Lost in Translation http://dnpusparini.com tersesat di rimba raya terjemahan dan bahasa posterous.com Sat, 04 Feb 2012 21:55:00 -0800 BAHASA RUSIA? SIAPA TAKUT? http://dnpusparini.com/98166393 http://dnpusparini.com/98166393

Bahasa Rusia? Siapa takut? (Sebenarnya sih takut banget) :D. 

Dalam menerjemahkan adakalanya saya menerima bahan dalam format .doc, atau format .pdf dan tidak jarang dalam format .jpg. Saya akan senang sekali kalau bahan itu sudah dalam fotmat .doc. Tetapi itu tidak sering terjadi, yang sering adalah saya menerima bahan dalam bentuk .jpg. Kalau begini halnya saya harus mengkonversi file .jpg tersebut ke format  .doc, dan untuk itu saya biasa menggunakan ABBYY FIneReader. Selama ini tidak pernah ada masalah alias proses konversi lancar-lancar saja.

Tetapi kali ini, si ABBY tampakya lagi ngambek. Begitu membuka ABBYY bahasa pengantarnya tiba-tiba berubah jadi Bahasa Rusia. Saya bingung kenapa setting-nya  jadi berubah sendiri. Seingat saya, terakhir kali digunakan masih dalam Bahasa Inggris. Saya mencoba menghubungi adik saya yang selama ini selalu bisa memecahkan semua permasalahan yang saya alami, terutama yang berhubungan dengan komputer dan teman-temannya.
Setelah menyampaikan permasalahannya, saya pun dikasih tahu cara untuk mengembalikan semua interface ke Bahasa Inggris. Setelah mengikuti semua instruksinya, muncullah kalimat sebagai berikut:

The interface language will be changed after you restart ABBYY FineReader.

Mestinya setelah di-restart, ABBYY FineReader harusnya kembali ke setting Bahasa Inggris. Tapi nyatanya setelah di-restart, setting sama sekali tidak berubah. Saya ulangi lagi langkah-langkah tadi, tetap saja tidak ada perubahan. Saya mulai agak panik, karena file konversi ini saya perlukan segera. Saya hubungi adik saya lagi, dia bilang, seharusnya dengan munculnya kalimat itu dan setelah klik OK, setting interface akan berubah. Dia mencoba mengubah setting ABBYY di komputernya sendiri dan  berhasil. Karena di  laptop saya tetap tidak berhasil mengubah setting-nya, akhirnya dia menyarankan saya untuk datang ke rumahnya dengan membawa serta laptopnya. Dia perlu memeriksa langsung laptop saya kenapa perintah itu tidak berhasil dijalankan.

Masalah berikutnya, saya tidak  bisa pergi hari itu. Saya menarik napas menenangkan diri dan mulai “berbicara” dengan laptop saya, meminta pengertiannya.

“Tolonglah, saya perlu mengkonversi file sekarang. Apa masalahmu?”

Saya mencoba berpikir tenang. Membuka ABBYY dengan Bahasa Rusia-nya dan menatapnya lekat-lekat. Menelusuri menunya satu per satu. Bukankah saya sudah sering menggunakan ABBYY ini? Bukankah yang berubah hanya bahasa pengantarnya saja? Bukankah susunan menunya tetap sama? Apa pun bahasanya, mestinya hasil akhir akan sama saja, bukan?

Saya mulai semangat dan mengandalkan feeling, kira-kira di mana letak menu yang saya butuhkan. Saya menggeser-geser mouse dan berhenti di satu sub menu serta mengekliknya seperti yang dibisikkan oleh feeling saya. Bingo!  Saya berhasil! Ada dialog box tempat saya memilih file-file .jpg yang akan dikonversi. Saya ikuti semua prosedurnya seolah-olah saya bisa membaca semua perintahnya. Akhirnya sampailah pada langkah terakhir. File sudah tersimpan dalam format doc. Saya menarik napas lega, dan berterima kasih kepada laptop yang tampaknya mau mengerti. Tapi… di atas segalanya saya merasa Tuhan telah membimbing saya sehingga berhasil “mengerti” Bahasa Rusia tersebut. ;-)

Ah, Tuhan selalu dan selalu mengerti kapan saya benar-benar kepepet :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 15 Jan 2012 00:45:00 -0800 I am a human. Not a number. Not a digit http://dnpusparini.com/i-am-a-human-not-a-number-not-a-digit http://dnpusparini.com/i-am-a-human-not-a-number-not-a-digit

Menentukan rate terjemahan untuk seorang teman ternyata bukanlah perkara mudah. Butuh “kekuatan” besar, bahkan sebagian orang (baca: penerjemah) tidak sanggup melakukannya. :D

Suatu hari seorang teman bertanya apakah punya teman yang biasa menerjemahkan untuk pasangan Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia.  Dia ingin tahu berapa rate untuk pasangan bahasa tersebut. Saya ingat seorang teman penerjemah yang mempunyai agensi dan juga menerima pasangan bahasa itu selain Inggris-Indonesia  dan Indonesia-Inggris.  Terjadilah percakapan sebagai  berikut.

Saya : "Mas, berapa rate untuk terjemahan dari Bhs Jawa ke Bahasa Indonesia?"

AA : "Bahasa Jawa apa, Mbak? Apakah aksaranya atau Jawa tulisan biasa, atau… Jawa apa?"

Saya : "Latin, Mas."

AA : "Bahasa Jawa Madya,  Ngoko atau apa?"

Saya : "Madya."

AA : "Jumlah katanya berapa, Mbak?"

Saya : "Jumlah katanya belum tahu, Mas. Dia baru nanya rate aja dulu, katanya supaya ada bayangan harga."

AA : "Saya sama temen sendiri susah sih bilangnya. Hahahaha.  Gini aja deh, Mbak.  Saya  cuma butuh jumlah kata + budget-nya berapa.  That’s all.  Saya susah bikin rate buat temen."

Saya : "Jangan gitu dong, Mas. Ini bukan buat saya pribadi, tapi orang lain. Nanti kalau untuk saya sendiri, gratis juga boleh" :P

AA :  "Jiaaah!"

Saya : "Standar rate aja, Mas."

AA : "Waduh, sudah dibilangi Mbak Yu ini." (Tetap bersikeras tidak mau menyebut angka)

Saya : "Lha, saya mesti bilang apa ama si temen itu?"

AA : "Hehehe. Bilang aja gitu. Asli saya ini orangnya ngga enakan masalah rate, Mbak. Kecuali sama bule, saya paling kenceng."

Saya : "Ini bukan untuk  saya, tapi teman saya." (Saya berusaha membujuk dan menekankan sekali lagi)

Mas : "Lha, teman Mbak Desak kan seorang teman juga."

Saya : Walah, Dimas ini, tampaknya saya tidak berhasil membujuk dikau untuk menyebut sebuah angka." (Saya menyerah dan misi pun gagal).

AA : "Betul.  I am a human. Not a number. Not a digit."  (LOL!)

Saya : "Hihihi. Sutralah kalau begitu. Saya akan sampaikan jawaban Mas tadi."

 

Siapakah AA ini? Tiada lain tiada bukan Mas Ahnan Alex yang dikenal luas sebagai seorang penerjemah yang rendah hati.

Terbukti bahwa sangat tidak mudah menentukan rate untuk teman, bukan? :D 

Saya mengerti dan sangat memahami “kesulitan” yang dirasakan AA dalam menentukan rate untuk temannya, karena saya sendiri sering mengalami.  Di luar novel, klien saya kebanyakan teman sendiri atau teman dekat suami yang sudah biasa berkunjung ke rumah untuk sekedar  ngobrol-ngobrol.  Saya selalu merasa tidak enak hati setiap menyebutkan harga yang sebenarnya. Barangkali kasihan melihat wajah saya yang tampak gundah-gulana, sampai-sampai salah seorang di antara mereka berkata: "Bu Agung, jangan sungkan-sungkan, buatkan saya nota berapa mestinya saya bayar." (Karena suami saya bernama Agung, teman-teman suami biasa memanggil saya 'Bu Agung.')

