Cover SeminarTanggal 20 April 2013 merupakan hari yang penuh sejarah bagi para penerjemah di Bali. Karena pada hari itu terbentuk secara resmi Komda HPI Bali-Nusra, dan yang terpilih sebagai ketua adalah Mbak Rosalina. Selain agenda utama pembentukan Komda, hari itu juga diadakan seminar sehari yang bertajuk Not Lost in Translation.

Ada empat topik yang dibawakan oleh empat orang senior kita yaitu: Ibu Sofia Mansoor (Anggota Kehormatan HPI)  yang membawakan materi “Penerjemah sebagai Sebuah Profesi Yang Menjanjikan”. Yang kedua adalah Bapak I Wayan Ana (Juru Bahasa Senior dan Staf Akademik di Universitas Warmadewa)  yang membawakan makalah “Seluk Beluk Juru Bahasa”. Pembicara ketiga Ibu Anna Wiksmadhara (Sekretaris HPI Pusat) dengan materi “Peran HPI dalam Industri Penerjemahan dan Profesi Penerjemah/Juru Bahasa”. Pembicara terakhir Ibu Naindra Pramudita (Koordinator Bidang Kegiatan HPI) yang membawakan materi “Peran CAT Tools sebagai Alat Bantu Penerjemahan”. Keempat pembicara membawakan materinya dengan menarik, terutama Bapak I Wayan Ana, yang dengan kocaknya menyampaikan pengalamannya sebagai juru bahasa senior dengan segala suka-dukanya. Walaupun dibawakan dengan super duper kocak, tapi sama sekali tidak mengurangi substansi materi. Sangat menarik.

Oh, ya, hari itu juga diluncurkan secara resmi Buku Bahtera 3 yang diberi judul Pesona Penyingkap Makna (PPM). Dalam sesi itu saya sempat diminta menyampaikan sedikit kesan yang berkenaan dengan dua tulisan saya di buku tersebut. Ibu Sofia saat itu membawa beberapa buku PPM (tidak banyak) yang tentu saja langsung diserbu oleh para peserta seminar.

Hari itu acara berlangsung dengan sukses dan seru tentu saja. Sangat berkesan dan tak kan terlupakan (khususnya buat saya), karena hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun saya.  Para sahabat mengucapkan selamat ulang tahun dengan hangat. Saya juga bertemu beberapa teman yang sebelumnya hanya berteman di Facebook.  Yang lucu adalah ketika saya disapa oleh seorang gadis manis, saat coffee break.

“Ibu Desak, ya?”

“Oh, iya iya…” Saya menatapnya sambil berusaha keras mengingat-ingat, saya merasa tak asing dengan wajahnya, tapi siapa gerangan gadis ini. Sekian detik saya tidak  berhasil mengingatnya, dengan nada minta maaf saya bertanya. “Aduh… adik siapa ya?”

Dia tidak langsung menyebut namanya, tapi memberi saya semacam clue. “Kita sama-sama berteman dengan Mr. FB-1, Bu.”

Begitu dia menyebut FB-1 saya langsung teringat siapa dia dan langsung menebak namanya sambil tersenyum, “Gusti Nyoman Ayu, kan?”

“Benar, Bu,” jawabnya sambil tertawa. Kami pun ngobrol sebentar.

Hari itu saya juga ingin bertemu dengan Mahatma, gadis pendiam (setidaknya itu yang ada dalam bayangan saya selama berteman dengannya di FB), yang kuliah di Pascasarjana Terjemahan di Unud. Malam sebelumnya sempat chat dan janji ketemu di tempat seminar. Dia hadir bersama beberapa temannya. Bodohnya, saya lupa menanyakan nomor HP-nya.  Di tempat seminar saya berusaha mencarinya, di antara sekian banyak peserta tentu saja tidak mudah mencari orang yang belum pernah kita temui sebelumnya.

Tapi saya tidak kehabisan akal. Yang saya tahu Gusti Nyoman Ayu dan Mahatma ini satu almamater, walaupun beda angkatan setidaknya mereka pasti saling kenal.  Benar saja, setelah saya bertanya pada Gusti Nyoman Ayu, gadis itu pun menunjukkan saya yang mana Mahatma.  Ketemu deh. Terus, setelah ketemu, kenapa emang? Ya, ngga apa-apa sih, cuman seneng saja  tambah temen baru, dan ngobrol sebentar, hehehe. Dan terbukti bahwa gadis itu ternyata memang pendiam dan sedikit pemalu, seperti dugaan saya. Eh, bener ngga, Mahatma? Atau saya aja yang sok tahu? 😀