Lost in Translation

  • Home
  • Contact Me
  • About Me
    • Edit
    • Delete
    • Tags
    • Autopost

    Belajar Etika Penerjemahan

    Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan secara
    profesional, saya belum tahu terlalu banyak tentang etika
    penerjemahan. Ketidaktahuan itu membuat saya berhati-hati dalam
    bertindak. Apalagi yang berhubungan dengan editor dan penerbit.
    Maklumlah, sebelum ini saya lebih banyak menerjemahkan modul-modul
    kuliah mahasiswa pascasarjana, yang notabene saya bertatap muka
    langsung dengan klien, dan hampir semuanya saya kenal cukup dekat, karena sebagian besar tetangga di kompleks perumahan saya.  
    Kalau pun ada klien yang betul-betul orang baru, pastilah klien
    tersebut diperkenalkan oleh klien lama. Jadi, di sini tidak ada peran
    editor atau orang ketiga.

    Ketika pertama kali berhubungan dengan penerbit dan editornya, saya
    banyak bertanya dengan para senior bagaimana etika berhubungan dan
    berkomunikasi dengan editor. Saya paling takut melanggar etika dan
    membuat orang kecewa, jadi lebih baik saya agak rewel bertanya. Terima
    kasih dan maaf untuk Mbak Rini Nurul Badariah yang paling sering
    diganggu oleh kerewelan saya. GBU always, Mbak :-)

    Seperti ketika saya menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada
    satu kejadian/adegan di mana penulis menggambarkan keahlian seorang
    detektif seperti seseorang di dunia nyata, yaitu seorang matematikawan
    dari Amerika yang ahli dalam bidang teori permainan dan ahli
    memecahkan kode seperti yang sedang dilakukan oleh sang detektif pada
    saat itu. Hanya saja ada yang mengganjal saya yaitu nama matematikawan
    yang disebut dalam novel tersebut adalah Sam Nash, sementara nama yang
    sebenarnya sependek pengetahuan saya dan hasil dari googling untuk
    lebih meyakinkan adalah: John Nash. Ada perbedaan nama depan.

    Saya lama berpikir, apa yang harus saya lakukan dengan nama ini?
    Apakah dibiarkan begitu saja sesuai teks asli di novel tersebut?
    Walaupun nama tersebut jelas-jelas salah (setidaknya menurut saya)?
    Kalau dibiarkan, saya sendiri merasa tidak tenang. Akhirnya saya
    bertanya ke Milis Penerjemah Buku dan menceritakan permasalahannya.
    Dari milis inilah saya mendapat input, bahwa sebaiknya tanyakan saja
    langsung kepada si pengarang kalau memang ada yang meragukan dalam
    novel tersebut. Saya bertanya, siapakah yang lebih pantas bertanya
    kepada si pengarang, penerjemah atau editor? Saya khawatir
    menyalahi/melangkahi wewenang editor. Kemudian para
    senior di sana memberi penjelasan bahwa sebaiknya penerjemah
    menyerahkan terjemahan sesempurna mungkin tanpa catatan untuk editor.
    Dengan kata lain editor akan senang sekali kalau terjemahan yang
    diterimanya sudah 'bersih' tanpa ada catatan. Jadi, kalau memang ada
    sesuatu yang meragukan si penerjemah bisa berhubungan langsung dengan
    si pengarang tanpa harus menunggu editor.

    Setelah mendapat penjelasan yang panjang lebar dari para senior
    (penerjemah yang terkadang berperan sebagai editor juga), maka saya
    tidak ragu lagi untuk menghubungi pengarang. Di era internet ini,
    sudah bisa dipastikan setiap pengarang pasti mempunyai situs pribadi dan
    kita bisa menemukannya dalam beberapa detik melalui mesin pencari.
    Akhirnya saya menemukan alamat email si pengarang, dan saya langsung
    mengiriminya surat minta klarifikasi tentang nama matematikawan
    tersebut. Besoknya saya langsung menerima jawabannya.

    Hi Desak,
    Yes, that was a typo that was corrected in later issues.
    Thanks for reading! So glad you enjoyed the book!

    Ohh, alangkah leganya, hilang sudah ganjalan saya.

    Tags » Bahasa dan Terjemahan
    • 14 May 2011
    • Views
    • Permalink
    • Tweet
    • 2 responses
    • Like
    • Comment
    4 months ago ana responded:
    mba, masalah etika penerjemahan ini aku pengen tanya dikit. Di forum sebelah, ada orang2 yang memang suka membaca buku, dan beberapa di antara mereka dengan senang hati menerjemahkan buku yang mereka anggap menarik, yang belum diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Perlu diketahui mungkin, bahwa mereka menerjemahkannya secara amatir dan independen, hasil penerjemahannya pun mereka share secara free. Menurut mba, bolehkah seperti itu??
    4 months ago Desak Pusparini responded:
    Desak Pusparini
    Mbak Ana, terima kasih sudah mampir ke blog saya yang sangat sederhana ini :-)
    Menjawab pertanyaan Mbak Ana, menurut saya pribadi itu tidak masalah sepanjang tidak ada peraturan yang melarang menerjemahkan buku tersebut tanpa seijin si pemilik :-)
  • Desak Pusparini's Space

    Contributed by Desak Pusparini

    • Contributors
    • Dewa Indrayana Desak Pusparini Indra Eni
  • About Desak Pusparini

    seorang ibu yang gemar membaca dan menulis

  • Subscribe via RSS

    Archive

    2012 (9)
    May (2)
    March (3)
    February (3)
    January (1)
    2011 (30)
    December (4)
    November (2)
    October (3)
    August (1)
    July (2)
    June (3)
    May (7)
    April (2)
    February (4)
    January (2)
    2010 (24)
    December (1)
    November (2)
    October (3)
    September (5)
    August (1)
    July (1)
    June (1)
    May (1)
    April (2)
    March (7)
  • My Links

    • My Daughter
    • Familio
    • Me and Friends
    • Bahtera - Bahasa dan terjemahan Indonesia - Asah, asih, asuh
    • nan tak (kalah) penting
    • Web Sweet Web | Kolektor Singa Mati

    Follow Me

      TwitterFacebook

Theme created for Posterous by Obox