Posterous theme by Cory Watilo

I am a human. Not a number. Not a digit

Menentukan rate terjemahan untuk seorang teman ternyata bukanlah perkara mudah. Butuh “kekuatan” besar, bahkan sebagian orang (baca: penerjemah) tidak sanggup melakukannya. :D

Suatu hari seorang teman bertanya apakah punya teman yang biasa menerjemahkan untuk pasangan Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia.  Dia ingin tahu berapa rate untuk pasangan bahasa tersebut. Saya ingat seorang teman penerjemah yang mempunyai agensi dan juga menerima pasangan bahasa itu selain Inggris-Indonesia  dan Indonesia-Inggris.  Terjadilah percakapan sebagai  berikut.

Saya : "Mas, berapa rate untuk terjemahan dari Bhs Jawa ke Bahasa Indonesia?"

AA : "Bahasa Jawa apa, Mbak? Apakah aksaranya atau Jawa tulisan biasa, atau… Jawa apa?"

Saya : "Latin, Mas."

AA : "Bahasa Jawa Madya,  Ngoko atau apa?"

Saya : "Madya."

AA : "Jumlah katanya berapa, Mbak?"

Saya : "Jumlah katanya belum tahu, Mas. Dia baru nanya rate aja dulu, katanya supaya ada bayangan harga."

AA : "Saya sama temen sendiri susah sih bilangnya. Hahahaha.  Gini aja deh, Mbak.  Saya  cuma butuh jumlah kata + budget-nya berapa.  That’s all.  Saya susah bikin rate buat temen."

Saya : "Jangan gitu dong, Mas. Ini bukan buat saya pribadi, tapi orang lain. Nanti kalau untuk saya sendiri, gratis juga boleh" :P

AA :  "Jiaaah!"

Saya : "Standar rate aja, Mas."

AA : "Waduh, sudah dibilangi Mbak Yu ini." (Tetap bersikeras tidak mau menyebut angka)

Saya : "Lha, saya mesti bilang apa ama si temen itu?"

AA : "Hehehe. Bilang aja gitu. Asli saya ini orangnya ngga enakan masalah rate, Mbak. Kecuali sama bule, saya paling kenceng."

Saya : "Ini bukan untuk  saya, tapi teman saya." (Saya berusaha membujuk dan menekankan sekali lagi)

Mas : "Lha, teman Mbak Desak kan seorang teman juga."

Saya : Walah, Dimas ini, tampaknya saya tidak berhasil membujuk dikau untuk menyebut sebuah angka." (Saya menyerah dan misi pun gagal).

AA : "Betul.  I am a human. Not a number. Not a digit."  (LOL!)

Saya : "Hihihi. Sutralah kalau begitu. Saya akan sampaikan jawaban Mas tadi."

 

Siapakah AA ini? Tiada lain tiada bukan Mas Ahnan Alex yang dikenal luas sebagai seorang penerjemah yang rendah hati.

Terbukti bahwa sangat tidak mudah menentukan rate untuk teman, bukan? :D 

Saya mengerti dan sangat memahami “kesulitan” yang dirasakan AA dalam menentukan rate untuk temannya, karena saya sendiri sering mengalami.  Di luar novel, klien saya kebanyakan teman sendiri atau teman dekat suami yang sudah biasa berkunjung ke rumah untuk sekedar  ngobrol-ngobrol.  Saya selalu merasa tidak enak hati setiap menyebutkan harga yang sebenarnya. Barangkali kasihan melihat wajah saya yang tampak gundah-gulana, sampai-sampai salah seorang di antara mereka berkata: "Bu Agung, jangan sungkan-sungkan, buatkan saya nota berapa mestinya saya bayar." (Karena suami saya bernama Agung, teman-teman suami biasa memanggil saya 'Bu Agung.')

Tetapi tetap saja sungkan saya tidak hilang, buntut-buntutnya, saya selalu memberikan harga spesial padahal mereka tidak pernah menawar.  Bukannya tidak butuh uang, siapa sih yang tidak butuh uang? Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, bukan? ;-) Masalahnya, bagaimana caranya menghilangkan perasaan “tidak enak hati” ini?  Susah juga kalau perasaan ikut “bermain” dalam bisnis. Anak saya pernah bilang: “Kalau gini halnya, ibu ngga akan pernah kaya.” :D

 