Tetapi tetap saja sungkan saya tidak hilang, buntut-buntutnya, saya selalu memberikan harga spesial padahal mereka tidak pernah menawar.  Bukannya tidak butuh uang, siapa sih yang tidak butuh uang? Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, bukan? ;-) Masalahnya, bagaimana caranya menghilangkan perasaan “tidak enak hati” ini?  Susah juga kalau perasaan ikut “bermain” dalam bisnis. Anak saya pernah bilang: “Kalau gini halnya, ibu ngga akan pernah kaya.” :D

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Wed, 21 Dec 2011 02:54:00 -0800 Satu Malam Tanpa Internet http://dnpusparini.com/satu-malam-tanpa-internet http://dnpusparini.com/satu-malam-tanpa-internet

Sore itu saya sedang menerjemahkan artikel tentang saham dan transparansi laporan keuangan yang merupakan tugas kuliah, milik teman yang kuliah pascasarjana di jurusan Magister Manajemen. Karena materinya yang lumayan berat (menurut saya), saya perlu riset dan banyak browsing untuk mencari referensi terutama istilah-istilah dalam jual-beli saham dan beberapa istilah keuangan. Saat itu hujan lebat dan sesekali terdengar suara petir yang sayup-sayup. Saya sempat was-was dan berniat mematikan modem. Tapi saat itu saya kebetulan menemukan tautan yang dibutuhkan sehingga modem tidak jadi saya matikan. Ketika sedang asyik membaca isi tautan tersebut, tiba-tiba terdengar suara gelegar petir yang maha dahsyat dan hampir bersamaan dengan itu terdengar suara seperti ledakan berasal dari modem.

Saya kaget dan seketika terloncat dari tempat duduk dan refleks mencabut stop kontak listrik. Saya pakai Speedy dengan modem ADSL,  dan saya tahu modem itu sudah mati ketika terdengar suara ledakan tadi. Saya hanya berharap komputer yang sedang saya pakai tidak ikut terbakar. Sekian lama saya tidak berani menyalakan komputer menunggu hujan dan petir mereda. Saya lama tercenung memikirkan pekerjaan saya yang harus segera selesai karena keesokan harinya teman saya itu harus mempresentasikan tugasnya.

Setelah hujan reda saya menelpon langganan tempat saya biasa belanja alat-alat komputer, menanyakan apakah bisa membawakan modem sore itu. Saya sudah memperkirakan jawabannya tapi tetap saja saya mencoba. Benar saja, sore itu (sudah menjelang malam) dia tidak bisa datang dan berjanji akan datang esok pagi dengan membawa modem yang saya minta.  Yah, apa boleh buat, saya pun  mulai melanjutkan kerja minus internet.

Terbiasa dengan internet, terbiasa juga menggunakan kamus-kamus online, cukup tergantung dengan Kateglo dan milis Bahtera, malam itu saya terpaksa hanya mengandalkan kamus offline. Pekerjaan tidak bisa ditunda karena harus selesai esok pagi. Saya sudah berjanji dan tidak mungkin saya ingkari. Tapi saya masih bersyukur, saya sempat membaca isi tautan tadi dan masih ingat dengan poin-poinnya. Dengan bantuan kamus-kamus yang ada, akhirnya menjelang subuh selesai juga pekerjaan saya.

Sempat terpikir, dulu sebelum ada internet para penerjemah senior bisa menghasilkan terjemahan yang luar biasa. Kenapa saya begitu tergantung dengan internet? Apakah karena terlanjur 'manja'? Ah, saya kan hanya memanfaatkan teknologi yang ada? Teknologi akan mubazir kalau tidak dimanfaatkan, bukan? ;-) *Membela diri*

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 24 Nov 2011 01:06:00 -0800 Novel Klasik http://dnpusparini.com/novel-klasik http://dnpusparini.com/novel-klasik

Saya baru saja selesai menerjemahkan sebuah novel klasik yang sudah pernah diangkat ke layar lebar oleh Walt Disney. Novel yang sangat menarik dengan tokoh utama yang berkarakter unik. Novel ini bergenre anak-anak, tepatnya novel untuk segala umur (menurut saya). Sebelum mulai menerjemahkan, saya membaca sekilas dan awalnya saya merasa tidak terlalu berat. Tetapi setelah mulai menerjemahkan sekian halaman, mulai bermunculan kalimat-kalimat bersayap yang menjebak. Sepertinya idiom tapi literal, seperti literal tapi kok seperti punya makna lain. Tricky, tapi menyenangkan, karena saya selalu senang menerjemahkan  :-)

Saya memerlukan waktu cukup lama saat mengedit dan memperhalus terjemahan ini. Kadang-kadang saya terpaku cukup lama dalam sebuah kalimat karena tidak puas dengan terjemahannya. Akhirnya, saya menghubungi Mbak Rini Nurul Badariah lewat YM, yang berbaik hati meluangkan waktunya di sela-sela kesibukannya yang luar biasa untuk diskusi dan membagi pengalamannya dalam menerjemahkan buku-buku klasik. Dari Mbak Rini juga saya mendapat pelajaran bahwa buku klasik pada umumnya memang ada banyak kalimat yang menjebak dan harus ekstra hati-hati.  Bagaimana cara menyiasatinya supaya kita betul-betul bisa menangkap maknanya dan sesuai konteks. Pelajaran yang sangat berharga dan Mbak Rini juga memberikan referensi buku apa yang harus dibaca untuk menambah bekal dalam menerjemahkan buku-buku klasik. (Hatur nuhun pisan, Mbak Rini). 

Seperti juga novel terdahulu, saat menerjemahkan novel ini pun saya banyak browsing untuk lebih mengenal dan mendalami karakter masing-masing tokohnya. Tentu tidak susah untuk menemukan data-datanya, ada banyak tulisan tentang novel ini terutama tentang filmnya, karena film ini menembus box office #1 dan mendatangkan pendapatan tertinggi pada saat itu. Tidak mengherankan tentu saja, sebab ceritanya memang sangat menarik dan ada banyak pelajaran hidup di sana.

Saya ingat ketika sedang dalam proses menerjemahkan, ada beberapa adegan yang betul-betul mengharukan dan saya tidak bisa menahan air mata. Ah, barangkali saya terlalu hanyut oleh ceritanya :-) 

Novel klasik yang saya terjemahkan ini adalah novel berseri yang semuanya ada delapan buku, tapi pihak penerbit baru deal empat buku. Rencananya (kalau tidak ada halangan) saya diberi kepercayaan untuk menerjemahkan semua seri novel ini. Mudah-mudahan segera terbit dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 28 Oct 2011 00:19:00 -0700 Status Keren! http://dnpusparini.com/wahai-pemuda-pemudi-indonesia-selamat-hari-su http://dnpusparini.com/wahai-pemuda-pemudi-indonesia-selamat-hari-su

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2011 di jejaring sosial Facebook ada banyak status tentang Hari Sumpah Pemuda. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah status dari Gramedia Pustaka Utama yaitu: "Bisa berbahasa asing itu keren, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan baik & benar itu lebih keren! Selamat Hari Sumpah Pemuda".

Harus diakui bahwa banyak di antara kita yang masih kurang bagus dalam pemakaian Bahasa Indonesia, bahkan seorang dosen (maaf) tidak luput dari kekurangan ini. Seperti yang saya alami beberapa hari yang lalu, ketika mengedit tulisan seorang teman, yang juga seorang dosen. Teman saya ini, seorang ibu yang hampir sebaya dengan saya, minta tolong agar saya menyunting tulisannya. Dulu, saya juga pernah membantu menyunting tesisnya dan beberapa makalahnya sebelum dipresentasikan. Dan anehnya, kesalahan yang sama terjadi lagi. 

Seperti biasa,  sebelum memulai menyunting secara mendetail terlebih dahulu saya membaca secara global dari awal sampai akhir. Rasanya mau menangis ketika melihat tulisannya. Betapa tidak, amat banyak kesalahan-kesalahan mendasar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Si ibu ini sepertinya tidak bisa membedakan penggunaan "di" sebagai awalan atau sebagai penunjuk tempat. Hampir semuanya salah. Penggunaan tanda titik dan koma yang disambung saja dengan kata berikutnya. Penulisan titel kesarjanaan juga salah semua, begitu juga penggunaan huruf kapital. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya tulisan ini.

Saya sempat bingung mesti mulai dari mana, mood saya sempat hilang. Ada rasa kecewa karena tulisan ini dibuat oleh seorang dosen, bukan oleh siswa SD atau SMP. Harus diakui anak saya yang duduk di bangku SMA, jauh lebih tertib bahasanya dari pada si ibu ini. Sambil menatap layar komputer dengan nanar, tangan kiri menyangga dagu dan tangan kanan memainkan mouse untuk menggulung layar naik turun. Sungguh acak kadut. Berkali-kali saya menarik napas panjang. Akhirnya, komputer saya tinggal sebentar, membuat kopi,  untuk menyegarkan otak. 

Saya bukan ahli bahasa, sama sekali bukan dan juga tidak jago bahasa. Tapi... kesalahan-kesalahan yang terjadi ini bukan kesalahan kecil, tapi sangat mendasar.  Saya ingat, sebelumnya sempat ngobrol dengan Mas Ivan Lanin di YM dengan topik ini.  Ternyata Mas Ivan sendiri juga mengalami hal yang sama ketika dimintai tolong mengoreksi draft tesis tiga temannya, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang senada seperti yang saya alami. 

