesis yang saya sunting hampir semuanya lolos dari penilaian dosen pembimbing. Bisa jadi hanya kebetulan, atau gaya penulisan saya cocok dengan selera sang dosen. Saya masih berusaha menawar waktu, karena untuk menolak saya tidak sanggup. Tetapi dengan pandangan memelas dan penuh permintaan tolong, dia bilang, waktu tidak bisa diundur, atau dia terpaksa tidak bisa ikut wisuda periode ini dan harus menunggu periode berikutnya lagi sekian bulan. Untuk itulah dia minta tolong dengan amat sangat. Si pemilik tesis, seorang ibu, guru SMA, kalau menunggu periode berikutnya berarti dia harus bayar SPP lagi disamping rugi waktu. 

Akhir kata, saya pun tidak bisa berkata-kata lagi. Saya selalu tidak sanggup menolak permintaan tolong orang yang betul-betul butuh. Saya merasa jadi orang jahat ketika menolak orang yang butuh bantuan.  Si pemilik menunggui saya kerja. Saya berusaha fokus dan bertekad untuk langsung menyelesaikannya malam itu. Karena esoknya, saya harus fokus ke terjemahan supaya selesai tepat waktu karena sudah berjanji sebelumnya.  Tepat pukul dua subuh, pekerjaan saya selesai. Saya melihat betapa leganya ibu itu. Saya walaupun capek, tapi ikut senang melihat wajahnya yang lega. 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Tue, 12 Jul 2011 02:22:00 -0700 Konsistensi Penokohan Dalam Sebuah Novel http://dnpusparini.com/konsistensi-penokohan-dalam-sebuah-novel http://dnpusparini.com/konsistensi-penokohan-dalam-sebuah-novel
Sebenarnya saya sangat ingin menulis novel. Tetapi nyatanya saya tidak pernah memulai. Ide sudah ada di kepala, hanya saja tidak tahu harus mulai dari mana. Saya sempat menulis beberapa cerpen yang masih tersimpan rapi di hard disk komputer saya. Semua cerpen itu terinspirasi dari kejadian di sekitar saya, atau pun dari cerita dan pengalaman teman-teman. Membuat novel pastilah lebih sulit daripada membuat cerpen, karena yaa...cerpen lebih pendek tentu saja :-). Sedangkan untuk membuat novel, disamping harus memiliki kemampuan menulis juga sedikit banyak harus melakukan riset yang berhubungan dengan cerita dalam novel.

Saya baru saja selesai membaca novel yang setting-nya di Bali dengan tokoh-tokoh utamanya adalah orang-orang Bali. Saya menikmati novel ini dan menyukai bahasanya yang ringan,  bersahaja dan mengalir begitu saja. Membumi. Tetapi ada yang agak mengganggu saya, yaitu tentang latar belakang tokoh utamanya. Di awal-awal disebutkan bahwa sang tokoh ini adalah seorang suami yang sarjana sastra dan sang istri yang sarjana ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh dialog suami istri tersebut:


"Kita berdua sarjana, kau sarjana sastra dan aku sarjana ekonomi...bla...bla...bla."

Kemudian di halaman pertengahan ada percakapan lagi antara pasangan tersebut:

Istri: "Jangan bicara ilmu tata bahasa mentang-mentang kau jurusan Sastra Indonesia. Kagak tamat aja belagu, uh!"
Suami menjawab: "Tidak tamat tapi cerdik pandai."

Dari sini terlihat ada ketidakkonsistenan tokoh 'suami' tersebut. Ternyata tokoh 'suami' itu belum tamat yang berarti seharusnya dia belum sarjana.

Kemudian di halaman lain, salah satu tokohnya yaitu seorang gadis ningrat yang cantik dipanggil dengan nama panggilan 'Gung Geg'. Tetapi, di pertengahan novel ada percakapan yang diucapkan oleh tokoh gadis cantik ini, sebagai berikut:

"Aku sering tidak mengerti dengan segala tetek bengek yang ada di dalam keluarga besarku sebagai keluarga berkasta Brahmana."