Satu Malam Tanpa Internet

Sore itu saya sedang menerjemahkan artikel tentang saham dan transparansi laporan keuangan yang merupakan tugas kuliah, milik teman yang kuliah pascasarjana di jurusan Magister Manajemen. Karena materinya yang lumayan berat (menurut saya), saya perlu riset dan banyak browsing untuk mencari referensi terutama istilah-istilah dalam jual-beli saham dan beberapa istilah keuangan. Saat itu hujan lebat dan sesekali terdengar suara petir yang sayup-sayup. Saya sempat was-was dan berniat mematikan modem. Tapi saat itu saya kebetulan menemukan tautan yang dibutuhkan sehingga modem tidak jadi saya matikan. Ketika sedang asyik membaca isi tautan tersebut, tiba-tiba terdengar suara gelegar petir yang maha dahsyat dan hampir bersamaan dengan itu terdengar suara seperti ledakan berasal dari modem.

Saya kaget dan seketika terloncat dari tempat duduk dan refleks mencabut stop kontak listrik. Saya pakai Speedy dengan modem ADSL,  dan saya tahu modem itu sudah mati ketika terdengar suara ledakan tadi. Saya hanya berharap komputer yang sedang saya pakai tidak ikut terbakar. Sekian lama saya tidak berani menyalakan komputer menunggu hujan dan petir mereda. Saya lama tercenung memikirkan pekerjaan saya yang harus segera selesai karena keesokan harinya teman saya itu harus mempresentasikan tugasnya.

Setelah hujan reda saya menelpon langganan tempat saya biasa belanja alat-alat komputer, menanyakan apakah bisa membawakan modem sore itu. Saya sudah memperkirakan jawabannya tapi tetap saja saya mencoba. Benar saja, sore itu (sudah menjelang malam) dia tidak bisa datang dan berjanji akan datang esok pagi dengan membawa modem yang saya minta.  Yah, apa boleh buat, saya pun  mulai melanjutkan kerja minus internet.

Terbiasa dengan internet, terbiasa juga menggunakan kamus-kamus online, cukup tergantung dengan Kateglo dan milis Bahtera, malam itu saya terpaksa hanya mengandalkan kamus offline. Pekerjaan tidak bisa ditunda karena harus selesai esok pagi. Saya sudah berjanji dan tidak mungkin saya ingkari. Tapi saya masih bersyukur, saya sempat membaca isi tautan tadi dan masih ingat dengan poin-poinnya. Dengan bantuan kamus-kamus yang ada, akhirnya menjelang subuh selesai juga pekerjaan saya.

Sempat terpikir, dulu sebelum ada internet para penerjemah senior bisa menghasilkan terjemahan yang luar biasa. Kenapa saya begitu tergantung dengan internet? Apakah karena terlanjur 'manja'? Ah, saya kan hanya memanfaatkan teknologi yang ada? Teknologi akan mubazir kalau tidak dimanfaatkan, bukan? ;-) *Membela diri*

Novel Klasik

Saya baru saja selesai menerjemahkan sebuah novel klasik yang sudah pernah diangkat ke layar lebar oleh Walt Disney. Novel yang sangat menarik dengan tokoh utama yang berkarakter unik. Novel ini bergenre anak-anak, tepatnya novel untuk segala umur (menurut saya). Sebelum mulai menerjemahkan, saya membaca sekilas dan awalnya saya merasa tidak terlalu berat. Tetapi setelah mulai menerjemahkan sekian halaman, mulai bermunculan kalimat-kalimat bersayap yang menjebak. Sepertinya idiom tapi literal, seperti literal tapi kok seperti punya makna lain. Tricky, tapi menyenangkan, karena saya selalu senang menerjemahkan  :-)

Saya memerlukan waktu cukup lama saat mengedit dan memperhalus terjemahan ini. Kadang-kadang saya terpaku cukup lama dalam sebuah kalimat karena tidak puas dengan terjemahannya. Akhirnya, saya menghubungi Mbak Rini Nurul Badariah lewat YM, yang berbaik hati meluangkan waktunya di sela-sela kesibukannya yang luar biasa untuk diskusi dan membagi pengalamannya dalam menerjemahkan buku-buku klasik. Dari Mbak Rini juga saya mendapat pelajaran bahwa buku klasik pada umumnya memang ada banyak kalimat yang menjebak dan harus ekstra hati-hati.  Bagaimana cara menyiasatinya supaya kita betul-betul bisa menangkap maknanya dan sesuai konteks. Pelajaran yang sangat berharga dan Mbak Rini juga memberikan referensi buku apa yang harus dibaca untuk menambah bekal dalam menerjemahkan buku-buku klasik. (Hatur nuhun pisan, Mbak Rini). 