Terbersit pertanyaan, kira-kira apa sebabnya kesalahan-kesalahan "besar" ini bisa terjadi pada orang-orang yang bukan "orang kebanyakan?" Apakah karena mereka kurang peduli dengan Bahasa Indonesia atau menganggap kurang penting, yang terpenting adalah materi atau isi dari tulisan itu? 

Ketika saya menanyakan hal ini,  Mas Ivan menjawab: "Entahlah, Mbak. Saya tidak ingin menghakimi. Saya hanya ingin mengubah keadaan" :-)

Iya iya iya, tentu saja, saya juga tidak ingin menghakimi, karena saya bukan "hakim bahasa", hehehe.  Saya hanyalah orang yang suka dengan bahasa, dan tidak tertutup kemungkinan saya melakukan banyak kesalahan juga :D

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 17 Oct 2011 07:26:00 -0700 All The Pretty Girls: Suspense, Thriller, Romance http://dnpusparini.com/75992066 http://dnpusparini.com/75992066

Cover_pretty_girls

All The Pretty Girls, sebuah novel suspense, thriller dengan sedikit bumbu roman yang manis. Begitu banyak adegan yang menegangkan dan mencekam. Bagaimana para penegak hukum berpacu dengan waktu untuk menghentikan pembunuhan berantai dan berusaha keras mencegah adanya korban-korban berikutnya.  Tokoh penjahat di novel ini dijuluki Si Pencekik dari Selatan karena semua korban dibunuh dengan mencekiknya, dan semua korbannya adalah wanita-wanita cantik dengan ciri-ciri tertentu.

Unsur roman juga terselip di novel ini karena dua tokoh utamanya yaitu Taylor Jackson, seorang Letnan Divisi Pembunuhan dari Kepolisian Kota Nashville, mempunyai hubungan cinta dengan Dr. John Baldwin, seorang profiler FBI. Dalam novel ini dikisahkan kedua orang tersebut sebenarnya sudah menjalin cinta sebelum mereka menangani kasus pembunuhan ini. Tetapi Taylor terpaksa menyembunyikan hubungan kasih mereka di depan rekan-rekannya karena ia takut dinilai yang tidak-tidak oleh teman-temannya. Masalahnya, pada saat penanganan kasus tersebut, pihak Kepolisian Kota Nashville sempat merasa tidak senang dengan ikut campurnya petugas FBI di wilayah mereka. Mereka merasa, untuk apa FBI ikut campur menangani kasus ini, bukankah ini hanya kasus pembunuhan biasa lalu kenapa FBI mesti turun tangan? Merasa merasa sedikit “dilecehkan” dan merasa dianggap kurang mampu. Mereka belum tahu bahwa ini adalah kasus luar biasa yang mengharuskan FBI ikut campur.

Penggemar suspense dan thriller akan terpuaskan oleh novel ini. Alur cerita yang cukup cepat, banyak hal tak terduga, rincian yang sangat detail, sungguh membuat para pembaca akan terpacu dan penasaran.  Selama proses penerjemahan, saya beberapa kali mencoba menduga-duga siapa sebenarnya Si Pencekik ini dan apa motivasinya. Dan beberapa kali pula dugaan saya meleset, padahal sebelumnya, sebagai orang yang gemar membaca novel, dalam beberapa novel  saya berhasil menebak alurnya dan tokoh penjahatnya. Tapi kali ini saya gagal, karena penasaran, akhirnya saya menyelesaikan dulu membacanya sampai akhir setelah itu barulah lanjut menerjemahkan lagi.  Cukup mengagetkan, si tokoh penjahat adalah pria muda yang rupawan dengan senyum menawan. Sehingga ia begitu mudah menjerat para calon korbannya dengan senyum innocent dan wajah malaikatnya.

Tentang rincian yang begitu mendetail dalam novel ini tidaklah mengherankan. Sang penulis, JT.Ellison benar-benar mempersiapkan novelnya dengan sempurna. Melakukan riset yang tidak tanggung-tanggung, terjun langsung ke Kepolisian Kota Nashville dan mendapat bantuan sepenuhnya dari sana. Begitu juga dari FBI, sehingga membuat novel ini begitu hidup. Tidak heran kalau akhirnya JT.Ellison mendapatkan banyak penghargaan dan pujian dari para penulis terkenal lainnya.

All The Pretty Girls adalah buku pertama dari tujuh buku dengan tokoh utama Taylor Jackson. Buku lainnya yaitu: 14, Judas Kiss, The Cold Room, The Immortals, So Close The Hand of Death dan Where All The Dead Lie.

Penasaran dengan kisah lengkapnya? Dapatkan bukunya di toko-toko Gramedia terdekat. Dijamin tidak menyesal *promosi* :-)

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Wed, 31 Aug 2011 22:20:00 -0700 Proyek "Minta Tolong" http://dnpusparini.com/proyek-minta-tolong http://dnpusparini.com/proyek-minta-tolong

Seminggu yang lalu ada kerabat minta tolong saya untuk menyunting tesisnya. Sudah beberapa kali saya menyunting tesis dan sebenarnya saya menyukai pekerjaan ini. Karena selama menyunting, secara tidak langsung saya menyerap isi dari tesis tersebut dan selalu ada pengetahuan yang bisa saya ambil. Tetapi yang jadi masalah adalah: waktu. Kenapa ya, si pemilik tesis selalu memberikan tenggat waktu yang sangat mepet? Dan kenapa pula saya tidak bisa menolaknya, padahal di waktu yang bersamaan saya sedang mengerjakan terjemahan yang harus segera diselesaikan sesuai janji saya. Sebenarnya, saya sangat ingin menolak atau  minimal minta tenggat waktu yang lebih panjang, tetapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Si pemilik tesis yang baru saja selesai ujian tesis dan sudah dinyatakan lulus, namun ada beberapa perbaikan terutama sekali dalam tata penulisannya. Saat itu dia datang hari Senin, dan hari Rabu berikutnya adalah pendaftaran terakhir untuk wisuda. Sedangkan persyaratan untuk wisuda adalah harus menyertakan tesis yang sudah diperbaiki.

Saya bilang, kenapa mendadak? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sehingga saya punya waktu yang cukup? Dia bilang, dia sudah berusaha memperbaiki sendiri, tetapi ternyata kurang memuaskan sang dosen pembimbing. Akhirnya, karena kepepet dia mencari saya. Dia pernah mendengar dari beberapa temannya bahwa tesis yang saya sunting hampir semuanya lolos dari penilaian dosen pembimbing. Bisa jadi hanya kebetulan, atau gaya penulisan saya cocok dengan selera sang dosen. Saya masih berusaha menawar waktu, karena untuk menolak saya tidak sanggup. Tetapi dengan pandangan memelas dan penuh permintaan tolong, dia bilang, waktu tidak bisa diundur, atau dia terpaksa tidak bisa ikut wisuda periode ini dan harus menunggu periode berikutnya lagi sekian bulan. Untuk itulah dia minta tolong dengan amat sangat. Si pemilik tesis, seorang ibu, guru SMA, kalau menunggu periode berikutnya berarti dia harus bayar SPP lagi disamping rugi waktu. 

Akhir kata, saya pun tidak bisa berkata-kata lagi. Saya selalu tidak sanggup menolak permintaan tolong orang yang betul-betul butuh. Saya merasa jadi orang jahat ketika menolak orang yang butuh bantuan.  Si pemilik menunggui saya kerja. Saya berusaha fokus dan bertekad untuk langsung menyelesaikannya malam itu. Karena esoknya, saya harus fokus ke terjemahan supaya selesai tepat waktu karena sudah berjanji sebelumnya.  Tepat pukul dua subuh, pekerjaan saya selesai. Saya melihat betapa leganya ibu itu. Saya walaupun capek, tapi ikut senang melihat wajahnya yang lega. 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Tue, 12 Jul 2011 02:22:00 -0700 Konsistensi Penokohan Dalam Sebuah Novel http://dnpusparini.com/konsistensi-penokohan-dalam-sebuah-novel http://dnpusparini.com/konsistensi-penokohan-dalam-sebuah-novel
Sebenarnya saya sangat ingin menulis novel. Tetapi nyatanya saya tidak pernah memulai. Ide sudah ada di kepala, hanya saja tidak tahu harus mulai dari mana. Saya sempat menulis beberapa cerpen yang masih tersimpan rapi di hard disk komputer saya. Semua cerpen itu terinspirasi dari kejadian di sekitar saya, atau pun dari cerita dan pengalaman teman-teman. Membuat novel pastilah lebih sulit daripada membuat cerpen, karena yaa...cerpen lebih pendek tentu saja :-). Sedangkan untuk membuat novel, disamping harus memiliki kemampuan menulis juga sedikit banyak harus melakukan riset yang berhubungan dengan cerita dalam novel.

