Hari Sabtu kemarin saya menghadiri temu Leader di PUC (Pick Up Center) Biogreen Science di Renon. Saya diantar oleh suami dan di-drop di sana karena kebetulan suami ada urusan lain. Sampai di sana saya baru sadar tidak bawa HP. Saya kelupaaan karena saat mau berangkat tadi HP sedang di-charge.

Lalu bagaimana cara saya menghubungi rumah saat minta dijemput nanti ketika acara sudah selesai? Ah, gampang, pikir saya. Saya bisa meminjam HP salah satu temen di sana. Saya pikir ini bukan masalah besar, apalagi tempat acara masih di seputaran Denpasar. Amanlah.

Sore hari, ketika acara sudah selesai, teman yang duduk di sebelah saya menunjukkan HP-nya pada saya. Ada sebuah SMS yang berbunyi:

“Selamat siang, Bu Nyoman, saya anaknya ibu Desak Pusparini. Saya mau nanya, apakah ibu juga ikut temu Leader bersama ibu saya?”

Terus terang saya kaget juga. Bagaimana caranya dia bisa mengetahui nomor HP teman duduk saya? Saya lihat jam masuknya SMS tersebut sekitar pukul 14.00. Dan dia ngirim SMS tersebut dengan HP saya.

Saya langsung nelpon dia sekalian minta dijemput. Begitu dia menerima telpon saya, terdengar nada suaranya antara lega dan kesal. Lega, karena akhirnya saya bisa dihubungi. Kesal, karena saya tidak membawa HP sehingga membuat dia repot, hehehe.

Selama dalam perjalanan pulang, saya bertanya bagaimana cara dia menemukan nomor HP Bu Nyoman yang duduk di sebelah saya karena nomor itu tidak ada di HP saya. Kalau pun ada, bagaimana dia bisa kepikiran untuk menghubungi nomor itu sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa itu Bu Nyoman. Jujur, saya sangat penasaran.

Dia pun bercerita panjang lebar.

Dia baru saja hendak tidur ketika dia melihat HP saya masih nyantol di tempat nge-charge. Hari itu dia pulang pagi setelah dinas malam kemarinnya, tentu saja dia sangat ngantuk. Tapi begitu melihat HP saya, ngantuknya hilang dan dia sedikit panik. Pikirannya langsung kemana-mana. Gimana caranya Ibu nelpon minta dijemput nanti? Ah, Ibu pasti bisa minjem HP di sana. Dia menjawab sendiri pertanyaannya. Tapi… gimana kalau Ibu tidak hapal dengan nomor HP orang-orang rumah? Kalau pun bisa minjem HP, gimana bisa nelpon kalau tidak tahu nomor yang akan dihubungi? Dia jadi galau sendiri.

Akhirnya, dengan terpaksa dia membuka WA di HP saya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Dia mencari grup chat Biogreen Science. Ada beberapa grup WA yang saya ikuti. Pelan-pelan dia melihat judul-judul grup WA tersebut dan mencari kira-kira di mana dia bisa mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Akhirnya, dia menemukan grup chat Leaders Group. Dengan sabar dia meneliti percakapan di sana yang akan memberinya petunjuk. Kesabarannya membuahkan hasil. Dalam salah satu percakapan di sana, tertulis bahwa saya satu grup dengan ibu Nyoman Sudiarti. Masalahnya sekarang, bagaimana caranya dia mencari tahu nomor kontak Bu Nyoman ini?

Dia tak kurang akal. Dia pun melihat daftar “participants” di grup itu dan mencari-cari nama Bu Nyoman ini. Ketemu! Setelah itu, dia langsung nge-add WA Bu Nyoman dan langsung mengirim pesan. Tapi mungkin sedang ada gangguan jaringan, pesan WA tersebut pending. Karena pesan WA tak sampai, dia mencoba nelpon. Telponnya nyambung, cuman tidak terjawab karena HP memang sedang dimatikan suaranya selama acara berlangsung. Jalan terakhir dia mengirim SMS. Dan, setelah acara selesai Bu Nyoman baru membuka HP dan menunjukkan SMS tersebut pada saya.

Saya merasa agak bersalah karena mestinya dia tidur, malah tidak bisa tidur karena sibuk mencari cara untuk bisa menghubungi saya.

“Mestinya Ajung ngga usah sepanik itu, Ibu sudah hapal kok dengan nomor Ibu sendiri.”

“Ajung kan ngga tahu itu. Soalnya dulu Ibu ngga hapal sih dengan nomor sendiri, apalagi dengan nomornya Ajung dan Ajik.”

Di akhir cerita saya memuji caranya menemukan kontak Bu Nyoman. Sambil cengar-cengir di belakang kemudi dia berkata, “Pinter kan Ajung?”

Iya iya, kamu emang pinter, Nak.