Seperti juga novel terdahulu, saat menerjemahkan novel ini pun saya banyak browsing untuk lebih mengenal dan mendalami karakter masing-masing tokohnya. Tentu tidak susah untuk menemukan data-datanya, ada banyak tulisan tentang novel ini terutama tentang filmnya, karena film ini menembus box office #1 dan mendatangkan pendapatan tertinggi pada saat itu. Tidak mengherankan tentu saja, sebab ceritanya memang sangat menarik dan ada banyak pelajaran hidup di sana.

Saya ingat ketika sedang dalam proses menerjemahkan, ada beberapa adegan yang betul-betul mengharukan dan saya tidak bisa menahan air mata. Ah, barangkali saya terlalu hanyut oleh ceritanya :-) 

Novel klasik yang saya terjemahkan ini adalah novel berseri yang semuanya ada delapan buku, tapi pihak penerbit baru deal empat buku. Rencananya (kalau tidak ada halangan) saya diberi kepercayaan untuk menerjemahkan semua seri novel ini. Mudah-mudahan segera terbit dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Status Keren!

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2011 di jejaring sosial Facebook ada banyak status tentang Hari Sumpah Pemuda. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah status dari Gramedia Pustaka Utama yaitu: "Bisa berbahasa asing itu keren, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan baik & benar itu lebih keren! Selamat Hari Sumpah Pemuda".

Harus diakui bahwa banyak di antara kita yang masih kurang bagus dalam pemakaian Bahasa Indonesia, bahkan seorang dosen (maaf) tidak luput dari kekurangan ini. Seperti yang saya alami beberapa hari yang lalu, ketika mengedit tulisan seorang teman, yang juga seorang dosen. Teman saya ini, seorang ibu yang hampir sebaya dengan saya, minta tolong agar saya menyunting tulisannya. Dulu, saya juga pernah membantu menyunting tesisnya dan beberapa makalahnya sebelum dipresentasikan. Dan anehnya, kesalahan yang sama terjadi lagi. 

Seperti biasa,  sebelum memulai menyunting secara mendetail terlebih dahulu saya membaca secara global dari awal sampai akhir. Rasanya mau menangis ketika melihat tulisannya. Betapa tidak, amat banyak kesalahan-kesalahan mendasar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Si ibu ini sepertinya tidak bisa membedakan penggunaan "di" sebagai awalan atau sebagai penunjuk tempat. Hampir semuanya salah. Penggunaan tanda titik dan koma yang disambung saja dengan kata berikutnya. Penulisan titel kesarjanaan juga salah semua, begitu juga penggunaan huruf kapital. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya tulisan ini.

Saya sempat bingung mesti mulai dari mana, mood saya sempat hilang. Ada rasa kecewa karena tulisan ini dibuat oleh seorang dosen, bukan oleh siswa SD atau SMP. Harus diakui anak saya yang duduk di bangku SMA, jauh lebih tertib bahasanya dari pada si ibu ini. Sambil menatap layar komputer dengan nanar, tangan kiri menyangga dagu dan tangan kanan memainkan mouse untuk menggulung layar naik turun. Sungguh acak kadut. Berkali-kali saya menarik napas panjang. Akhirnya, komputer saya tinggal sebentar, membuat kopi,  untuk menyegarkan otak. 

Saya bukan ahli bahasa, sama sekali bukan dan juga tidak jago bahasa. Tapi... kesalahan-kesalahan yang terjadi ini bukan kesalahan kecil, tapi sangat mendasar.  Saya ingat, sebelumnya sempat ngobrol dengan Mas Ivan Lanin di YM dengan topik ini.  Ternyata Mas Ivan sendiri juga mengalami hal yang sama ketika dimintai tolong mengoreksi draft tesis tiga temannya, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang senada seperti yang saya alami. 

Terbersit pertanyaan, kira-kira apa sebabnya kesalahan-kesalahan "besar" ini bisa terjadi pada orang-orang yang bukan "orang kebanyakan?" Apakah karena mereka kurang peduli dengan Bahasa Indonesia atau menganggap kurang penting, yang terpenting adalah materi atau isi dari tulisan itu? 