Saya baru saja selesai membaca novel yang setting-nya di Bali dengan tokoh-tokoh utamanya adalah orang-orang Bali. Saya menikmati novel ini dan menyukai bahasanya yang ringan,  bersahaja dan mengalir begitu saja. Membumi. Tetapi ada yang agak mengganggu saya, yaitu tentang latar belakang tokoh utamanya. Di awal-awal disebutkan bahwa sang tokoh ini adalah seorang suami yang sarjana sastra dan sang istri yang sarjana ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh dialog suami istri tersebut:


"Kita berdua sarjana, kau sarjana sastra dan aku sarjana ekonomi...bla...bla...bla."

Kemudian di halaman pertengahan ada percakapan lagi antara pasangan tersebut:

Istri: "Jangan bicara ilmu tata bahasa mentang-mentang kau jurusan Sastra Indonesia. Kagak tamat aja belagu, uh!"
Suami menjawab: "Tidak tamat tapi cerdik pandai."

Dari sini terlihat ada ketidakkonsistenan tokoh 'suami' tersebut. Ternyata tokoh 'suami' itu belum tamat yang berarti seharusnya dia belum sarjana.

Kemudian di halaman lain, salah satu tokohnya yaitu seorang gadis ningrat yang cantik dipanggil dengan nama panggilan 'Gung Geg'. Tetapi, di pertengahan novel ada percakapan yang diucapkan oleh tokoh gadis cantik ini, sebagai berikut:

"Aku sering tidak mengerti dengan segala tetek bengek yang ada di dalam keluarga besarku sebagai keluarga berkasta Brahmana."

Di sini saya melihat ada yang tidak sinkron. Di Bali 'Gung Geg' adalah nama panggilan untuk seorang gadis yang berasal dari kasta/Wangsa Ksatrya (dari Catur Wangsa). Wangsa ini pada umumnya namanya diawali dengan Anak Agung/Anak Agung Ayu/Anak Agung Istri, Cokorda/Cokorda Istri, Dewa/Dewa Ayu/Desak, I Gusti Agung/I Gusti Ngurah, dan ada lagi beberapa yang lainnya. Sedangkan Wangsa Brahmana pada umumnya namanya diawali dengan Ida/Ida Bagus/Ida Ayu. Dan panggilan untuk gadis dari Wangsa Brahmana adalah 'Dayu Geg' atau 'Dayu' saja. (Di sini saya tidak membahas sistem kasta/wangsa, tetapi hanya menyatakan bahwa sistem nama/gelar tersebut masih dipakai dalam masyarakat Bali). 

Jadi, kalau nama panggilannya 'Gung Geg', maka  bisa dipastikan gadis tersebut bukanlah dari Wangsa Brahmana, tetapi dari Wangsa Ksatrya. Saya melihat ada ketidakkonsistenan lagi dalam penokohan di novel ini. Saya tidak bermaksud mencari-cari kesalahan, sama sekali tidak (Lagian, siapa sih saya, mencari-cari kesalahan orang? :-) Saya hanyalah penikmat novel). Saya pun tidak sengaja dan tidak bermaksud mencari-cari ketidakkonsistenan ini. Mungkin hanya kebiasaan saja, setiap saya membaca buku atau novel, nama-nama dan karakter tokohnya langsung melekat di memori saya. Seperti tokoh 'suami' tadi, informasi pertama yang diterima oleh otak saya adalah, si suami itu seorang sarjana. Tetapi, begitu ada informasi lain yang bertentangan dengan informasi pertama, ingatan saya langsung 'protes'. Tanpa sadar, saya mencari data informasi yang pertama untuk mencocokkan dengan informasi yang kedua. Begitu juga tokoh 'Gung Geg' itu. Informasi yang sudah masuk duluan ke dalam memori saya adalah 'Gung Geg' ini dari Wangsa Ksatrya. Tetapi begitu disebutkan bahwa tokoh itu adalah dari Wangsa Brahmana, maka ingatan saya pun 'protes' untuk yang kedua kalinya.

Hal ini menjadi catatan bagi saya bahwa mengarang novel bukanlah perkara gampang. Di samping ide, ada banyak hal yang harus diperhitungkan dan sedikit banyak harus melakukan penelitian juga. Saya selalu salut dengan seseorang yang mampu mengarang novel. Bayangkan, mereka seperti tidak kehabisan kata menyusun sekian ribu atau puluhan ribu kata hingga terbentuklah sebuah novel yang mampu menarik perhatian pembaca.

Terlepas dari ketidakkonsistenan tersebut di atas, novel  ini cukup menghibur dan terutama sekali memberikan saya pelajaran bahwa pengarang harus memperhatikan dengan cermat semua tokoh yang digambarkannya agar tetap konsisten dari awal sampai akhir  (Siapa tahu kelak, saya benar-benar kesampaian menulis sebuah novel) :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 20 Jun 2011 23:12:00 -0700 Menikmati Novel Sambil Belajar http://dnpusparini.com/menikmati-novel-sambil-belajar http://dnpusparini.com/menikmati-novel-sambil-belajar

Akhirnya, selesai juga saya membaca novel The Lost Symbol ini yang sudah sangat lama saya inginkan,  tetapi belum kesampaian karena ada pekerjaan yang lebih mendesak. Nah, begitu ada waktu saya langsung 'melahapnya'. Novel setebal 712 halaman karya Dan Brown ketiga dengan tokoh Robert Langdon ini begitu memikat saya. Salah satu faktor yang membuat saya agak lama menyelesaikan membacanya karena saya berlama-lama menikmati setiap kata dan setiap kalimatnya. Bahkan kalau ada yang kurang saya pahami, saya akan membacanya berulang-ulang sampai benar-benar paham. Hal ini saya lakukan, di samping ingin menikmati ceritanya juga ingin mempelajari terjemahannya untuk menambah pengetahuan. Sebagai penerjemah yang baru memasuki dunia penerjemah secara profesional, saya menyadari harus banyak membaca karya-karya terjemahan untuk menambah wawasan dan memperkaya perbendaharaan kata.

Dari sekian ratus halaman itu, ada satu kata yang baru pertama kali saya jumpai yaitu "rampa". Walaupun saya bisa memahami maknanya berdasarkan konteks secara keseluruhan, tapi saya tetap ingin tahu apa definisi "rampa" itu. Dan di Kateglo saya menemukan definisi lengkapnya, saya cek juga di KBBI Daring

ram·pa n titian yg menghubungkan kapal dng dermaga.

Ah, nambah satu lagi kosakata saya.

Sama seperti ketika saya membaca Angels dan Demons, kemudian The Da Vinci Code, lalu The Lost Symbol ini yang merupakan sebuah trilogi, saya selalu terkesima dengan semua gambaran, setting yang begitu hidup dan mempesona. Saya membayangkan betapa riset yang dilakukan oleh Dan Brown untuk menciptakan novel trilogi ini. Hanya ada sedikti perbedaan yaitu, pada saat saya membaca dua novel terdahulu, saya tidak terlalu memperhatikan bahasanya, tetapi lebih fokus pada isinya karena pada saat itu saya belum mengenal Bahtera, belum menjadi anggota milis Bahtera dan belum mengenal seluk-beluk dunia penerjemahan.  Tetapi saat ini beda. Setelah menjadi member milis Bahtera dan hampir setiap hari mengikuti diskusi di sana, saya jadi lebih 'sensitif' dengan bahasa.

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya belajar banyak. Terutama sekali saya memperhatikan kata-kata yang dicetak miring. Saya jadi belajar banyak, bahwa memang ada beberapa kata yang susah dicari padanannya dan dibiarkan saja dalam bahasa aslinya. Saya ingat, ketika menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada beberapa istilah yang susah dicari padanannya dan saya biarkan tetap dalam bahasa aslinya,  Memang, penerjemah disarankan semaksimal mungkin untuk tidak meninggalkan kata-kata dalam bahasa asing, tetapi kalau memang susah dicari padanannya, yah, terpaksa dibiarkan saja daripada dipaksakan diterjemahkan yang malah akan membuat hasil terjemahan jadi aneh.

Begitu besarnya ketertarikan saya akan novel ini dan keinginan untuk mempelajari penerjemahannya, setiap ada frasa baru yang kurang jelas, saya mencari kalimat aslinya di versi bahasa Inggris (saya mempunyai The Lost Symbol versi asli dalam format .pdf). Dan, saya benar-benar menikmati proses membaca novel ini. 

