Setelah seharian menerjemah, saya santai sejenak dan tidur-tiduran di kamar anak sambil mendengarkan ceritanya tentang kejadian hari itu di kampusnya. Seperti biasa saya selalu menjadi pendengar yang baik, terkadang, jadi ‘korbannya’ yang baik juga 😀

A. “Tadi mata kuliah phlebotomy. Setelah sekian kali gagal, sekarang Ajung sudah bisa ngambil darah lho, Bu.” (katanya senang)

I. “Oh, bisa gagal juga?”

A. “Bisalah, kalau ngga bisa menemukan pembuluh venanya, yaa, ngga akan bisa ngambil darahnya.”

I. “Oh, gitu.”

A.”Orang yang banyak dosa biasanya pembuluh venanya susah ditemukan.”

I. “Heh? Apa hubungannya?”

A.”Iya, karena pembuluh venanya susah ditemukan, terpaksa disuntik di beberapa tempat. Kadang seolah-olah posisi jarum sudah tepat, ternyata bukan. Akibatnya, lengan orang itu terpaksa diobok-obok, suntik sana-sini  sampai bener-bener ketemu posisi yang pas.”

I. “Oh, begitu.” (baru mengerti)

A. “Iya, Ibu berani ngga kalau diambil darahnya?”

-I. “Berani. Kenapa, Ibu mau dipakai praktek?”

A. “Iyaa, lagi ketagihan ngambil darah nih…” (sambil cengar-cengir)

I. “Ketagihan? Kaya’ vampire ajah….”

A. “Hehe, Ibu berani, ngga? Ibu pernah diambil darahnya, ngga?” (ketawa-ketiwi)

I. “Beranilah, walaupun belum pernah diambil darah. Eh, sakit ngga?”

A. “Namanya juga disuntik jarum, ya sakitlah, tapi ngga sakit banget sih. Ngga sesakit kalau kita dicubit.”

Di luar antisipasi saya, tiba-tiba dia mencubit betis saya. Kejadiannya begitu cepat saya bahkan tak melihat dia mendekat. Gerakannya seperti angin saja. Sakittttttt banget cubitannya!

I.”Aduuhh, sakit! Kenapa Ibu dicubit?” (bangkit dari tidur dan terduduk sambil meringis mengusap-usap betis yang tadi dicubit. Terasa perih dan sedikit panas).

A.”Itu untuk perbandingan bahwa dicubit jauh lebih sakit ketimbang disuntik untuk diambil darahnya.”

I. “Walahhhh, ngga usah dicubit jugalah. Ibu kan pernah disuntik, lewat selang infus pula. Ini jauh lebih sakit daripada disuntik biasa.”

Kemudian dia memegang lengan kanan saya, tepatnya mencengkeram. Ya, ampun, tak saya duga cengkeramannya kuat sekali. Dengan gaya bak phlebotomist sejati, dia mengamati dan meraba-raba pembuluh vena saya. Menekannya di beberapa tempat sampai tidak berapa lama kelihatan pembuluh darah yang agak menggelembung. Ditekan-tekannya gelembung itu.

A. “Wah, enak nih. Gampang ngambil darahnya Ibu, ngga perlu perjuangan. Nih, udah kelihatan. Gampang banget! Ngiler Ajung, nih!” (dia berseru gembira).

I. “Berarti Ibu orang yang tak banyak dosa dong. Terbukti dari gampangnya menemukan pembuluh venanya.”

A. (ngakak)

I. “Harus ya lengannya dicengkeram sekuat ini?”

A. “Harus, biar kelihatan jelas pembuluh venanya.  Eh, bentar, bentuk pembuluh vena Ibu agak aneh. Dimana-mana bentuk pembuluh vena orang itu seperti huruf Y. Lah, ini kok huruf Y-nya terbalik?” (dengan nada heran).

I. “Oh, ya? Berarti Ibu manusia aneh bin langka, gitu?”

A. “Dosennya Ajung juga bilang gitu kok. Bentuk pembuluh vena itu seperti huruf Y, dua garis cabangnya menghadap ke atas, dan kakinya yang satu garis itu turun menuju pergelangan. Ibu aneh, nih. Kebalik.”

I. “Ya, sudah, ngga usah dipikirin, wong kenyataannya pembuluh vena Ibu seperti ini, kok.”

Selama ini saya memang hampir tak pernah berhubungan dengan jarum suntik. Terakhir pernah suntik vitamin sekitar 6-7 tahun lalu saat anak masih SD. Waktu itu kondisi saya agak drop, supaya tidak jatuh sakit saya minta dokter untuk suntik vitamin karena beberapa hari ke depannya saya akan disibukkan oleh beberapa upacara adat.

Sebelum itu pernah juga disuntik saat harus melahirkan lewat operasi caesar. Setelah operasi, ada obat antibiotik yang harus disuntikkan lewat selang infus. Sampai sekarang saya masih ingat bagaimana sakitnya ketika obat itu masuk ke pembuluh nadi lewat jarum infus.

Saya bersyukur, sampai saat ini saya tak pernah lagi berurusan dengan jarum suntik. Semoga saja takkan pernah.

Kecuali… untuk jadi ‘korban’ praktek anak, tidak apa-apalah. 😀