Tahun-tahun kemarin saya sering begadang sampai subuh untuk mengejar deadline dan beberapa kali sempat tepar karena vertigo. Kenapa demikian? Memangnya saat menerima pekerjaan tidak memperhitungkan waktu pengerjaannya? Sebenarnya semua sudah diperhitungkan. Tapi ternyata ada beberapa kondisi di luar dugaan yang menyebabkan saya agak kalang kabut. Misalnya, saya sudah menerima pekerjaan menerjemahkan sebuah dokumen yang secara teori bisa saya selesaikan dalam seminggu. Namun di luar dugaan, di tengah-tengah pengerjaan dokumen itu, ada pekerjaan yang datang dengan tingkat urgensi tinggi plus “permintaan tolong” yang amat sangat. Seperti pekerjaan mengedit tesis, yang kalau saya tolak, orang itu kemungkinan besar tidak bisa ujian sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan harus menunggu semester depannya, yang artinya dia harus nambah SPP lagi.

Sebenarnya saya bisa saja menolak kalau mampu menguatkan hati. Sayangnya, hati saya tak cukup kuat untuk itu. Saya tak tega menolak orang yang betul-betul butuh bantuan. Akhirnya, dokumen tersebut terpaksa saya letakkan dulu untuk mengerjakan tesis itu agar bisa selesai tepat waktu. Akibatnya bisa diduga. Untuk menyelesaikan dokumen sesuai tenggat waktu yang saya janjikan, saya harus begadang sampai subuh selama beberapa hari. Setelah itu?

Jpeg

Para LOLITA 😀

Teparlah saya. Kasus ini terjadi beberapa kali.

Belakangan saya melakukan evaluasi diri. Saya tak ingin lagi ada kejadian seperti itu. Sekarang setiap menerima terjemahan, saya selalu minta waktu lebih panjang. Kalau ternyata dokumen itu harus selesai dalam waktu cepat dan saya merasa tidak memungkinkan untuk itu, maka lebih baik saya tidak menerimanya. Itu jauh lebih bagus ketimbang saya tidak bisa memenuhi tenggat waktu yang hanya bikin kecewa klien. Atau, kalau memungkinkan saya alihkan pada teman yang saya percayai. Saya tidak ingin memaksakan diri lagi kalau tak mau tepar pada akhirnya. Setiap kali jatuh tepar, saya selalu berjanji pada diri sendiri untuk tak menyiksa tubuh saya lagi dengan mengajaknya begadang sampai subuh. Sayangnya, setiap kali pula saya tak memenuhi janji tersebut.

Kali ini saya benar-benar akan menepati janji. Saya kapok, karena setiap saya sakit akibat kecapekan, vertigo saya kumat dan benar-benar tak bisa bangkit dari tempat tidur. Tak bisa membuka mata. Setiap membuka mata, dinding-dinding rumah serasa hendak runtuh menimpa diri ini. Sengsara sekali kan? Sangat! Sangat menderita!

Sekarang saya harus sadar diri sudah berada dalam kelompok LOLITA (Lolos Lima Puluh Tahun)—meminjam istilah dari seorang teman. Lewat lima puluh tahun? Serius? Susah percaya? Saya sendiri juga hampir tak percaya karena saya tak pernah merasa tua. Mungkin jiwa saya yang selalu muda. Hahaha! Tapi walau penampilan kelihatan muda (ehem), faktor U tetap tak bisa diabaikan. Saya sarus lebih serius menjaga kesehatan dan harus tahu kapan waktunya istirahat. Sekarang ini setiap merasa ngantuk, saya harus bawa tidur. Saya tak mau melawan kantuk seperti yang dulu sering saya lakukan.

Saya juga menyediakan waktu cukup untuk berolah raga bersama komunitas ibu-ibu di kompleks perumahan saya yang mempunyai grup senam dan yoga. Atau kalau pun tidak bisa mengikuti jadwal tersebut karena sesuatu hal, minimal saya jogging di lapangan dekat rumah atau hanya sekadar keliling kompleks perumahan. Yang penting bisa gerak badan karena saya ingin hidup sehat dan tetap bugar.

Ayoo yang JELITA (jelang lima puluh tahun) dan LOLITA (lolos lima puluh tahun), jaga kesehatan tubuh dan mental, dan ciptakan kebahagian-kebahagiaan sendiri agar tetap jelita lahir batin, walau sudah LOLITA.