Minggu lalu, saya sempat tepar dan tidak bisa bangun dari tempat tidur karena vertigo menyerang. Penyebabnya tensi yang drop dan tubuh yang dipaksa begadang.  Sebenarnya saya amat jarang sakit, sekalinya jatuh sakit pasti cukup parah (tidak bisa bangkit dari tempat tidur saya anggap cukup parah).

Saya tahu persis pemicu vertigo saya ini.  Ceritanya, sehari sebelumnya saya baru saja mengirimkan hasil terjemahan kepada editor. Beres. Sorenya, saya iseng-iseng baca-baca lagi terjemahan tersebut,  membaca cepat. Nah, sampai di bab 20, mestinya lanjut ke bab 21, ternyata langsung melompat ke bab 31. Saya kaget dan sadar ada file yang “hilang” sebanyak sepuluh bab. Bukan hilang sebenarnya. Novel yang terdiri dari empatpuluh bab ini, tadinya saat menerjemah saya pisahkan per sepuluh bab sehingga ada empat file. Nah, rupanya saat menggabungkan keempat file itu ada yang tertinggal yaitu file bab 21 sampai dengan bab 30.

Menyadari hal itu saya  merasa tidak enak kepada editor yang sudah saya kirimi file. Saat itu juga saya langsung kontak sang editor, minta maaf bahwa ada bab yang kurang dari file yang sudah saya kirim. Saya janji akan mengirim ulang file yang lengkap sesegera mungkin. Karena menemukan adanya bab-bab yang hilang itu, saya memutuskan untuk mengecek ulang semua bab, khawatir saya melakukan kesalahan lain. Mulailah saya membaca lagi dari awal file sebanyak 300-an halaman A4 satu setengah spasi ini. Saat itu sudah menjelang malam.

Membaca (cepat) sekian ratus halaman tentu butuh waktu yang tidak sedikit, dan saya bertekad untuk menyelesaikannya malam itu juga karena didorong oleh perasaan tak enak.  Sungguh, editor saya ini sangat baik. Beliau sudah memberi saya tenggat waktu yang sangat longgar karena novel klasik Cina yang saya terjemahkan ini memang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Justru karena sikap baiknya ini yang membuat saya merasa tak enak dan tak ingin membuatnya kecewa dan berusaha keras memberikan yang terbaik. Saya merasa jadi orang tak tahu diri kalau bersikap seenaknya.

Waktu serasa berjalan dengan cepat. Saya melirik jam, sudah lewat tengah malam, tapi saya belum selesai. Kira-kira pukul dua subuh, tubuh saya sudah mulai memberi isyarat, lelah. Tapi saya tidak terlalu mengindahkan. Saya masih lanjut membaca. Mendekati  pukul empat saya hampir selesai, tapi… protes dari tubuh makin keras.  Saya tidak kuat lagi, akhirnya saya tinggal tidur.

Paginya, kira-kira pukul enam, saya terbangun. Begitu membuka mata, dinding-dinding kamar serasa mau runtuh. Saya menutup mata. Sesaat kemudian saya coba buka mata lagi. Sama. Dinding seakan mau roboh menimpa saya. Kepala sedikit pusing. Duh! Sadarlah saya bahwa saya “ada dalam masalah.” Vertigo! Saya menutup mata dan menyesali kesalahan saya.

Seharian itu saya sama sekali tak bisa bangkit dari tempat tidur. Tak bisa buka mata. Tapi saya masih tetap bersyukur karena perut/pencernaan saya tidak terganggu. Tidak ada rasa mual. Saya masih bisa merasakan lapar dan itu sangat membantu memulihkan kondisi saya. Beruntung anak saya masih libur semesteran sehingga dia bisa melayani saya dengan baik. Dia paling takut kalau saya sakit.  Kalau sakit begini saya hanya bisa makan bubur dan minum lemon tea sebanyak mungkin. Anak saya dengan telaten membuatkan dan membawakannya ke kamar. Dan saya hanya bisa makan dengan mata tetap terpejam.

Seharian itu saya hanya bisa bedrest. Mungkin inilah cara tubuh “menghukum” dan memaksa saya untuk istrahat. Karena semasih saya bisa bergerak saya tak mungkin mau berdiam diri. Setelah seharian dan semalaman bedrest, esoknya saya hampir pulih 100%. Saya tak minum obat apa pun. Rupanya, hanya dengan beristirahat total, tubuh bisa melakukan “self-healing” dengan syarat saya bisa makan seperti biasa walaupun hanya bubur. Dan minum sebanyak-banyaknya, entah itu air putih atau lemon tea, intinya, harus ada cairan yang cukup banyak masuk ke tubuh. Itu keyakinan saya.

Jumat saya tepar, Sabtu sudah membaik. Nah, hari Minggu saya membuat kesalahan lain lagi. Hari itu saya sudah bisa masak dan saya membuat sambal matah. Kesalahan saya hari itu adalah membuat sambal yang super pedas! Saya lupa saya baru saja pulih, perut sudah dihujani dengan makanan super pedas. Hanya untuk memanjakan lidah saya tidak memikirkan kondisi perut. Akibatnya? Sore harinya saya langsung diare! Menyesal lagi untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi saya terpaksa hanya makan bubur dan teh kental.  Tubuh saya marah lagi karena diperlakukan semena-mena. Diare saya berlanjut sampai hari Selasa. Karena saya tahu penyebabnya, jadi saya merasa tidak perlu minum obat. Cukup teh kental dan oralit buatan sendiri. Hari Rabu sudah mulai membaik, diare sudah berkurang.

Esoknya saya harus mulai bertugas sebagai penguji eksternal untuk pelaksaan UKK (Ujian Kompetensi Keahlian) di sebuah SMK. Saya mikir, gimana kalau besok masih diare? Aduh! Saya sempat bingung. Tapi saya kemudian berdialog dengan diri sendiri, saya berjanji untuk tidak mengulangi sikap semena-mena saya. Saya berdoa, semoga esoknya diare saya sembuh.

Kamis pagi, saya terbangun dalam keadaan segar. Tidak ada tanda-tanda diare. Hari itu saya bisa melaksanakan tugas menjaga pelaksanaan UKK dengan baik tanpa diganggu diare. Saya bisa makan nasi biasa (bukan bubur). Lagi pula, di sekolah tidak mungkin saya mendapatkan bubur. Saya sangat bersyukur diare saya sembuh total tepat pada waktu yang dibutuhkan. Tapi saat makan siang itu, saya menahan diri untuk tidak menyentuh sambal yang tampak sangat mengundang selera. Saya tidak mau membuat kesalahan lagi.

Pelajaran yang saya petik dari apa yang saya alami adalah: jangan pernah mengabaikan isyarat dari tubuh, atau… kita akan menyesal. Masih syukur tubuh saya berbaik hati tidak memberi hukuman berlama-lama.