Ketika saya menanyakan hal ini,  Mas Ivan menjawab: "Entahlah, Mbak. Saya tidak ingin menghakimi. Saya hanya ingin mengubah keadaan" :-)

Iya iya iya, tentu saja, saya juga tidak ingin menghakimi, karena saya bukan "hakim bahasa", hehehe.  Saya hanyalah orang yang suka dengan bahasa, dan tidak tertutup kemungkinan saya melakukan banyak kesalahan juga :D

 

All The Pretty Girls: Suspense, Thriller, Romance

Cover_pretty_girls

All The Pretty Girls, sebuah novel suspense, thriller dengan sedikit bumbu roman yang manis. Begitu banyak adegan yang menegangkan dan mencekam. Bagaimana para penegak hukum berpacu dengan waktu untuk menghentikan pembunuhan berantai dan berusaha keras mencegah adanya korban-korban berikutnya.  Tokoh penjahat di novel ini dijuluki Si Pencekik dari Selatan karena semua korban dibunuh dengan mencekiknya, dan semua korbannya adalah wanita-wanita cantik dengan ciri-ciri tertentu.

Unsur roman juga terselip di novel ini karena dua tokoh utamanya yaitu Taylor Jackson, seorang Letnan Divisi Pembunuhan dari Kepolisian Kota Nashville, mempunyai hubungan cinta dengan Dr. John Baldwin, seorang profiler FBI. Dalam novel ini dikisahkan kedua orang tersebut sebenarnya sudah menjalin cinta sebelum mereka menangani kasus pembunuhan ini. Tetapi Taylor terpaksa menyembunyikan hubungan kasih mereka di depan rekan-rekannya karena ia takut dinilai yang tidak-tidak oleh teman-temannya. Masalahnya, pada saat penanganan kasus tersebut, pihak Kepolisian Kota Nashville sempat merasa tidak senang dengan ikut campurnya petugas FBI di wilayah mereka. Mereka merasa, untuk apa FBI ikut campur menangani kasus ini, bukankah ini hanya kasus pembunuhan biasa lalu kenapa FBI mesti turun tangan? Merasa merasa sedikit “dilecehkan” dan merasa dianggap kurang mampu. Mereka belum tahu bahwa ini adalah kasus luar biasa yang mengharuskan FBI ikut campur.

Penggemar suspense dan thriller akan terpuaskan oleh novel ini. Alur cerita yang cukup cepat, banyak hal tak terduga, rincian yang sangat detail, sungguh membuat para pembaca akan terpacu dan penasaran.  Selama proses penerjemahan, saya beberapa kali mencoba menduga-duga siapa sebenarnya Si Pencekik ini dan apa motivasinya. Dan beberapa kali pula dugaan saya meleset, padahal sebelumnya, sebagai orang yang gemar membaca novel, dalam beberapa novel  saya berhasil menebak alurnya dan tokoh penjahatnya. Tapi kali ini saya gagal, karena penasaran, akhirnya saya menyelesaikan dulu membacanya sampai akhir setelah itu barulah lanjut menerjemahkan lagi.  Cukup mengagetkan, si tokoh penjahat adalah pria muda yang rupawan dengan senyum menawan. Sehingga ia begitu mudah menjerat para calon korbannya dengan senyum innocent dan wajah malaikatnya.

Tentang rincian yang begitu mendetail dalam novel ini tidaklah mengherankan. Sang penulis, JT.Ellison benar-benar mempersiapkan novelnya dengan sempurna. Melakukan riset yang tidak tanggung-tanggung, terjun langsung ke Kepolisian Kota Nashville dan mendapat bantuan sepenuhnya dari sana. Begitu juga dari FBI, sehingga membuat novel ini begitu hidup. Tidak heran kalau akhirnya JT.Ellison mendapatkan banyak penghargaan dan pujian dari para penulis terkenal lainnya.

All The Pretty Girls adalah buku pertama dari tujuh buku dengan tokoh utama Taylor Jackson. Buku lainnya yaitu: 14, Judas Kiss, The Cold Room, The Immortals, So Close The Hand of Death dan Where All The Dead Lie.

Penasaran dengan kisah lengkapnya? Dapatkan bukunya di toko-toko Gramedia terdekat. Dijamin tidak menyesal *promosi* :-)

 

Proyek "Minta Tolong"

Seminggu yang lalu ada kerabat minta tolong saya untuk menyunting tesisnya. Sudah beberapa kali saya menyunting tesis dan sebenarnya saya menyukai pekerjaan ini. Karena selama menyunting, secara tidak langsung saya menyerap isi dari tesis tersebut dan selalu ada pengetahuan yang bisa saya ambil. Tetapi yang jadi masalah adalah: waktu. Kenapa ya, si pemilik tesis selalu memberikan tenggat waktu yang sangat mepet? Dan kenapa pula saya tidak bisa menolaknya, padahal di waktu yang bersamaan saya sedang mengerjakan terjemahan yang harus segera diselesaikan sesuai janji saya. Sebenarnya, saya sangat ingin menolak atau  minimal minta tenggat waktu yang lebih panjang, tetapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Si pemilik tesis yang baru saja selesai ujian tesis dan sudah dinyatakan lulus, namun ada beberapa perbaikan terutama sekali dalam tata penulisannya. Saat itu dia datang hari Senin, dan hari Rabu berikutnya adalah pendaftaran terakhir untuk wisuda. Sedangkan persyaratan untuk wisuda adalah harus menyertakan tesis yang sudah diperbaiki.