Di sini saya melihat ada yang tidak sinkron. Di Bali 'Gung Geg' adalah nama panggilan untuk seorang gadis yang berasal dari kasta/Wangsa Ksatrya (dari Catur Wangsa). Wangsa ini pada umumnya namanya diawali dengan Anak Agung/Anak Agung Ayu/Anak Agung Istri, Cokorda/Cokorda Istri, Dewa/Dewa Ayu/Desak, I Gusti Agung/I Gusti Ngurah, dan ada lagi beberapa yang lainnya. Sedangkan Wangsa Brahmana pada umumnya namanya diawali dengan Ida/Ida Bagus/Ida Ayu. Dan panggilan untuk gadis dari Wangsa Brahmana adalah 'Dayu Geg' atau 'Dayu' saja. (Di sini saya tidak membahas sistem kasta/wangsa, tetapi hanya menyatakan bahwa sistem nama/gelar tersebut masih dipakai dalam masyarakat Bali). 

Jadi, kalau nama panggilannya 'Gung Geg', maka  bisa dipastikan gadis tersebut bukanlah dari Wangsa Brahmana, tetapi dari Wangsa Ksatrya. Saya melihat ada ketidakkonsistenan lagi dalam penokohan di novel ini. Saya tidak bermaksud mencari-cari kesalahan, sama sekali tidak (Lagian, siapa sih saya, mencari-cari kesalahan orang? :-) Saya hanyalah penikmat novel). Saya pun tidak sengaja dan tidak bermaksud mencari-cari ketidakkonsistenan ini. Mungkin hanya kebiasaan saja, setiap saya membaca buku atau novel, nama-nama dan karakter tokohnya langsung melekat di memori saya. Seperti tokoh 'suami' tadi, informasi pertama yang diterima oleh otak saya adalah, si suami itu seorang sarjana. Tetapi, begitu ada informasi lain yang bertentangan dengan informasi pertama, ingatan saya langsung 'protes'. Tanpa sadar, saya mencari data informasi yang pertama untuk mencocokkan dengan informasi yang kedua. Begitu juga tokoh 'Gung Geg' itu. Informasi yang sudah masuk duluan ke dalam memori saya adalah 'Gung Geg' ini dari Wangsa Ksatrya. Tetapi begitu disebutkan bahwa tokoh itu adalah dari Wangsa Brahmana, maka ingatan saya pun 'protes' untuk yang kedua kalinya.

Hal ini menjadi catatan bagi saya bahwa mengarang novel bukanlah perkara gampang. Di samping ide, ada banyak hal yang harus diperhitungkan dan sedikit banyak harus melakukan penelitian juga. Saya selalu salut dengan seseorang yang mampu mengarang novel. Bayangkan, mereka seperti tidak kehabisan kata menyusun sekian ribu atau puluhan ribu kata hingga terbentuklah sebuah novel yang mampu menarik perhatian pembaca.

Terlepas dari ketidakkonsistenan tersebut di atas, novel  ini cukup menghibur dan terutama sekali memberikan saya pelajaran bahwa pengarang harus memperhatikan dengan cermat semua tokoh yang digambarkannya agar tetap konsisten dari awal sampai akhir  (Siapa tahu kelak, saya benar-benar kesampaian menulis sebuah novel) :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 20 Jun 2011 23:12:00 -0700 Menikmati Novel Sambil Belajar http://dnpusparini.com/menikmati-novel-sambil-belajar http://dnpusparini.com/menikmati-novel-sambil-belajar

Akhirnya, selesai juga saya membaca novel The Lost Symbol ini yang sudah sangat lama saya inginkan,  tetapi belum kesampaian karena ada pekerjaan yang lebih mendesak. Nah, begitu ada waktu saya langsung 'melahapnya'. Novel setebal 712 halaman karya Dan Brown ketiga dengan tokoh Robert Langdon ini begitu memikat saya. Salah satu faktor yang membuat saya agak lama menyelesaikan membacanya karena saya berlama-lama menikmati setiap kata dan setiap kalimatnya. Bahkan kalau ada yang kurang saya pahami, saya akan membacanya berulang-ulang sampai benar-benar paham. Hal ini saya lakukan, di samping ingin menikmati ceritanya juga ingin mempelajari terjemahannya untuk menambah pengetahuan. Sebagai penerjemah yang baru memasuki dunia penerjemah secara profesional, saya menyadari harus banyak membaca karya-karya terjemahan untuk menambah wawasan dan memperkaya perbendaharaan kata.

