Select Page

Dalam terjemahan hukum yang sedang saya kerjakan, ada kata “Milestone” yang merujuk pada suatu tonggak pencapaian dari suatu proyek. Ini berhubungan dengan Manajamen Proyek.  Untuk mengukur kemajuan atau progress suatu proyek harus ada sesuatu sebagai tolok ukurnya.

Dokumen ini adalah surat kontrak antara pihak UNDP dengan Kontraktor  (pelaksana program-program UNDP di suatu area). Dalam kontrak ini tertulis apa saja hak dan kewajiban Kontraktor. Salah satunya adalah pihak Kontraktor harus melaporkan perkembangan proyeknya  dengan tolok ukur tertentu. Di sinilah muncul kata “Milestone”. Saya paham maksudnya tapi agak susah mencari padanannya.

Saya sangat berhati-hati memilih diksi mengingat pentingnya dokumen ini. Saya juga berusaha  menghasilkan terjemahan yang terbaik, jangan sampai bikin kecewa klien. Menurut saya, Milestone dalam konteks ini sangat pas dipadankan dengan “Ukuran Kemajuan Proyek” tapi ini terlalu panjang untuk judul sebuah tabel. Saya pun melakukan riset sana-sini, bertanya pada teman-teman senior dan juga diskusi dengan adik saya. Adik saya ini walaupun bukan penerjemah resmi, tapi menyukai dunia penerjemahan. Suatu saat dia juga ingin menjadi penerjemah. Sekarang waktunya belum memungkinkan untuk terjun langsung sebagai penerjembah.  Karena kebiasaannya membaca buku-buku (berbagai genre) dalam Bahasa Inggris membuatnya mempunyai pengetahuan yang  cukup luas  tentang seluk-beluk Bahasa Inggris.

Ketika saya menanyakan padanan Milestone, dia langsung memberi saya beberapa tautan yang memuat tentang penjelasan Milestone. Dia juga mengatakan bahwa yang paling pas untuk padanan Milestone (dalam konteks ini) adalah Ukuran Kemajuan Proyek. Saya sepakat, tapi saya bilang itu terlalu panjang.

“Bagaimana kalau kita pakai UKEMPRO?” katanya.

“UKEMPRO?”

“Iya, kita buat singkatan sendiri, UKEMPRO = Uji KEMajuan PROyek.”

Saya langsung ngakak.

“Iya, kan sekarang ada banyak singkatan, apa salahnya kita buat satu lagi? Lihatlah, ada begitu banyak singkatan dalam BAHASA.”

Saya masih ngakak. Saya amat mengerti, dia seringkali sangat kesal pada orang-orang yang hanya menyebut BAHASA untuk Bahasa Indonesia. Kalau mereka orang asing, mungkin masih bisa ditolerir. Tapi mereka adalah orang kita, orang Indonesia asli. Itu yang membuatnya geregetan dan tak habis pikir. Dia juga sering gusar ketika membaca banyak singkatan baru bermunculan yang menurutnya sangat aneh, ditambah lagi tiadanya pakem yang pasti dalam pembuatan singkatan-singkatan tersebut. Sehingga terkesan ‘semau gue’.

“Udah tahu kan UFO sekarang sudah diterjemahkan ke dalam BAHASA menjadi BETA?” lanjutnya  lagi.

“BAHASA? BETA?”

Saya tambah ngakak ketika dia menekankan kata “BAHASA”.

“Iya, BETA = BEnda Terbang Asing. Ada juga Sajam (SenjatA taJAM), ada Senpi (SENjata aPI). Coba perhatikan, aturan pembentukannya tidak konsisten, bukan?”

“Iya, siih,” jawab saya. Iya iya, ada banyak yang model begini.

“Nah, kalau kita tambah satu singkatan lagi, tentu tak akan jadi masalah. UKEMPRO,  Ukuran KEMajuan PROyek, kereeeen kann?”

Saya tak bisa menghentikan tawa ngakak saya.

Long live, pembuat singkatan dan pengucap BAHASA!” serunya.

Waduh!

Tentu saja UKEMPRO ini hanya guyon belaka. Dia hanya bercanda, dengan perasaan prihatin dan getir.

Oh,  Bahasa Indonesia-ku tercinta.