Saya bilang, kenapa mendadak? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sehingga saya punya waktu yang cukup? Dia bilang, dia sudah berusaha memperbaiki sendiri, tetapi ternyata kurang memuaskan sang dosen pembimbing. Akhirnya, karena kepepet dia mencari saya. Dia pernah mendengar dari beberapa temannya bahwa tesis yang saya sunting hampir semuanya lolos dari penilaian dosen pembimbing. Bisa jadi hanya kebetulan, atau gaya penulisan saya cocok dengan selera sang dosen. Saya masih berusaha menawar waktu, karena untuk menolak saya tidak sanggup. Tetapi dengan pandangan memelas dan penuh permintaan tolong, dia bilang, waktu tidak bisa diundur, atau dia terpaksa tidak bisa ikut wisuda periode ini dan harus menunggu periode berikutnya lagi sekian bulan. Untuk itulah dia minta tolong dengan amat sangat. Si pemilik tesis, seorang ibu, guru SMA, kalau menunggu periode berikutnya berarti dia harus bayar SPP lagi disamping rugi waktu. 

Akhir kata, saya pun tidak bisa berkata-kata lagi. Saya selalu tidak sanggup menolak permintaan tolong orang yang betul-betul butuh. Saya merasa jadi orang jahat ketika menolak orang yang butuh bantuan.  Si pemilik menunggui saya kerja. Saya berusaha fokus dan bertekad untuk langsung menyelesaikannya malam itu. Karena esoknya, saya harus fokus ke terjemahan supaya selesai tepat waktu karena sudah berjanji sebelumnya.  Tepat pukul dua subuh, pekerjaan saya selesai. Saya melihat betapa leganya ibu itu. Saya walaupun capek, tapi ikut senang melihat wajahnya yang lega. 

Konsistensi Penokohan Dalam Sebuah Novel

Sebenarnya saya sangat ingin menulis novel. Tetapi nyatanya saya tidak pernah memulai. Ide sudah ada di kepala, hanya saja tidak tahu harus mulai dari mana. Saya sempat menulis beberapa cerpen yang masih tersimpan rapi di hard disk komputer saya. Semua cerpen itu terinspirasi dari kejadian di sekitar saya, atau pun dari cerita dan pengalaman teman-teman. Membuat novel pastilah lebih sulit daripada membuat cerpen, karena yaa...cerpen lebih pendek tentu saja :-). Sedangkan untuk membuat novel, disamping harus memiliki kemampuan menulis juga sedikit banyak harus melakukan riset yang berhubungan dengan cerita dalam novel.

Saya baru saja selesai membaca novel yang setting-nya di Bali dengan tokoh-tokoh utamanya adalah orang-orang Bali. Saya menikmati novel ini dan menyukai bahasanya yang ringan,  bersahaja dan mengalir begitu saja. Membumi. Tetapi ada yang agak mengganggu saya, yaitu tentang latar belakang tokoh utamanya. Di awal-awal disebutkan bahwa sang tokoh ini adalah seorang suami yang sarjana sastra dan sang istri yang sarjana ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh dialog suami istri tersebut:


"Kita berdua sarjana, kau sarjana sastra dan aku sarjana ekonomi...bla...bla...bla."

Kemudian di halaman pertengahan ada percakapan lagi antara pasangan tersebut:

Istri: "Jangan bicara ilmu tata bahasa mentang-mentang kau jurusan Sastra Indonesia. Kagak tamat aja belagu, uh!"
Suami menjawab: "Tidak tamat tapi cerdik pandai."

Dari sini terlihat ada ketidakkonsistenan tokoh 'suami' tersebut. Ternyata tokoh 'suami' itu belum tamat yang berarti seharusnya dia belum sarjana.