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 17 Jun 2011 10:36:00 -0700 Editor Dadakan http://dnpusparini.com/editor-dadakan http://dnpusparini.com/editor-dadakan

Dua minggu terakhir ini saya punya murid baru, murid privat komputer. Seperti biasa, murid-murid privat saya selalu membawa pekerjaan kantornya dan materi yang saya ajarkan memang mengikuti apa kebutuhan mereka. Begitu juga yang ini, murid saya adalah karyawati hotel  yang harus membuat berbagai jenis laporan.


Yang menarik adalah, si murid ini terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris tapi lemah dalam tulis-menulis. Karena sebelum menempati posisinya yang sekarang, di tempat kerjanya yang terdahulu, posisinya mengharuskan dia selalu berhubungan langsung dengan tamu-tamu mancanegara dan jarang menulis. Jadi, tidak heran bahasa lisannya cukup bagus.

Nah, ketika dia menempati posisinya yang sekarang, dia harus lebih banyak di depan komputer dan membuat laporan tertulis yang nota bene dalam Bahasa Inggris. Di sinilah dia mulai merasa mengalami kesulitan karena jarangnya menulis dalam Bahasa Inggris, sebab selama ini lebih banyak berkomunikasi secara lisan.  Seperti sore tadi, ketika dia membawa draft pekerjaan kantornya. Sebelum mulai memberi petunjuk tentang bagaimana caranya untuk mengerjakan pekerjaannya itu, terlebih dahulu saya membaca dan memperhatikan dengan seksama supaya saya juga jelas apa yang dibutuhkannya.

Saat itulah saya menyadari ada begitu banyak kesalahan dalam penulisannya, yang tadinya saya kira hanya sebuah typo. Tapi kemudian saya yakin itu bukan typo karena ada begitu banyak kesalahan tulis bahkan untuk kata-kata yang sangat sederhana. Saya merasa bersalah kalau tidak memberitahu kesalahan tulis tersebut. Maka, saya pun menunjukkannya. Eh, dia tertawa dan mengakui kekurangannya. Dia menyadari hal itu karena selama ini dia lebih banyak berkomunikasi secara lisan dan agak lupa dengan penulisannya. 

Akhirnya, sejak itu, selain menjadi guru privatnya, saya juga menjadi editor pribadinya setiap dia membawa dokumen yang hendak dikerjakan. Kalau dipikir-pikir saya kebalikan dari dia. Untuk bahasa Inggris, saya lebih suka menulis dan membaca (dan menerjemahkan tentu saja) dari pada berbicara. Maklum, karena tidak ada lawan bicara sehari-hari  di rumah atau pun di seputar lingkungan saya, maka bisa dimaklumi dalam bahasa percakapan saya cukup belepotan. 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 14 May 2011 08:22:00 -0700 Belajar Etika Penerjemahan http://dnpusparini.com/belajar-etika-penerjemahan http://dnpusparini.com/belajar-etika-penerjemahan

Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan secara
profesional, saya belum tahu terlalu banyak tentang etika
penerjemahan. Ketidaktahuan itu membuat saya berhati-hati dalam
bertindak. Apalagi yang berhubungan dengan editor dan penerbit.
Maklumlah, sebelum ini saya lebih banyak menerjemahkan modul-modul
kuliah mahasiswa pascasarjana, yang notabene saya bertatap muka
langsung dengan klien, dan hampir semuanya saya kenal cukup dekat, karena sebagian besar tetangga di kompleks perumahan saya.  
Kalau pun ada klien yang betul-betul orang baru, pastilah klien
tersebut diperkenalkan oleh klien lama. Jadi, di sini tidak ada peran
editor atau orang ketiga.

Ketika pertama kali berhubungan dengan penerbit dan editornya, saya
banyak bertanya dengan para senior bagaimana etika berhubungan dan
berkomunikasi dengan editor. Saya paling takut melanggar etika dan
membuat orang kecewa, jadi lebih baik saya agak rewel bertanya. Terima
kasih dan maaf untuk Mbak Rini Nurul Badariah yang paling sering
diganggu oleh kerewelan saya. GBU always, Mbak :-)

Seperti ketika saya menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada
satu kejadian/adegan di mana penulis menggambarkan keahlian seorang
detektif seperti seseorang di dunia nyata, yaitu seorang matematikawan
dari Amerika yang ahli dalam bidang teori permainan dan ahli
memecahkan kode seperti yang sedang dilakukan oleh sang detektif pada
saat itu. Hanya saja ada yang mengganjal saya yaitu nama matematikawan
yang disebut dalam novel tersebut adalah Sam Nash, sementara nama yang
sebenarnya sependek pengetahuan saya dan hasil dari googling untuk
lebih meyakinkan adalah: John Nash. Ada perbedaan nama depan.

Saya lama berpikir, apa yang harus saya lakukan dengan nama ini?
Apakah dibiarkan begitu saja sesuai teks asli di novel tersebut?
Walaupun nama tersebut jelas-jelas salah (setidaknya menurut saya)?
Kalau dibiarkan, saya sendiri merasa tidak tenang. Akhirnya saya
bertanya ke Milis Penerjemah Buku dan menceritakan permasalahannya.
Dari milis inilah saya mendapat input, bahwa sebaiknya tanyakan saja
langsung kepada si pengarang kalau memang ada yang meragukan dalam
novel tersebut. Saya bertanya, siapakah yang lebih pantas bertanya
kepada si pengarang, penerjemah atau editor? Saya khawatir
menyalahi/melangkahi wewenang editor. Kemudian para
senior di sana memberi penjelasan bahwa sebaiknya penerjemah
menyerahkan terjemahan sesempurna mungkin tanpa catatan untuk editor.
Dengan kata lain editor akan senang sekali kalau terjemahan yang
diterimanya sudah 'bersih' tanpa ada catatan. Jadi, kalau memang ada
sesuatu yang meragukan si penerjemah bisa berhubungan langsung dengan
si pengarang tanpa harus menunggu editor.

Setelah mendapat penjelasan yang panjang lebar dari para senior
(penerjemah yang terkadang berperan sebagai editor juga), maka saya
tidak ragu lagi untuk menghubungi pengarang. Di era internet ini,
sudah bisa dipastikan setiap pengarang pasti mempunyai situs pribadi dan
kita bisa menemukannya dalam beberapa detik melalui mesin pencari.
Akhirnya saya menemukan alamat email si pengarang, dan saya langsung
mengiriminya surat minta klarifikasi tentang nama matematikawan
tersebut. Besoknya saya langsung menerima jawabannya.

Hi Desak,
Yes, that was a typo that was corrected in later issues.
Thanks for reading! So glad you enjoyed the book!

Ohh, alangkah leganya, hilang sudah ganjalan saya.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 09 May 2011 05:35:00 -0700 Akhirnya... http://dnpusparini.com/akhirnya http://dnpusparini.com/akhirnya

Setelah selama ini hanya menerjemahkan modul-modul kuliah untuk mahasiswa pascasarjana dan dokumen-dokumen pendek seperti surat perjanjian kontrak, atau pun surat penawaran, dan juga abstrak untuk tesis, akhir bulan Februari kemarin mendapat kesempatan untuk menerjemahkan sebuah novel. Setelah melalui test, saya dinyatakan lulus untuk menerjemahkan sebuah novel yang bergenre thriller detektif. Walaupun saya menyukai hampir semua jenis bacaan, tapi mendapatkan novel dengan genre seperti ini terus  terang membuat saya sangat gembira. Saya memang sangat menyukai bacaan yang seru dan menegangkan, apa lagi ada bumbu-bumbu spionase atau detektif.

Saking gembiranya, saya tidak terlalu memikirkan waktu pengerjaannya. Ketika pihak penerbit memberikan waktu 4 minggu, saya hanya menawar lagi 2 minggu, sehingga waktu yang diberikan adalah 6  minggu untuk novel setebal 411 halaman. Saya pun menerimanya tanpa banyak mikir. Tetapi ketika saya berbincang-bincang dengan penerjemah senior yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi penerjemah, mereka cukup  kaget karena saya berani menerima tenggat waktu yang pendek, Mereka bilang, saya mestinya minta waktu antara 10 minggu sampai 16 minggu. Saya bengong. Ya, ampun, beraninya saya. Tapi karena sudah terlanjur menyanggupi waktu 6 minggu, yah, saya harus bertanggung jawab.