Dari sekian ratus halaman itu, ada satu kata yang baru pertama kali saya jumpai yaitu "rampa". Walaupun saya bisa memahami maknanya berdasarkan konteks secara keseluruhan, tapi saya tetap ingin tahu apa definisi "rampa" itu. Dan di Kateglo saya menemukan definisi lengkapnya, saya cek juga di KBBI Daring

ram·pa n titian yg menghubungkan kapal dng dermaga.

Ah, nambah satu lagi kosakata saya.

Sama seperti ketika saya membaca Angels dan Demons, kemudian The Da Vinci Code, lalu The Lost Symbol ini yang merupakan sebuah trilogi, saya selalu terkesima dengan semua gambaran, setting yang begitu hidup dan mempesona. Saya membayangkan betapa riset yang dilakukan oleh Dan Brown untuk menciptakan novel trilogi ini. Hanya ada sedikti perbedaan yaitu, pada saat saya membaca dua novel terdahulu, saya tidak terlalu memperhatikan bahasanya, tetapi lebih fokus pada isinya karena pada saat itu saya belum mengenal Bahtera, belum menjadi anggota milis Bahtera dan belum mengenal seluk-beluk dunia penerjemahan.  Tetapi saat ini beda. Setelah menjadi member milis Bahtera dan hampir setiap hari mengikuti diskusi di sana, saya jadi lebih 'sensitif' dengan bahasa.

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya belajar banyak. Terutama sekali saya memperhatikan kata-kata yang dicetak miring. Saya jadi belajar banyak, bahwa memang ada beberapa kata yang susah dicari padanannya dan dibiarkan saja dalam bahasa aslinya. Saya ingat, ketika menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada beberapa istilah yang susah dicari padanannya dan saya biarkan tetap dalam bahasa aslinya,  Memang, penerjemah disarankan semaksimal mungkin untuk tidak meninggalkan kata-kata dalam bahasa asing, tetapi kalau memang susah dicari padanannya, yah, terpaksa dibiarkan saja daripada dipaksakan diterjemahkan yang malah akan membuat hasil terjemahan jadi aneh.

Begitu besarnya ketertarikan saya akan novel ini dan keinginan untuk mempelajari penerjemahannya, setiap ada frasa baru yang kurang jelas, saya mencari kalimat aslinya di versi bahasa Inggris (saya mempunyai The Lost Symbol versi asli dalam format .pdf). Dan, saya benar-benar menikmati proses membaca novel ini. 

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 17 Jun 2011 10:36:00 -0700 Editor Dadakan http://dnpusparini.com/editor-dadakan http://dnpusparini.com/editor-dadakan

Dua minggu terakhir ini saya punya murid baru, murid privat komputer. Seperti biasa, murid-murid privat saya selalu membawa pekerjaan kantornya dan materi yang saya ajarkan memang mengikuti apa kebutuhan mereka. Begitu juga yang ini, murid saya adalah karyawati hotel  yang harus membuat berbagai jenis laporan.


Yang menarik adalah, si murid ini terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris tapi lemah dalam tulis-menulis. Karena sebelum menempati posisinya yang sekarang, di tempat kerjanya yang terdahulu, posisinya mengharuskan dia selalu berhubungan langsung dengan tamu-tamu mancanegara dan jarang menulis. Jadi, tidak heran bahasa lisannya cukup bagus.

