Beberapa hari yang lalu saya menerjemahkan materi kuliah tentang Laboratory Animal Falicities. Waduh, membaca judulnya saja sudah mulai deg-degan. Baru membaca sebagian, pikiran sudah melayang jauh, membayangkan nasib hewan-hewan itu. Membayangkan rasa sakit yang dideritanya.

Saya menguatkan diri untuk melanjutkan. Menarik napas panjang, sungguh, bukannya bagaimana, saya betul-betul tidak tega membayangkannya. Rasanya tidak adil perlakuan yang diterima oleh hewan-hewan tersebut. Tapi mau bagaimana lagi? Di satu sisi untuk kepentingan umat manusia, hewan-hewan itu memang diperlukan dalam berbagai percobaan, terutama obat-obatan. Tetapi untuk kosmetik semestinya dikurangi penggunaan hewan sebagai percobaan.

 

Dalam materi yang saya terjemahkan ini memang disebutkan bahwa pihak peneliti harus memperlakukan hewan-hewan itu dengan baik. Sebisa mungkin menghindarkan mereka dari rasa sakit dan penderitaan yang tidak perlu. Di akhir eksperimen hewan-hewan itu harus ditangani secara manusiawi.

Kalau dipikir-pikir, sudah sepantasnya kita, manusia, berterima kasih pada hewan-hewan itu yang telah berkorban sebagai percobaan untuk berbagai jenis obat-obatan demi kehidupan manusia.

 

Sepanjang proses menerjemah ini berkali-kali saya mengusap air mata, dan menyebut-nyebut nama Tuhan dalam hati. Lebay-kah saya? Ah, biarlah saya disebut lebay, tidak apa-apa. Saya yang percaya dengan Hukum Karma dan reinkarnasi, hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memperhatikan karma dari hewan-hewan itu dan meningkatkan derajatnya karena telah berkorban (dikorbankan?) demi kebaikan manusia.

Atau, barangkali saya yang terlalu sensitif? Sebagai penyayang binatang, saya memang cepat sekali trenyuh dan sedih setiap melihat binatang yang tersakiti. Pernah suatu hari, saat saya mebanten di sebuah Pura kecil di dekat jembatan di kompleks perumahan, saya melihat seekor anjing duduk di samping pintu masuk Pura dan tidak bergerak.

Dia mengawasi saya, tampaknya dia berusaha beranjak pergi, mungkin dia mengira saya akan menganggunya. Tetapi anjing itu tidak bisa bangun, dia hanya menggonggong kecil dan menatap saya dengan pandangan awas dan ketakutan. Saya sadar kakinya bermasalah. Saya langsung tercekat, bagaimana caranya mencari makan.

Selesai mebanten, saya ngelungsur jajan dari sisa sesajen yang ada di Pura itu dan meletakkannya di dekat anjing tersebut. Pikir saya, sementara kakinya masih sakit dan tidak bisa jalan, setidaknya ada jajan itu yang bisa dimakannya.

Esok paginya, saya ke Pura itu lagi untuk mebanten seperti biasa. Dan, ada pemandangan yang membuat saya menangis, menangis beneran. Anjing yang kemarin itu masih di sana dan sedang berusaha beringsut dari tempat duduknya, dan kakinya bukan hanya sakit, tapi dua kaki belakangnya tidak berfungsi lagi. Dia berusaha berjalan dengan dua kaki depannya saja sehingga tampak seperti anjing laut yang sedang berjalan. Ngesot.Tampak kesakitan. Saya tidak tahu apakah anjing itu dianiaya orang atau karena ditabrak mobil.

Saya tidak bisa menahan air mata yang mengalir. Karena Pura itu terletak di pinggir jalan, saya sembunyi sejenak di sudut Pura, malu dilihat orang-orang yang lewat karena air mata saya susah berhenti mengalir.

Ya, Tuhan, ya Tuhan. Entah apa dosa makhluk itu. Saya percaya dengan karma dan percaya semua makhluk yang hidup di dunia ini dalam rangka membayar karma dan mendapat kesempatan untuk memperbaiki karma. Makhluk apa pun itu.