Ketika buku ini saya terima, saya belum bisa langsung membacanya karena ada pekerjaan mendesak yang harus segera diselesaikan. Tapi karena saya sangat ingin tahu isinya, saya lalu membacanya dengan teknik baca cepat. Teknik ini biasanya saya gunakan ketika hendak menerjemahkan novel/buku sebelum memulai menerjemahkannya.

Kemudian,  setelah ada waktu yang cukup banyak, saya mulai membacanya lagi pelan-pelan. Saya menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat dengan penuh perasaan.  Terkadang ada beberapa  kalimat yang saya baca berulang-ulang untuk meresapi maknanya. Sungguh sebuah novel yang sangat indah!

********

Buku ini bercerita tentang pengalaman perjalanan spiritual sang penulis, Rani Rachmani Moediarta. Mantan wartawati di tiga media Ibu Kota ini beberapa kali meraih penghargaan nasional dan satu penghargaan internasional, yang kini menetap di Pulau Dewata.

Awalnya penulis ingin berlibur ke tempat yang sunyi untuk menyembuhkan rasa galau yang tak terkatakan akibat beban hati yang dialaminya. Seorag psikolog juga telah memvonisnya sebagai orang yang “misfit”, tak selaras… iya, orang yang tak selaras dengan segalanya. Dia merasa seluruh dunia menudingnya.

Dengan bantuan seorang sahabatnya, ia menemukan tempat yang sangat pas untuk berlibur dan berharap bisa menemukan jalan bagi segala permasalahan yang sedang dialaminya. Masalah di kantornya, masalah di keluarganya yang membuatnya merasa begitu nelangsa. Karena beban berat yang ditanggungnya direspon oleh tubuhnya dengan… berbagai penyakit!  Migrain parah dan gangguan liver membuatnya sampai harus masuk rumah sakit.

Di pulau itulah ia bertemu dengan seorang pria Prancis yang mengaku sedang berlibur juga. Mereka kemudian berkenalan tapi anehnya mereka tak terpikir untuk bertukar nama apalagi bertukar alamat. Dalam setiap percakapan  mereka, si pria Prancis memanggilnya dengan sebutan “Lady.” Sedangkan Rani memanggilnya “Avatar” karena pria itu mengaku sebagai “Wizard Avatar” saat perkenalan mereka.

Mulailah petualangannya di pulau terpencil nan indah dan eksotis, di antara debur ombak, padang sabana dan di bawah terik matahari, di sebuah pulau yang terletak di Nusa Tenggara, Pulau Kepa.

Sang Avatar sepertinya memang sudah menunggunya di sana. Dia memberi banyak pelajaran pada Rani tentang bagaimana sebaiknya menjalani hidup ini. Mengajarinya tentang  berbagai teknik dan kearifan kuno dalam melakukan pencarian jati diri dan ketenangan batin. Ada banyak kalimat percakapan mereka yang sangat berkesan bagi saya.

“Kalau hidup ini ibarat sungai, mestinya kita bisa bermain-main saja di tepinya. Cukup berada di pinggir sambil mengamati arusnya dan bukan dengan sengaja mencemplungkan diri ke deras arusnya. Lalu terhanyut dan terapung-apung macam gabus.”

“Karena sungai kehidupan ini bukan hanya berarus deras, melainkan juga tanpa muara. Kalau tak ingin menjadi penonton, cukuplah kita celupkan kaki ke dalam airnya untuk menguji suhu dan memperkirakan kedalamannya. Atau kita bisa melukiskan pemandangan di sana, berkaca di permukaannya atau merenanginya. Tapi jangan biarkan diri kita menjadi sepotong gabus  karena itu akan terasa sangat berat dan tak mungkin bisa melawan arusnya.”

“Sungai kehidupan ini tanpa muara, tiada ujung sampai hidup kita selesai. Bila kita membiarkan  diri terseret arus drama di panggung kehidupan,  kita hanya terombang-ambing ibarat buih, masuk ke dalam pusaran dan berputar-putar di sana.”

“Setiap kita mengeluhkan hidup ini, kita sama saja melawas arus sungai kita sendiri.”

“Di rahim penciptaan, segala sesuatu saling berhubungan layaknya jejaring yang tak pernah diam. Di sana, getaran-getaran serupa akan saling menarik. Pikiran dan kesadaranmu harus diarahkan untuk bergetar dengan frekuenasi yang selaras dengan sesuatu yang kau inginkan. Itulah yang kau undang ke dalam hidupmu sebagai kenyataan. Segala hal di sekitarmu tak lain adalah pantulan-pantulan getaranmu sendiri.”

**********

Tapi siapa sangka, setelah Rani tercerahkan dan menemukan jawaban atas segala permasalahannya, setelah mereka berpisah karena masa cuti Rani telah berakhir dan harus kembali ke Jakarta, ternyataaa… Sang Avatar menghilang begitu saja! Siapa dia sebenarnya? Silakan cari bukunya di toko-toko buku terdekat dan temukan jawabannya di sana. Novel yang sangat indah dan sarat makna ini diterbitkan oleh Exchange (Kaurama Grup).

Saya tercenung. Begitu banyak pelajaran hidup yang  saya dapatkan dari buku ini.  Amat banyak. Sebuah buku yang amat pantas dibaca oleh siapa pun.