Nah, ketika dia menempati posisinya yang sekarang, dia harus lebih banyak di depan komputer dan membuat laporan tertulis yang nota bene dalam Bahasa Inggris. Di sinilah dia mulai merasa mengalami kesulitan karena jarangnya menulis dalam Bahasa Inggris, sebab selama ini lebih banyak berkomunikasi secara lisan.  Seperti sore tadi, ketika dia membawa draft pekerjaan kantornya. Sebelum mulai memberi petunjuk tentang bagaimana caranya untuk mengerjakan pekerjaannya itu, terlebih dahulu saya membaca dan memperhatikan dengan seksama supaya saya juga jelas apa yang dibutuhkannya.

Saat itulah saya menyadari ada begitu banyak kesalahan dalam penulisannya, yang tadinya saya kira hanya sebuah typo. Tapi kemudian saya yakin itu bukan typo karena ada begitu banyak kesalahan tulis bahkan untuk kata-kata yang sangat sederhana. Saya merasa bersalah kalau tidak memberitahu kesalahan tulis tersebut. Maka, saya pun menunjukkannya. Eh, dia tertawa dan mengakui kekurangannya. Dia menyadari hal itu karena selama ini dia lebih banyak berkomunikasi secara lisan dan agak lupa dengan penulisannya. 

Akhirnya, sejak itu, selain menjadi guru privatnya, saya juga menjadi editor pribadinya setiap dia membawa dokumen yang hendak dikerjakan. Kalau dipikir-pikir saya kebalikan dari dia. Untuk bahasa Inggris, saya lebih suka menulis dan membaca (dan menerjemahkan tentu saja) dari pada berbicara. Maklum, karena tidak ada lawan bicara sehari-hari  di rumah atau pun di seputar lingkungan saya, maka bisa dimaklumi dalam bahasa percakapan saya cukup belepotan. 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 14 May 2011 08:22:00 -0700 Belajar Etika Penerjemahan http://dnpusparini.com/belajar-etika-penerjemahan http://dnpusparini.com/belajar-etika-penerjemahan

Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan secara
profesional, saya belum tahu terlalu banyak tentang etika
penerjemahan. Ketidaktahuan itu membuat saya berhati-hati dalam
bertindak. Apalagi yang berhubungan dengan editor dan penerbit.
Maklumlah, sebelum ini saya lebih banyak menerjemahkan modul-modul
kuliah mahasiswa pascasarjana, yang notabene saya bertatap muka
langsung dengan klien, dan hampir semuanya saya kenal cukup dekat, karena sebagian besar tetangga di kompleks perumahan saya.  
Kalau pun ada klien yang betul-betul orang baru, pastilah klien
tersebut diperkenalkan oleh klien lama. Jadi, di sini tidak ada peran
editor atau orang ketiga.

Ketika pertama kali berhubungan dengan penerbit dan editornya, saya
banyak bertanya dengan para senior bagaimana etika berhubungan dan
berkomunikasi dengan editor. Saya paling takut melanggar etika dan
membuat orang kecewa, jadi lebih baik saya agak rewel bertanya. Terima
kasih dan maaf untuk Mbak Rini Nurul Badariah yang paling sering
diganggu oleh kerewelan saya. GBU always, Mbak :-)

Seperti ketika saya menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada
satu kejadian/adegan di mana penulis menggambarkan keahlian seorang
detektif seperti seseorang di dunia nyata, yaitu seorang matematikawan
dari Amerika yang ahli dalam bidang teori permainan dan ahli
memecahkan kode seperti yang sedang dilakukan oleh sang detektif pada
saat itu. Hanya saja ada yang mengganjal saya yaitu nama matematikawan
yang disebut dalam novel tersebut adalah Sam Nash, sementara nama yang
sebenarnya sependek pengetahuan saya dan hasil dari googling untuk
lebih meyakinkan adalah: John Nash. Ada perbedaan nama depan.