Setelah berjibaku selama 6 minggu, ternyata belum selesai semua, kurang sedikit lagi bab-bab terakhirnya. Saya pun menghubungi editor dan dengan jujur mengatakan ada bab yang belum selesai, dan mengirimkan pekerjaan yang sudah saya selesaikan. Saya  minta tambahan waktu, dan menerima konsekuensinya yaitu terkena pinalti sesuai kesepakatan awal.  Dan, di luar dugaan, saya malah diberikan tambahan waktu lagi dua minggu. Tambahan waktu yang cukup besar itu menyebabkan saya mempunyai kesempatan untuk memeriksa dengan lebih teliti lagi hasil terjemahan tersebut. Saya berterima kasih dengan editor yang telah berbaik hati memberikan tambahan waktu yang cukup longgar, dan saya pun bertekad untuk membuat sang editor tidak terlalu berat menyunting pekerjaan saya. Dan, ternyata lagi... saya tidak dikenai pinalti :-)

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 05 May 2011 08:59:00 -0700 Kelebihan spasi yang bikin bingung http://dnpusparini.com/kelebihan-spasi-yang-bikin-bingung http://dnpusparini.com/kelebihan-spasi-yang-bikin-bingung

Hari Minggu kemarin ini, saya "ditodong" lagi, menerjemahkan sebuah
dokumen surat perjanjian, dengan tenggat waktu yang sangat pendek
(pendek menurut saya karena belum begitu lama masuk ke dunia
penerjemahan) dan lagi-lagi saya tidak kuasa menolak. Seorang bapak,
dan saya kenal baik dengan istrinya, inilah penyebab utama saya tidak
bisa menolak. Istrinya mantan murid privat saya dan saya pernah
diminta me-review tesisnya saat dia mencari gelar Master Pendidikan.
Dan, si bapak ini datangnya menjelang sore, minta terjemahannya supaya
selesai malam itu, karena akan dipakai esok paginya pukul 7.30.

Saya sempat menolak kalau tidak dikasih waktu yang lebih panjang,
tapi.....pandangannya yang memelas membuat saya tidak tega. Saya
merasa tidak enak, pikir saya, kalau tidak perlu sekali, tidak mungkin
dia memohon-mohon seperti itu. Padahal hari Minggu itu saya punya
jadwal menyetrika, setrikaan yang menggunung :-)
Tapi akhirnya perasaan yang menang. Hanya saja saya bilang, saya akan
usahakan selesai malam itu, kalau tidak bisa, paling telat esok
paginya pukul 7.00. Saya membaca dan mempelajari teks tersebut yang
jumlahnya 5 halaman A4 dengan jarak spasi 1,5 terdiri dari 7 pasal.
Sebuah surat kontrak perjanjian kerja sama antara sebuah hotel dengan
sebuah perusahaan yang akan melakukan perawatan (maintain) untuk semua
kolam renang yang ada di hotel tersebut. Si bapak ini mewakili pihak
perusahaan.

Saya pun mulai mengerjakannya. Di awal-awal lancar-lancar saja, dan
saya bersyukur teksnya tidak terlalu sulit, dan yakin pasti bisa
selesai malam itu. Sampai kemudian saya menemukan sebuah frasa yang
membuat saya bingung.


"The amount is subject to any applicable with holding taxes will be
on the FIRST PARTY’S account."


Yang membingungkan adalah "with holding taxes", maklum, saya kurang
familiar dengan bahasa-bahasa hukum. Saya berusaha googling dan
mencari makna frasa itu. Tapi nihil!. Sekian menit saya terpaku di
frasa tersebut. Mulai panas dingin, khawatir tidak bisa selesai malam
itu. Aduh, gawat! Sempat bertanya sama seorang teman yang kebetulan
sedang online, tapi dia sendiri juga ragu, dan tidak berani memberi
saran. Karena dia juga awam dengan kalimat-kalimat dalam bahasa hukum.
Di tengah-tengah kebingungan, tiba-tiba saya melihat ID adik saya
online di Gtalk. Wah, ada harapan. Saya langsung nge-chat dia dan
menanyakan frasa tersebut. Saya menyalin-rekat satu kalimat tersebut
supaya adik saya bisa melihat konteksnya dengan jelas.

Dan, setelah membacanya, adik saya langsung tahu bahwa ada kesalahan
ketik dalam teks sumber. Seharusnya "with holding" itu adalah satu
kata yaitu "withholding", tanpa spasi, "withholding taxes"!
Oalah.....pastesan. Selanjutnya, begitu saya googling
frasa"withholding taxes", tidak sampai beberapa detik, muncullah
rujukannya dari The Free Dictionary dengan penjelasan yang sangat
lengkap, dan sangat sesuai dengan konteks.

Waduh....ternyata, kelebihan satu spasi dalam teks sumber, bisa
membuat kita kalang kabut. :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 01 May 2011 21:31:00 -0700 Terima kasih teman-temanku yang hebat http://dnpusparini.com/terima-kasih-teman-temanku-yang-hebat http://dnpusparini.com/terima-kasih-teman-temanku-yang-hebat

Saya sudah memilih dan memutuskan untuk masuk ke dunia penerjemahan
dengan serius dan menjadikan penerjemah sebagai sebuah profesi. Sebuah
dunia yang saya impikan sejak remaja dan baru-baru ini saja menemukan
jalannya. Khususnya sebagai penerjemah buku/novel. Yang lebih
menggembirakan, setelah bergabung dengan milis Bahtera, yaitu sebuah
milis tentang Bahasa dan Terjemahan, wawasan saya makin bertambah dan
teman-teman pun bertambah pula.


Bagi saya teman dan sahabat sangat berarti. Mereka begitu baik dan
siap membantu kapan saja sebisa mereka. Sungguh pengalaman yang tak
terlupakan, ketika saya sedang menerjemahkan sebuah novel yang
bergenre thriller detektif. Dalam novel ini begitu banyak ada
istilah-istilah dan idiom-idiom yang berhubungan dengan dunia
kriminal. Bila ada istilah atau idiom yang tidak saya mengerti, saya
mengandalkan The Free Dictionary atau pun beberapa kamus online, dan
biasanya saya selalu menemukan jawabannya. Tetapi terkadang apa yang
saya cari, tidak ketemu, mentok dan membuat saya hampir frustasi. Dan
kalau sudah begini, biasanya saya 'lari' ke teman-teman saya yang baik
hati. Dan mereka dengan senang hati membantu menjawab pertanyaan saya,
baik berupa rujukan atau pun sebuah pendapat. Di era komunikasi
canggih ini, kami bisa berdiskusi lewat banyak media, apakah itu YM,
Gtalk, BBM atau pun FB.


Untuk itu, saya merasa perlu menghaturkan terima kasih yang tak
terhingga untuk Mas Ivan Lanin, Sang Pendekar Bahasa, yang sering 'digedor' dengan berbagai pertanyaan, dan memberikan rujukan-rujukannya yang tepat dan selalu membuat pertanyaan saya terjawab. Saya sering takjub juga, sesuatu yang saya tanyakan, yang sebelumnya saya sudah berusaha mencari
sendiri sekian lama, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Namun, ketika saya menanyakan kepada Mas Ivan, dengan entengnya
memberi jawaban dan jawaban tersebut sangat tepat sesuai konteks yang
saya butuhkan!  


Terima kasih juga kepada Mas Narpati Wisjnu Ari Pradana, seorang
Bahterawan walaupun bukan penerjemah tapi sering memberi masukan
kepada para Bahterawan yang bertanya di milis. Bagi saya Mas Narpati
ini teman diskusi yang baik, bersedia meluangkan waktu untuk
mendiskusikan pertanyaan saya di sela-sela kesibukannya sebagai
seorang programmer. Dan dalam menanggapi sebuah pertanyaan selalu
memberikan argumentasi lengkap dengan rujukannya. Biasanya umpan balik
darinya mampu memberi saya inspirasi dan membuat pikiran jadi lebih
terbuka, yang pada akhirnya membuat proses penerjemahan jadi lebih
mudah. Yang paling mengesankan, ketika saya mentok harus menerjemahkan
sebuah puisi klasik yang merupakan bagian dari isi novel, Mas Narpati
ini bisa memberikan masukan yang sangat berharga. Kemampuannya dalam
mengartikan frasa-frasa sulit (setidaknya sulit menurut saya) dalam
bahasa Inggris kuno di puisi tersebut, sangat membantu saya dalam
memahami is puisi itu secara keseluruhan. Sekali lagi terima kasih.


Kemudian Mbak Rini Nurul Badariah, you are the best, sist. Belum kenal
terlalu lama, tapi entah kenapa saya merasa begitu dekat seolah-olah
sudah kenal sangat lama. Saya merasakan aura positifnya dan kebaikan
hatinya walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung. Teman
ngobrol yang enak dengan canda-candanya yang menyegarkan, teman curhat
(dalam hal penerjemahan, tentu saja). Mbak Rini ini sangat banyak
memberikan masukan dari sudut pandang editor. Biasanya kami ngobrol di
YM, di sela-sela kesibukannya. Selain sebagai penerjemah Mbak Rini ini
berperan sebagai editor juga. Sehingga masukan dan ilmu yang saya
dapat sangat membantu dan bermanfaat bagi saya yang termasuk pemula
ini. Terima kasih teman-temanku, sungguh indah sebuah pertemanan.
Yakinlah, Tuhan akan membalas segala kebaikan kalian.