Kemudian di halaman lain, salah satu tokohnya yaitu seorang gadis ningrat yang cantik dipanggil dengan nama panggilan 'Gung Geg'. Tetapi, di pertengahan novel ada percakapan yang diucapkan oleh tokoh gadis cantik ini, sebagai berikut:

"Aku sering tidak mengerti dengan segala tetek bengek yang ada di dalam keluarga besarku sebagai keluarga berkasta Brahmana."

Di sini saya melihat ada yang tidak sinkron. Di Bali 'Gung Geg' adalah nama panggilan untuk seorang gadis yang berasal dari kasta/Wangsa Ksatrya (dari Catur Wangsa). Wangsa ini pada umumnya namanya diawali dengan Anak Agung/Anak Agung Ayu/Anak Agung Istri, Cokorda/Cokorda Istri, Dewa/Dewa Ayu/Desak, I Gusti Agung/I Gusti Ngurah, dan ada lagi beberapa yang lainnya. Sedangkan Wangsa Brahmana pada umumnya namanya diawali dengan Ida/Ida Bagus/Ida Ayu. Dan panggilan untuk gadis dari Wangsa Brahmana adalah 'Dayu Geg' atau 'Dayu' saja. (Di sini saya tidak membahas sistem kasta/wangsa, tetapi hanya menyatakan bahwa sistem nama/gelar tersebut masih dipakai dalam masyarakat Bali). 

Jadi, kalau nama panggilannya 'Gung Geg', maka  bisa dipastikan gadis tersebut bukanlah dari Wangsa Brahmana, tetapi dari Wangsa Ksatrya. Saya melihat ada ketidakkonsistenan lagi dalam penokohan di novel ini. Saya tidak bermaksud mencari-cari kesalahan, sama sekali tidak (Lagian, siapa sih saya, mencari-cari kesalahan orang? :-) Saya hanyalah penikmat novel). Saya pun tidak sengaja dan tidak bermaksud mencari-cari ketidakkonsistenan ini. Mungkin hanya kebiasaan saja, setiap saya membaca buku atau novel, nama-nama dan karakter tokohnya langsung melekat di memori saya. Seperti tokoh 'suami' tadi, informasi pertama yang diterima oleh otak saya adalah, si suami itu seorang sarjana. Tetapi, begitu ada informasi lain yang bertentangan dengan informasi pertama, ingatan saya langsung 'protes'. Tanpa sadar, saya mencari data informasi yang pertama untuk mencocokkan dengan informasi yang kedua. Begitu juga tokoh 'Gung Geg' itu. Informasi yang sudah masuk duluan ke dalam memori saya adalah 'Gung Geg' ini dari Wangsa Ksatrya. Tetapi begitu disebutkan bahwa tokoh itu adalah dari Wangsa Brahmana, maka ingatan saya pun 'protes' untuk yang kedua kalinya.

Hal ini menjadi catatan bagi saya bahwa mengarang novel bukanlah perkara gampang. Di samping ide, ada banyak hal yang harus diperhitungkan dan sedikit banyak harus melakukan penelitian juga. Saya selalu salut dengan seseorang yang mampu mengarang novel. Bayangkan, mereka seperti tidak kehabisan kata menyusun sekian ribu atau puluhan ribu kata hingga terbentuklah sebuah novel yang mampu menarik perhatian pembaca.

Terlepas dari ketidakkonsistenan tersebut di atas, novel  ini cukup menghibur dan terutama sekali memberikan saya pelajaran bahwa pengarang harus memperhatikan dengan cermat semua tokoh yang digambarkannya agar tetap konsisten dari awal sampai akhir  (Siapa tahu kelak, saya benar-benar kesampaian menulis sebuah novel) :-)

Menikmati Novel Sambil Belajar

Akhirnya, selesai juga saya membaca novel The Lost Symbol ini yang sudah sangat lama saya inginkan,  tetapi belum kesampaian karena ada pekerjaan yang lebih mendesak. Nah, begitu ada waktu saya langsung 'melahapnya'. Novel setebal 712 halaman karya Dan Brown ketiga dengan tokoh Robert Langdon ini begitu memikat saya. Salah satu faktor yang membuat saya agak lama menyelesaikan membacanya karena saya berlama-lama menikmati setiap kata dan setiap kalimatnya. Bahkan kalau ada yang kurang saya pahami, saya akan membacanya berulang-ulang sampai benar-benar paham. Hal ini saya lakukan, di samping ingin menikmati ceritanya juga ingin mempelajari terjemahannya untuk menambah pengetahuan. Sebagai penerjemah yang baru memasuki dunia penerjemah secara profesional, saya menyadari harus banyak membaca karya-karya terjemahan untuk menambah wawasan dan memperkaya perbendaharaan kata.

Dari sekian ratus halaman itu, ada satu kata yang baru pertama kali saya jumpai yaitu "rampa". Walaupun saya bisa memahami maknanya berdasarkan konteks secara keseluruhan, tapi saya tetap ingin tahu apa definisi "rampa" itu. Dan di Kateglo saya menemukan definisi lengkapnya, saya cek juga di KBBI Daring

ram·pa n titian yg menghubungkan kapal dng dermaga.

Ah, nambah satu lagi kosakata saya.

Sama seperti ketika saya membaca Angels dan Demons, kemudian The Da Vinci Code, lalu The Lost Symbol ini yang merupakan sebuah trilogi, saya selalu terkesima dengan semua gambaran, setting yang begitu hidup dan mempesona. Saya membayangkan betapa riset yang dilakukan oleh Dan Brown untuk menciptakan novel trilogi ini. Hanya ada sedikti perbedaan yaitu, pada saat saya membaca dua novel terdahulu, saya tidak terlalu memperhatikan bahasanya, tetapi lebih fokus pada isinya karena pada saat itu saya belum mengenal Bahtera, belum menjadi anggota milis Bahtera dan belum mengenal seluk-beluk dunia penerjemahan.  Tetapi saat ini beda. Setelah menjadi member milis Bahtera dan hampir setiap hari mengikuti diskusi di sana, saya jadi lebih 'sensitif' dengan bahasa.

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya belajar banyak. Terutama sekali saya memperhatikan kata-kata yang dicetak miring. Saya jadi belajar banyak, bahwa memang ada beberapa kata yang susah dicari padanannya dan dibiarkan saja dalam bahasa aslinya. Saya ingat, ketika menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada beberapa istilah yang susah dicari padanannya dan saya biarkan tetap dalam bahasa aslinya,  Memang, penerjemah disarankan semaksimal mungkin untuk tidak meninggalkan kata-kata dalam bahasa asing, tetapi kalau memang susah dicari padanannya, yah, terpaksa dibiarkan saja daripada dipaksakan diterjemahkan yang malah akan membuat hasil terjemahan jadi aneh.

Begitu besarnya ketertarikan saya akan novel ini dan keinginan untuk mempelajari penerjemahannya, setiap ada frasa baru yang kurang jelas, saya mencari kalimat aslinya di versi bahasa Inggris (saya mempunyai The Lost Symbol versi asli dalam format .pdf). Dan, saya benar-benar menikmati proses membaca novel ini. 

 

 

Editor Dadakan

Dua minggu terakhir ini saya punya murid baru, murid privat komputer. Seperti biasa, murid-murid privat saya selalu membawa pekerjaan kantornya dan materi yang saya ajarkan memang mengikuti apa kebutuhan mereka. Begitu juga yang ini, murid saya adalah karyawati hotel  yang harus membuat berbagai jenis laporan.


Yang menarik adalah, si murid ini terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris tapi lemah dalam tulis-menulis. Karena sebelum menempati posisinya yang sekarang, di tempat kerjanya yang terdahulu, posisinya mengharuskan dia selalu berhubungan langsung dengan tamu-tamu mancanegara dan jarang menulis. Jadi, tidak heran bahasa lisannya cukup bagus.

Nah, ketika dia menempati posisinya yang sekarang, dia harus lebih banyak di depan komputer dan membuat laporan tertulis yang nota bene dalam Bahasa Inggris. Di sinilah dia mulai merasa mengalami kesulitan karena jarangnya menulis dalam Bahasa Inggris, sebab selama ini lebih banyak berkomunikasi secara lisan.  Seperti sore tadi, ketika dia membawa draft pekerjaan kantornya. Sebelum mulai memberi petunjuk tentang bagaimana caranya untuk mengerjakan pekerjaannya itu, terlebih dahulu saya membaca dan memperhatikan dengan seksama supaya saya juga jelas apa yang dibutuhkannya.

Saat itulah saya menyadari ada begitu banyak kesalahan dalam penulisannya, yang tadinya saya kira hanya sebuah typo. Tapi kemudian saya yakin itu bukan typo karena ada begitu banyak kesalahan tulis bahkan untuk kata-kata yang sangat sederhana. Saya merasa bersalah kalau tidak memberitahu kesalahan tulis tersebut. Maka, saya pun menunjukkannya. Eh, dia tertawa dan mengakui kekurangannya. Dia menyadari hal itu karena selama ini dia lebih banyak berkomunikasi secara lisan dan agak lupa dengan penulisannya. 

Akhirnya, sejak itu, selain menjadi guru privatnya, saya juga menjadi editor pribadinya setiap dia membawa dokumen yang hendak dikerjakan. Kalau dipikir-pikir saya kebalikan dari dia. Untuk bahasa Inggris, saya lebih suka menulis dan membaca (dan menerjemahkan tentu saja) dari pada berbicara. Maklum, karena tidak ada lawan bicara sehari-hari  di rumah atau pun di seputar lingkungan saya, maka bisa dimaklumi dalam bahasa percakapan saya cukup belepotan. 

Belajar Etika Penerjemahan

Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan secara
profesional, saya belum tahu terlalu banyak tentang etika
penerjemahan. Ketidaktahuan itu membuat saya berhati-hati dalam
bertindak. Apalagi yang berhubungan dengan editor dan penerbit.
Maklumlah, sebelum ini saya lebih banyak menerjemahkan modul-modul
kuliah mahasiswa pascasarjana, yang notabene saya bertatap muka
langsung dengan klien, dan hampir semuanya saya kenal cukup dekat, karena sebagian besar tetangga di kompleks perumahan saya.  
Kalau pun ada klien yang betul-betul orang baru, pastilah klien
tersebut diperkenalkan oleh klien lama. Jadi, di sini tidak ada peran
editor atau orang ketiga.

Ketika pertama kali berhubungan dengan penerbit dan editornya, saya
banyak bertanya dengan para senior bagaimana etika berhubungan dan
berkomunikasi dengan editor. Saya paling takut melanggar etika dan
membuat orang kecewa, jadi lebih baik saya agak rewel bertanya. Terima
kasih dan maaf untuk Mbak Rini Nurul Badariah yang paling sering
diganggu oleh kerewelan saya. GBU always, Mbak :-)

Seperti ketika saya menerjemahkan sebuah novel thriller detektif, ada
satu kejadian/adegan di mana penulis menggambarkan keahlian seorang
detektif seperti seseorang di dunia nyata, yaitu seorang matematikawan
dari Amerika yang ahli dalam bidang teori permainan dan ahli
memecahkan kode seperti yang sedang dilakukan oleh sang detektif pada
saat itu. Hanya saja ada yang mengganjal saya yaitu nama matematikawan
yang disebut dalam novel tersebut adalah Sam Nash, sementara nama yang
sebenarnya sependek pengetahuan saya dan hasil dari googling untuk
lebih meyakinkan adalah: John Nash. Ada perbedaan nama depan.

Saya lama berpikir, apa yang harus saya lakukan dengan nama ini?
Apakah dibiarkan begitu saja sesuai teks asli di novel tersebut?
Walaupun nama tersebut jelas-jelas salah (setidaknya menurut saya)?
Kalau dibiarkan, saya sendiri merasa tidak tenang. Akhirnya saya
bertanya ke Milis Penerjemah Buku dan menceritakan permasalahannya.
Dari milis inilah saya mendapat input, bahwa sebaiknya tanyakan saja
langsung kepada si pengarang kalau memang ada yang meragukan dalam
novel tersebut. Saya bertanya, siapakah yang lebih pantas bertanya
kepada si pengarang, penerjemah atau editor? Saya khawatir
menyalahi/melangkahi wewenang editor. Kemudian para
senior di sana memberi penjelasan bahwa sebaiknya penerjemah
menyerahkan terjemahan sesempurna mungkin tanpa catatan untuk editor.
Dengan kata lain editor akan senang sekali kalau terjemahan yang
diterimanya sudah 'bersih' tanpa ada catatan. Jadi, kalau memang ada
sesuatu yang meragukan si penerjemah bisa berhubungan langsung dengan
si pengarang tanpa harus menunggu editor.

Setelah mendapat penjelasan yang panjang lebar dari para senior
(penerjemah yang terkadang berperan sebagai editor juga), maka saya
tidak ragu lagi untuk menghubungi pengarang. Di era internet ini,
sudah bisa dipastikan setiap pengarang pasti mempunyai situs pribadi dan
kita bisa menemukannya dalam beberapa detik melalui mesin pencari.
Akhirnya saya menemukan alamat email si pengarang, dan saya langsung
mengiriminya surat minta klarifikasi tentang nama matematikawan
tersebut. Besoknya saya langsung menerima jawabannya.

Hi Desak,
Yes, that was a typo that was corrected in later issues.
Thanks for reading! So glad you enjoyed the book!

Ohh, alangkah leganya, hilang sudah ganjalan saya.