Saya lama berpikir, apa yang harus saya lakukan dengan nama ini?
Apakah dibiarkan begitu saja sesuai teks asli di novel tersebut?
Walaupun nama tersebut jelas-jelas salah (setidaknya menurut saya)?
Kalau dibiarkan, saya sendiri merasa tidak tenang. Akhirnya saya
bertanya ke Milis Penerjemah Buku dan menceritakan permasalahannya.
Dari milis inilah saya mendapat input, bahwa sebaiknya tanyakan saja
langsung kepada si pengarang kalau memang ada yang meragukan dalam
novel tersebut. Saya bertanya, siapakah yang lebih pantas bertanya
kepada si pengarang, penerjemah atau editor? Saya khawatir
menyalahi/melangkahi wewenang editor. Kemudian para
senior di sana memberi penjelasan bahwa sebaiknya penerjemah
menyerahkan terjemahan sesempurna mungkin tanpa catatan untuk editor.
Dengan kata lain editor akan senang sekali kalau terjemahan yang
diterimanya sudah 'bersih' tanpa ada catatan. Jadi, kalau memang ada
sesuatu yang meragukan si penerjemah bisa berhubungan langsung dengan
si pengarang tanpa harus menunggu editor.

Setelah mendapat penjelasan yang panjang lebar dari para senior
(penerjemah yang terkadang berperan sebagai editor juga), maka saya
tidak ragu lagi untuk menghubungi pengarang. Di era internet ini,
sudah bisa dipastikan setiap pengarang pasti mempunyai situs pribadi dan
kita bisa menemukannya dalam beberapa detik melalui mesin pencari.
Akhirnya saya menemukan alamat email si pengarang, dan saya langsung
mengiriminya surat minta klarifikasi tentang nama matematikawan
tersebut. Besoknya saya langsung menerima jawabannya.

Hi Desak,
Yes, that was a typo that was corrected in later issues.
Thanks for reading! So glad you enjoyed the book!

Ohh, alangkah leganya, hilang sudah ganjalan saya.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 09 May 2011 05:35:00 -0700 Akhirnya... http://dnpusparini.com/akhirnya http://dnpusparini.com/akhirnya

Setelah selama ini hanya menerjemahkan modul-modul kuliah untuk mahasiswa pascasarjana dan dokumen-dokumen pendek seperti surat perjanjian kontrak, atau pun surat penawaran, dan juga abstrak untuk tesis, akhir bulan Februari kemarin mendapat kesempatan untuk menerjemahkan sebuah novel. Setelah melalui test, saya dinyatakan lulus untuk menerjemahkan sebuah novel yang bergenre thriller detektif. Walaupun saya menyukai hampir semua jenis bacaan, tapi mendapatkan novel dengan genre seperti ini terus  terang membuat saya sangat gembira. Saya memang sangat menyukai bacaan yang seru dan menegangkan, apa lagi ada bumbu-bumbu spionase atau detektif.

Saking gembiranya, saya tidak terlalu memikirkan waktu pengerjaannya. Ketika pihak penerbit memberikan waktu 4 minggu, saya hanya menawar lagi 2 minggu, sehingga waktu yang diberikan adalah 6  minggu untuk novel setebal 411 halaman. Saya pun menerimanya tanpa banyak mikir. Tetapi ketika saya berbincang-bincang dengan penerjemah senior yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi penerjemah, mereka cukup  kaget karena saya berani menerima tenggat waktu yang pendek, Mereka bilang, saya mestinya minta waktu antara 10 minggu sampai 16 minggu. Saya bengong. Ya, ampun, beraninya saya. Tapi karena sudah terlanjur menyanggupi waktu 6 minggu, yah, saya harus bertanggung jawab.

Setelah berjibaku selama 6 minggu, ternyata belum selesai semua, kurang sedikit lagi bab-bab terakhirnya. Saya pun menghubungi editor dan dengan jujur mengatakan ada bab yang belum selesai, dan mengirimkan pekerjaan yang sudah saya selesaikan. Saya  minta tambahan waktu, dan menerima konsekuensinya yaitu terkena pinalti sesuai kesepakatan awal.  Dan, di luar dugaan, saya malah diberikan tambahan waktu lagi dua minggu. Tambahan waktu yang cukup besar itu menyebabkan saya mempunyai kesempatan untuk memeriksa dengan lebih teliti lagi hasil terjemahan tersebut. Saya berterima kasih dengan editor yang telah berbaik hati memberikan tambahan waktu yang cukup longgar, dan saya pun bertekad untuk membuat sang editor tidak terlalu berat menyunting pekerjaan saya. Dan, ternyata lagi... saya tidak dikenai pinalti :-)