Dan tentu saya juga berterima kasih kepada adik bungsu saya, Dewa
Indrayana, yang amat banyak membantu dan mendukung saya untuk menjadi
seorang penerjemah yang baik. Dari adik ini juga saya belajar
mengkonversi (mengonversi?) file dari file yang ber-format .jpg atau pun .pdf menjadi format .doc. Dan biasanya si adik ini menjadi tempat terakhir untuk bertanya, apabila teman-teman saya juga mentok dengan pertanyaan yang saya ajukan :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 29 Apr 2011 01:28:00 -0700 Ah, masa ibu ngga tahu sih?? http://dnpusparini.com/ah-masa-ibu-ngga-tahu-sih http://dnpusparini.com/ah-masa-ibu-ngga-tahu-sih

Malam itu saya sedang asyik di depan laptop, fokus dan konsentrasi
tinggi, karena harus menerjemahkan sebuah puisi klasik yang merupakan
bagian dari novel yang sedang saya terjemahkan. Puisi klasik karya
John Donne ini betul-betul memeras pikiran. Dan puisinya bukan hanya
satu, tapi ada beberapa puisi klasik. Masalahnya saya sama sekali
tidak "nyastra", tidak punya jiwa sastrawan, kurang puitis. Ketika
tiba-tiba anak saya berteriak dari depan komputernya, menanyakan
sesuatu.
"Bu, apa bahasa Inggrisnya 'sadis'?"
Saya jawab, "Sadist, terrific."
"Bagaimana penulisannya?"
Saya pun mengejanya, huruf demi huruf, dengan pandangan masih tetap ke
layar laptop, seakan-akan takut tulisan yang ada di layar akan hilang.
Hening sejenak, hanya ada alunan lagu dari Michael Jackson, ketika
anak saya berteriak lagi menanyakan sesuatu.
Tanpa mendengar jelas apa yang ditanyakan, masih dengan tatapan ke
layar laptop, saya langsung menjawab, "Ibu ngga tahu, coba aja cari
sendiri di kamus."
Seperti tidak terima dengan jawaban saya, dia menjawab, "Ih, ibu kan
penerjemah, kuliah di jurusan penerjemahan pula, masa ngga tahu sih??"
"Eh, ibu ini penerjemah, bukan kamus hidup lho. Lagian usaha dong, ada
internet, ada begitu banyak kamus online di internet. Kan ibu sudah
kasih tahu alamat situsnya. Ibu lagi stress nih,"
Saya langsung teringat dengan sebuah kalimat yang saya dengar di milis
Bahtera, entah siapa yang mengucapkan pertama kali. I am a translator,
not a walking dictionary.
Benar juga. Penerjemah tetaplah manusia biasa dengan segala
keterbatasannya, bukan sebuah kamus berjalan.
Saya pun melanjutkan pekerjaan. Sambil sesekali melirik anak yang
posisinya agak jauh di depan saya. Rupanya dia sedang mengerjakan
tugas sekolah, tugas menerjemahkan tapi bukan tugas sekolahnya
sendiri, melainkan tugas temannya, teman lain sekolah. Rajin amat anak
saya. Alasannya, dia kasihan ama temannya yang alergi dengan
pelajaran Bahasa Inggris. Di samping itu, dia bilang, dia suka
menerjemahkan. Wah, mulai ketularan nih.
"Kalau gitu, besok-besok bantuin ibu aja yaa.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 21 Feb 2011 00:51:00 -0800 Diskusi saat ngantri : "Penerjemah, Editor dan Reviewer" http://dnpusparini.com/diskusi-saat-ngantre-penerjemah-editor-dan-re http://dnpusparini.com/diskusi-saat-ngantre-penerjemah-editor-dan-re

Menunggu memang membosankan. Seperti siang tadi ketika saya membayar pajak di Bank, kemudian menyetorkan laporannya ke Kantor Pajak, tidak pernah tidak ngantri. Biasanya selalu ada sebuah buku di dalam tas saya agar ada yang dibaca untuk mengantisipasi situasi seperti ini. Tapi hari ini, karena ganti tas dan tadi agak terburu-buru saya tidak mengecek apakah masih ada buku di dalam tas saya. Ternyata tidak ada. Mata saya jelalatan ke sekeliling ruangan mencari sesuatu untuk dibaca. Biasanya ada beberapa koran di pojok-pojok ruangan, tapi hari ini tidak nampak selembar koran pun. Saya bingung apa yang harus dilakukan untuk membunuh waktu.

Akhirnya, saya ambil BB, menghubungi adik saya  dan membuka sebuah topik diskusi lewat BBM. Saya bercerita bahwa beberapa hari yang lalu sempat membaca tulisan seorang blogger di blog-nya yang me-review dan mengkritik terjemahan sebuah memoar dari tokoh musik dunia yang terkenal. Menurut saya yang masih awam ini, selain mengkritik si penerjemah semestinya blogger tersebut menyalahkan sang editor dan reviewer juga, karena bukankah sebelum naik cetak naskah tersebut harus melewati tangan mereka? Adik saya yang juga hobi membaca dan lebih suka membaca versi aslinya daripada terjemahannya (bukan sok nginggris tapi gara-gara beberapa kali kebingungan membaca buku terjemahan, terutama buku-buku non fiksi). Saya pun bercerita sedikit tentang hal-hal yang digarisbawahi oleh blogger tersebut. Saya kurang setuju kalau hanya si penerjemah saja yang disalahkan, karena ada editor dan reviewer yang juga ikut bertanggung jawab sebelum sebuah karya terjemahan naik cetak.

Ternyata adik saya kurang sependapat. Katanya penerjemah tidak bisa "menggantungkan diri" sepenuhnya kepada editor ataupun reviewer. Sebab ada kemungkinan, mereka tidak sempat membaca semuanya walaupun itu adalah tugas utamanya. Penyebabnya bisa jadi karena begitu banyak naskah yang harus ditangani, sementara deadline mengejar terus, sehingga kondisi ideal, dimana editor seharusnya  menyunting dengan seksama, tidak bisa tercapai. Dan, mereka terpaksa hanya sampling check saja di beberapa bagian, misalnya.

Jadi, menurut adik saya, penerjemah harus semaksimal mungkin berbuat dengan kata lain, anggap saja tidak ada editor dan reviewer tapi terjemahan tersebut harus tetap layak dibaca. Kenapa demikian? Sebab kalau buku itu sudah beredar dan kalau masyarakat pembaca menganggap ada sesuatu yang salah, at the end beban ada pada si penerjemah, bukan pada editor dan reviewer.  Karena pertanyaan yang umum ditanyakan oleh masyarakat pembaca pastilah : “Siapa penerjemah buku XXXX? Bagus sekali lho terjemahannya.” Dan bukannya: “Siapa editor buku XXXX?”

Yah, harus diakui memang benar apa yang dikatakan adik saya, hanya saja dalam hati saya merasa ada sedikit ketidakadilan kalau 100% kesalahan ditimpakan kepada si penerjemah, sementara editor dan reviewer tidak disebut sama sekali keberadaannya.

Tapi walaupun demikian, saya sangat setuju bahwa penerjemah memang harus berusaha maksimal supaya hasil terjemahannya sesedikit mungkin mendapat sentuhan editor. Kalau bisa sih, supaya tidak dikutak-katik lagi karena editor tidak punya alasan untuk mengutak-atiknya. J

(Hanya sebuah pendapat dari seseorang yang masih awam dan sedang belajar menjadi penerjemah yang baik)

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 03 Feb 2011 22:25:00 -0800 Menatah Makna http://dnpusparini.com/menatah-makna http://dnpusparini.com/menatah-makna

Jilid_final-half

Buku Menatah Makna (MM) ini memuat tulisan beberapa anggota milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan IndonesiA), yang berisi tentang pengalaman dan suka duka menjadi menjadi seorang penerjemah atau pun juru bahasa. Juga ada tulisan yang menguraikan bagaimana daya tarik profesi penerjemah ini. Buku MM  merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya yaitu Tersesat Membawa Nikmat yang terbit setahun lalu.

Saya yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan dan sedang belajar menjadi penerjemah yang baik, menyumbang dua tulisan di buku MM ini. Penerjemah merupakan profesi yang saya impikan sejak masih remaja, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana dan bagaimana caranya. Semua saya tuangkan dalam tulisan itu.

Kemudian dalam tulisan satu lagi, saya menceritakan saat-saat saya menerima terjemahan untuk pertama kali, lumayan kalang kabut karena saat itu belum menjadi anggota milis Bahtera sehingga tidak ada tempat untuk bertanya. 

Hari-hari selanjutnya saya tidak pernah absen membua milis, menyerap ilmu dari para senior yang sedang membahas atau mendiskusikan sesuatu. Berkenalan dengan penerjemah-penerjemah profesional membuat saya selalu lebih semangat dan seperti mendapat energi baru dari mereka.

Buku ini sedang naik cetak dan diperkirakan akan mulai beredar pada minggu ke tiga Februari ini. Untuk pemesanan bisa kontak langsung ke Ibu Sofia F. Mansoor, email : sofiamansoor@gmail.com (sofiamansoor at gmail dot com).

(sumber : http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 13 Jan 2011 20:38:00 -0800 Syukur dan Terima Kasih http://dnpusparini.com/syukurlah http://dnpusparini.com/syukurlah

Pengumuman hasil UAS periode 2010.2 yang saya tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Yang membuat saya was-was adalah mata kuliah Instroduction to Linguistic dan Semantic, yang saya tunda-tunda terus pengambilannya. Seharusnya mata kuliah ini diambil di semester-semester sebelumnya, tetapi berhubung saya agak kurang menyukainya a.k.a males mempelajarinya, maka akhirnya selalu ditunda. Saya malah menghabiskan mata kuliah Translation yang jumlahnya sepuluh yaitu dari Translation I sampai dengan Translation X, yang seharusnya diambil belakangan.

Tetapi, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka saya harus mengambil mata kuliah tersebut, karena mata kuliah yang lain belum ditawarkan di semester itu. Yang jadi masalah kemudian adalah, pada saat yang bersamaan saya menerima terjemahan dan tenggat waktunya sudah mepet sekali. Saya mulai bingung membagi waktu antara mempelajari materi Introduction to Linguistic dan Semantic tersebut dengan mengerjakan terjemahan yang sudah saya janjikan. Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan, saya tidak ingin klien kehilangan kepercayaan kepada saya bila saya telat mengirimkan hasil terjemahannya.

Semua modul kuliah yang saya punya berupa e-book, dan....ternyata, modul untuk kedua mata kuliah tersebut tidak ada, alias saya tidak mempunyainya. Tambah panik, karena ujiannya dua hari lagi. Saya tahu di internet pasti banyak ada materi tentang itu, hanya saja kembali ke masalah waktu untuk mengubek-ubek di google. Saya menyesali diri yang kurang pandai dalam membagi waktu kemarin-kemarinnya, dasarnya sih...karena emang kurang interes dengan mata kuliah tersebut.
Dalam kebingungan saya ingat dengan seorang teman Bahterawan, seorang pencinta bahasa, yang baik hati dan tidak sombong :-), yang saya yakin pasti bisa memberikan tautan di internet untuk materi tersebut. Sehingga, saya ngga usah berlama-lama mencarinya. Sehari sebelum hari ujian, saya kirim email dan minta bantuannya. Bener saja, beliau langsung memberikan sebuah tautan, dan........ternyata artikel itu super lengkap membahas materi yang saya butuhkan. Saya membacanya dengan cepat dan mencatat  poin-poinnya, maka jadilah saya belajar dengan sistem SKS alias Sistem Kebut Semalam :-)

Esoknya, saya berangkat ujian dengan cukup lega, karena setidaknya ada "sedikit bekal" yang saya bawa. Dan, saya merasa Tuhan begitu baik, karena soal-soal yang keluar hampir semuanya ada di materi yang saya pelajari malam sebelumnya. Wah, bisa dibayangkan, kalau saja saya tidak dapat tautan dari Bahterawan dermawan tersebut (terima kasih, lho... ) sudah dipastikan saya pasti akan planga-plongo, dan hanya bisa menatap soal-soal dengan bengong.

Dan hasilnya? Kemarin sudah diumumkan, syukurlah... ternyata lulus, walaupun tidak dengan nilai sempurna, tetapi itu sudah sangat cukup bagi saya mengingat histori menjelang ujian :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 25 Dec 2010 23:21:00 -0800 Desember Kelabu (Badai Pasti Berlalu) http://dnpusparini.com/desember-kelabu-badai-pasti-berlalu http://dnpusparini.com/desember-kelabu-badai-pasti-berlalu

Akhir tahun 2010 ini benar-benar penuh cobaan bagi saya. Di awal bulan Desember ini anak saya jatuh sakit, pas bersamaan dengan akhir semester saat pengambilan raport. Karena sakitnya, akhirnya raportnya belum bisa diambil. Dan seperti biasa kalau anak sakit, saya pasti tidak bisa meninggalkannya barang sekejap. Saat-saat sakitnya menjadi cukup berat bagi saya karena di bulan Desember ini ada beberapa Hari Raya Hindu antara lain Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Persiapan upacara adat untuk menyambut hari raya tersebut tidaklah sedikit. Di samping itu, saya sudah terlanjur menerima terjemahan dan saya  minta waktu sesuai dengan kemampuan saya. Dan si klien pun telah menyetujuinya.

Karena sakitnya anak, pekerjaan sedikit terhambat, tetapi saya masih bisa mengatasinya. Lima hari kemudian anak saya sembuh, saya pun lega dan bisa melanjutkan kerja dengan tenang. Tetapi, malangnya, tiga hari kemudian suami saya yang sakit, panas tinggi. Maka, saya pun punya pasien baru. Merawat orang sakit bukanlah pekerjaan yang ringan. Di sela-sela waktu merawat "pasien" saya mencuri-curi waktu untuk melanjutkan menerjemahkan. Karena tenggat waktu makin mepet, saya memang bekerja agak "gila", dan sering sampai subuh. Waktu tidur jadi terpangkas pendek.

Akhirnya selesai juga terjemahan saya. Rabu, 15 Desember, kondisi suami sudah membaik dan hampir pulih. Hasil terjemahan sudah saya kirim. Lega. Sekarang konsentrasi saya ke persiapan menyambut Hari Raya Kuningan tanggal 18 Desember. Saya punya waktu 3 hari untuk melanjutkan persiapan dalam rangka upacara adat untuk Hari Raya Kuningan tersebut.

Tapi apa yang terjadi? Pas sehari sebelum Hari Raya Kuningan, saya terkapar tidak berdaya. Tidak bisa bangun, panas tinggi sampai 41, tensi drop + plus vertigo. Lengkap sudah penderitaan saya. Selama seminggu ke depannya saya betul-betul bed rest.

Selama meringkuk di atas tempat tidur, saya sempat berkontemplasi. Introspeksi diri. Bagaimana saya memperlakukan tubuh saya selama ini, sehingga akhirnya si tubuh betul-betul protes. Dan saya telah berjanji pada diri sendiri, setelah sembuh, akan menjaga dan merawat kesehatan diri dengan lebih baik. Tidak hanya mengajaknya dan memaksanya bekerja mengejar dead line (mentang-mentang lagi seneng-senengnya menerjemahkan).

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 29 Nov 2010 21:09:00 -0800 Datang lagi http://dnpusparini.com/datang-lagi http://dnpusparini.com/datang-lagi

Sungguh menyenangkan rasanya ketika klien yang dokumennya pernah saya terjemahkan datang kembali. Sebagai penerjemah pemula dengan jam terbang yang belum seberapa, hal ini tentu sangat berarti, paling tidak pekerjaan saya tidak mengecewakan. 

Orang yang dulu menerjemahkan surat penawaran dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, yang ditujukan untuk sebuah villa di Ubud datang lagi. Dan, seperti halnya surat terdahulu, kali ini pun datangnya sore-sore juga, dan surat harus sudah diterima keesokan harinya. Kalau terlambat, berarti akan ada pesaing yang lebih dulu masuk. Ketika saya tanya, kenapa waktunya selalu mendesak, katanya informasi yang dia terima memang baru saja. Tapi, kali ini saya lebih "beruntung" karena isi suratnya hampir sama dengan yang dulu, hanya ada sedikit perbedaan pada angka-angka dan nama saja. Sehingga proses penerjemahan ini tidak sampai mengambil waktu satu  jam sudah selesai, yang berarti saya tidak harus begadang untuk menyelesaikannya.
Dan, seperti halnya surat terdahulu, tugas saya pun langsung mengirimkan surat yang sudah diterjemahkan itu  via email ke alamat email villa tersebut, karena waktu yang sudah mendesak.

Saya merasakan kepuasan yang luar biasa ketika esoknya klien tersebut datang ke rumah mengucapkan terima kasih karena surat tersebut sudah diterima oleh si pemilik villa dan penawarannya bisa masuk. Dengan kata lain, dia mendapatkan proyek tersebut sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Sangat menyenangkan melihat klien kita senang, bukan? :-)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini