Ketika saya menerjemahkan sebuah novel klasik Cina, saya merasa itu adalah novel tersusah yang pernah saya kerjakan. Cerita yang begitu complicated, ada begitu banyak tokoh dengan karakter  yang unik ditambah bahasa Inggrisnya yang kuno.

Ada banyak idiom dan kata-kata bersayap yang berpotensi membuat saya tergelincir kalau tidak berhati-hati. Betapa tidak, ada banyak frasa yang kelihatannya seperti idiom tetapi setelah diperhatikan dengan saksama, makna yang dibutuhkan bukanlah makna idiomnya melainkan makna literalnya. Begitu juga sebaliknya. Saya sempat membicarakan hal ini dengan Editor dan beliau sendiri mengakui bahwa novel ini memang sangat “nyastra” dan relatif sulit diterjemahkan. Untuk itu, Editor yang baik hati ini memberi saya keleluasaan dalam tenggat waktunya.

Setelah menyelesaikan novel tersebut, kali ini saya menerjemahkan novel klasik lagi tapi klasik Jepang.  Dan, sebutan novel tersulit untuk novel terdahulu terpaksa ditarik kembali karena… yang ini jauh lebih sulit. Hikss…. Cerita yang berlatar belakang di zaman kekaisaran Jepang ini benar-benar membuat saya mengerutkan kening berkali-kali. Di samping bahasanya yang sulit (menurut saya), juga bertaburan puisi dan syair-syair.

Ada banyak frasa sulit yang betul-betul memeras otak. Betapa tidak, satu frasa itu bisa merujuk ke beberapa makna sekaligus. Misalnya frasa XXX, di satu alinea frasa tersebut bisa bermakna YYY, tapi di alinea lain frasa itu bermakna ZZZ.

Untuk lebih meyakinkan diri dan menambah wawasan saya melakukan banyak riset.    Dari googling sana-sini saya jadi tahu bahwa novel ini ada buku Reader’s Guide-nya. Wah, pantaslah kening saya sampai berkerut-kerut saat menerjemahkannya. 😀

Dari perjalanan riset yang saya lakukan, saya juga menemukan beberapa blog yang khusus membahas novel ini, yang rupanya dibuat oleh para penggemar beratnya. Pembahasan yang dimuat di blog tersebut sangat membantu saya untuk makin mendalami karakter tokoh-tokohnya. Sejujurnya, blog-blog tersebut amat membantu saya.

Karena hal-hal tersebut, terutama waktu yang saya butuhkan untuk riset cukup banyak,  membuat saya tidak bisa bekerja dengan cepat. Banyak kalimat-kalimat “ajaib” yang membuat saya harus ekstra hati-hati saat menerjemahkannya.

Apakah saya mengeluh? Tentu tidak, sama sekali tidak, saya hanya bercerita. 😉 Saya malah amat bersyukur mendapat kesempatan menerjemahkan novel berat seperti ini karena secara tidak langsung saya mendapat kesempatan belajar untuk banyak hal.

Saya amat berterima kasih karena Editor juga memberikan keleluasaan waktu untuk deadline-nya. Tampaknya beliau amat mengerti bahwa novel ini cukup berat. Novel ini dari penerbit yang sama dengan novel klasik sebelumnya dan datangnya juga bersamaan tapi dengan pesan agar novel klasik Cina itu yang dikerjakan terlebih dahulu. Keduanya cukup tebal dengan font size yang mungil banget.

Terbukti lagi bahwa “senang membacanya tidak berarti mudah menerjemahkannya.” Kutipan ini saya ambil dari sebuah grup penerjemahan di FB. Tapi apa pun itu, saya menikmati proses menerjemahkan ini yang memang menyenangkan sekaligus menantang plus bikin kening sering berkerut. 😉