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 05 May 2011 08:59:00 -0700 Kelebihan spasi yang bikin bingung http://dnpusparini.com/kelebihan-spasi-yang-bikin-bingung http://dnpusparini.com/kelebihan-spasi-yang-bikin-bingung

Hari Minggu kemarin ini, saya "ditodong" lagi, menerjemahkan sebuah
dokumen surat perjanjian, dengan tenggat waktu yang sangat pendek
(pendek menurut saya karena belum begitu lama masuk ke dunia
penerjemahan) dan lagi-lagi saya tidak kuasa menolak. Seorang bapak,
dan saya kenal baik dengan istrinya, inilah penyebab utama saya tidak
bisa menolak. Istrinya mantan murid privat saya dan saya pernah
diminta me-review tesisnya saat dia mencari gelar Master Pendidikan.
Dan, si bapak ini datangnya menjelang sore, minta terjemahannya supaya
selesai malam itu, karena akan dipakai esok paginya pukul 7.30.

Saya sempat menolak kalau tidak dikasih waktu yang lebih panjang,
tapi.....pandangannya yang memelas membuat saya tidak tega. Saya
merasa tidak enak, pikir saya, kalau tidak perlu sekali, tidak mungkin
dia memohon-mohon seperti itu. Padahal hari Minggu itu saya punya
jadwal menyetrika, setrikaan yang menggunung :-)
Tapi akhirnya perasaan yang menang. Hanya saja saya bilang, saya akan
usahakan selesai malam itu, kalau tidak bisa, paling telat esok
paginya pukul 7.00. Saya membaca dan mempelajari teks tersebut yang
jumlahnya 5 halaman A4 dengan jarak spasi 1,5 terdiri dari 7 pasal.
Sebuah surat kontrak perjanjian kerja sama antara sebuah hotel dengan
sebuah perusahaan yang akan melakukan perawatan (maintain) untuk semua
kolam renang yang ada di hotel tersebut. Si bapak ini mewakili pihak
perusahaan.

Saya pun mulai mengerjakannya. Di awal-awal lancar-lancar saja, dan
saya bersyukur teksnya tidak terlalu sulit, dan yakin pasti bisa
selesai malam itu. Sampai kemudian saya menemukan sebuah frasa yang
membuat saya bingung.


"The amount is subject to any applicable with holding taxes will be
on the FIRST PARTY’S account."


Yang membingungkan adalah "with holding taxes", maklum, saya kurang
familiar dengan bahasa-bahasa hukum. Saya berusaha googling dan
mencari makna frasa itu. Tapi nihil!. Sekian menit saya terpaku di
frasa tersebut. Mulai panas dingin, khawatir tidak bisa selesai malam
itu. Aduh, gawat! Sempat bertanya sama seorang teman yang kebetulan
sedang online, tapi dia sendiri juga ragu, dan tidak berani memberi
saran. Karena dia juga awam dengan kalimat-kalimat dalam bahasa hukum.
Di tengah-tengah kebingungan, tiba-tiba saya melihat ID adik saya
online di Gtalk. Wah, ada harapan. Saya langsung nge-chat dia dan
menanyakan frasa tersebut. Saya menyalin-rekat satu kalimat tersebut
supaya adik saya bisa melihat konteksnya dengan jelas.

Dan, setelah membacanya, adik saya langsung tahu bahwa ada kesalahan
ketik dalam teks sumber. Seharusnya "with holding" itu adalah satu
kata yaitu "withholding", tanpa spasi, "withholding taxes"!
Oalah.....pastesan. Selanjutnya, begitu saya googling
frasa"withholding taxes", tidak sampai beberapa detik, muncullah
rujukannya dari The Free Dictionary dengan penjelasan yang sangat
lengkap, dan sangat sesuai dengan konteks.

Waduh....ternyata, kelebihan satu spasi dalam teks sumber, bisa
membuat kita kalang kabut. :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 01 May 2011 21:31:00 -0700 Terima kasih teman-temanku yang hebat http://dnpusparini.com/terima-kasih-teman-temanku-yang-hebat http://dnpusparini.com/terima-kasih-teman-temanku-yang-hebat

Saya sudah memilih dan memutuskan untuk masuk ke dunia penerjemahan
dengan serius dan menjadikan penerjemah sebagai sebuah profesi. Sebuah
dunia yang saya impikan sejak remaja dan baru-baru ini saja menemukan
jalannya. Khususnya sebagai penerjemah buku/novel. Yang lebih
menggembirakan, setelah bergabung dengan milis Bahtera, yaitu sebuah
milis tentang Bahasa dan Terjemahan, wawasan saya makin bertambah dan
teman-teman pun bertambah pula.


Bagi saya teman dan sahabat sangat berarti. Mereka begitu baik dan
siap membantu kapan saja sebisa mereka. Sungguh pengalaman yang tak
terlupakan, ketika saya sedang menerjemahkan sebuah novel yang
bergenre thriller detektif. Dalam novel ini begitu banyak ada
istilah-istilah dan idiom-idiom yang berhubungan dengan dunia
kriminal. Bila ada istilah atau idiom yang tidak saya mengerti, saya
mengandalkan The Free Dictionary atau pun beberapa kamus online, dan
biasanya saya selalu menemukan jawabannya. Tetapi terkadang apa yang
saya cari, tidak ketemu, mentok dan membuat saya hampir frustasi. Dan
kalau sudah begini, biasanya saya 'lari' ke teman-teman saya yang baik
hati. Dan mereka dengan senang hati membantu menjawab pertanyaan saya,
baik berupa rujukan atau pun sebuah pendapat. Di era komunikasi
canggih ini, kami bisa berdiskusi lewat banyak media, apakah itu YM,
Gtalk, BBM atau pun FB.


Untuk itu, saya merasa perlu menghaturkan terima kasih yang tak
terhingga untuk Mas Ivan Lanin, Sang Pendekar Bahasa, yang sering 'digedor' dengan berbagai pertanyaan, dan memberikan rujukan-rujukannya yang tepat dan selalu membuat pertanyaan saya terjawab. Saya sering takjub juga, sesuatu yang saya tanyakan, yang sebelumnya saya sudah berusaha mencari
sendiri sekian lama, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Namun, ketika saya menanyakan kepada Mas Ivan, dengan entengnya
memberi jawaban dan jawaban tersebut sangat tepat sesuai konteks yang
saya butuhkan!  


Terima kasih juga kepada Mas Narpati Wisjnu Ari Pradana, seorang
Bahterawan walaupun bukan penerjemah tapi sering memberi masukan
kepada para Bahterawan yang bertanya di milis. Bagi saya Mas Narpati
ini teman diskusi yang baik, bersedia meluangkan waktu untuk
mendiskusikan pertanyaan saya di sela-sela kesibukannya sebagai
seorang programmer. Dan dalam menanggapi sebuah pertanyaan selalu
memberikan argumentasi lengkap dengan rujukannya. Biasanya umpan balik
darinya mampu memberi saya inspirasi dan membuat pikiran jadi lebih
terbuka, yang pada akhirnya membuat proses penerjemahan jadi lebih
mudah. Yang paling mengesankan, ketika saya mentok harus menerjemahkan
sebuah puisi klasik yang merupakan bagian dari isi novel, Mas Narpati
ini bisa memberikan masukan yang sangat berharga. Kemampuannya dalam
mengartikan frasa-frasa sulit (setidaknya sulit menurut saya) dalam
bahasa Inggris kuno di puisi tersebut, sangat membantu saya dalam
memahami is puisi itu secara keseluruhan. Sekali lagi terima kasih.


Kemudian Mbak Rini Nurul Badariah, you are the best, sist. Belum kenal
terlalu lama, tapi entah kenapa saya merasa begitu dekat seolah-olah
sudah kenal sangat lama. Saya merasakan aura positifnya dan kebaikan
hatinya walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung. Teman
ngobrol yang enak dengan canda-candanya yang menyegarkan, teman curhat
(dalam hal penerjemahan, tentu saja). Mbak Rini ini sangat banyak
memberikan masukan dari sudut pandang editor. Biasanya kami ngobrol di
YM, di sela-sela kesibukannya. Selain sebagai penerjemah Mbak Rini ini
berperan sebagai editor juga. Sehingga masukan dan ilmu yang saya
dapat sangat membantu dan bermanfaat bagi saya yang termasuk pemula
ini. Terima kasih teman-temanku, sungguh indah sebuah pertemanan.
Yakinlah, Tuhan akan membalas segala kebaikan kalian.


Dan tentu saya juga berterima kasih kepada adik bungsu saya, Dewa
Indrayana, yang amat banyak membantu dan mendukung saya untuk menjadi
seorang penerjemah yang baik. Dari adik ini juga saya belajar
mengkonversi (mengonversi?) file dari file yang ber-format .jpg atau pun .pdf menjadi format .doc. Dan biasanya si adik ini menjadi tempat terakhir untuk bertanya, apabila teman-teman saya juga mentok dengan pertanyaan yang saya ajukan :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 29 Apr 2011 01:28:00 -0700 Ah, masa ibu ngga tahu sih?? http://dnpusparini.com/ah-masa-ibu-ngga-tahu-sih http://dnpusparini.com/ah-masa-ibu-ngga-tahu-sih

Malam itu saya sedang asyik di depan laptop, fokus dan konsentrasi
tinggi, karena harus menerjemahkan sebuah puisi klasik yang merupakan
bagian dari novel yang sedang saya terjemahkan. Puisi klasik karya
John Donne ini betul-betul memeras pikiran. Dan puisinya bukan hanya
satu, tapi ada beberapa puisi klasik. Masalahnya saya sama sekali
tidak "nyastra", tidak punya jiwa sastrawan, kurang puitis. Ketika
tiba-tiba anak saya berteriak dari depan komputernya, menanyakan
sesuatu.
"Bu, apa bahasa Inggrisnya 'sadis'?"
Saya jawab, "Sadist, terrific."
"Bagaimana penulisannya?"
Saya pun mengejanya, huruf demi huruf, dengan pandangan masih tetap ke
layar laptop, seakan-akan takut tulisan yang ada di layar akan hilang.
Hening sejenak, hanya ada alunan lagu dari Michael Jackson, ketika
anak saya berteriak lagi menanyakan sesuatu.
Tanpa mendengar jelas apa yang ditanyakan, masih dengan tatapan ke
layar laptop, saya langsung menjawab, "Ibu ngga tahu, coba aja cari
sendiri di kamus."
Seperti tidak terima dengan jawaban saya, dia menjawab, "Ih, ibu kan
penerjemah, kuliah di jurusan penerjemahan pula, masa ngga tahu sih??"
"Eh, ibu ini penerjemah, bukan kamus hidup lho. Lagian usaha dong, ada
internet, ada begitu banyak kamus online di internet. Kan ibu sudah
kasih tahu alamat situsnya. Ibu lagi stress nih,"
Saya langsung teringat dengan sebuah kalimat yang saya dengar di milis
Bahtera, entah siapa yang mengucapkan pertama kali. I am a translator,
not a walking dictionary.
Benar juga. Penerjemah tetaplah manusia biasa dengan segala
keterbatasannya, bukan sebuah kamus berjalan.
Saya pun melanjutkan pekerjaan. Sambil sesekali melirik anak yang
posisinya agak jauh di depan saya. Rupanya dia sedang mengerjakan
tugas sekolah, tugas menerjemahkan tapi bukan tugas sekolahnya
sendiri, melainkan tugas temannya, teman lain sekolah. Rajin amat anak
saya. Alasannya, dia kasihan ama temannya yang alergi dengan
pelajaran Bahasa Inggris. Di samping itu, dia bilang, dia suka
menerjemahkan. Wah, mulai ketularan nih.
"Kalau gitu, besok-besok bantuin ibu aja yaa.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini